---
title: "44 Juta Pemuda Menganggur: Negeri Ini Minta Ditertawakan?"
url: https://kompasia.com/44-juta-pemuda-menganggur-negeri-ini-minta-ditertawakan/
date: 2025-07-18
modified: 2026-09-03
lang: id
author: "reni hartuti"
description: "Jakarta, 18 Juli 2025 — Ironi tragis terjadi di tengah gegap gempita pesta demokrasi dan janji-janji manis pemerintahan baru: lebih dari 44 juta pemuda Indonesia terperangkap dalam pengangguran, pekerjaan informal,..."
categories:
  - "Politik"
  - "Sosial"
tags:
  - "viral"
image: https://kompasia.com/wp-content/uploads/2025/07/pengangguran-4191394005-1024x683.webp
word_count: 366
---

# 44 Juta Pemuda Menganggur: Negeri Ini Minta Ditertawakan?

**Jakarta, 18 Juli 2025** — Ironi tragis terjadi di tengah gegap gempita pesta demokrasi dan janji-janji manis pemerintahan baru: **lebih dari 44 juta pemuda Indonesia terperangkap dalam pengangguran, pekerjaan informal, dan mimpi yang patah.** Pemerintah mengklaim ekonomi tumbuh, tapi kenyataannya mayoritas generasi muda kini bertanya: “Untuk siapa pertumbuhan ini sebenarnya?”

> “Saya kuliah 4 tahun, IPK 3,6, tapi sekarang kerja serabutan di kafe demi bisa makan. Negara sedang ngelawak atau kami yang dibodohi?” – ujar Aldi (24), lulusan universitas negeri ternama, dalam wawancara dengan *Kompasia.com*.

---

### Data yang Menampar Wajah Pemerintah

- 📉 **16% pemuda usia 15–24 tahun tidak bekerja atau belajar** — dua kali lipat dari Thailand dan Vietnam.

- 💸 59% tenaga kerja nasional ada di sektor **informal**, tanpa jaminan sosial dan dengan gaji < Rp 2 juta/bulan.

- 📉 Tingkat optimisme generasi muda terhadap masa depan Indonesia hanya **58%**, anjlok dari 74% dua tahun lalu.

- 🎓 Setiap tahun, **>3 juta lulusan baru dilempar ke pasar kerja yang nyaris stagnan.**

---

### Viral: #KaburAjaDulu & Gerakan “Indonesia Gelap”

Media sosial dipenuhi tagar **#KaburAjaDulu**, simbol pesimisme dan perlawanan diam-diam generasi Z. Pesannya sederhana namun menyakitkan: **“Negara ini tidak layak ditunggu.”** Fenomena ini memuncak ketika mahasiswa di berbagai kota menggelar aksi “Indonesia Gelap” sebagai respons atas pemangkasan anggaran pendidikan.

> “Pemerintah malah potong anggaran kampus, tapi sibuk tebar dana proyek infrastruktur gajah putih. Kami muak.” – Koordinator aksi, Rizky M., Universitas Airlangga.

---

### Apakah Ini Proyek Gagal Generasi?

Sementara itu, ratusan ribu pemuda pintar memilih **kabur ke luar negeri**: jadi perawat di Jerman, teknisi di Korea, atau sopir pengantar di Dubai. Negara kehilangan talenta, tapi malah bangga menerima remitansi. Inilah yang disebut oleh pengamat sosial sebagai **“kolonialisme terbalik yang disponsori negara.”**

> “Brain drain terjadi karena negara tidak mampu mengurus anak-anak mudanya. Ini bukan salah anak muda. Ini kegagalan sistemik.” – Prof. Ade Rachmat, Sosiolog UI.

---

### Negara Mau Apa? Janji atau Solusi?

Pemerintah lewat Menko Perekonomian sempat menyebut akan “meningkatkan link and match dunia industri,” namun nyaris **tak ada bukti konkret selain seminar dan jargon.** Sementara itu, pemuda tetap mengantre kerja di platform daring dengan bayaran Rp 10.000 per desain.

**Jangan salahkan pemuda kalau mereka menyerah. Salahkan sistem yang membuat mereka kehilangan harapan.**

---

## 📣 Kesimpulan Keras:

> Indonesia tidak kekurangan pemuda cerdas. Indonesia kekurangan kepemimpinan yang berpihak.