Impian tentang Anak-Anak yang Menyukai Buku Daripada Gadget
Dalam dunia fiksi, saya ingin melihat anak-anak kembali menyukai buku dan tidak terlalu bergantung pada gadget. Sebagai penulis cerpen yang sering mengangkat isu keluarga, impian ini muncul dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Di tahun 80-an, saya mulai mengenal buku melalui majalah bekas yang dibeli oleh ayah saya. Saat itu, saya bisa memilih judul yang disukai, dan hal tersebut menjadi awal dari perkenalan saya dengan dunia literasi.
- impian tentang anak-anak yang menyukai buku daripada gadget dalam dunia fiksi, saya ingin melihat anak-anak kembali menyukai buku dan tidak terlalu bergantung pada gadget.
- sebagai penulis cerpen yang sering mengangkat isu keluarga, impian ini muncul dari pengalaman masa kecil saya sendiri.
- di tahun 80-an, saya mulai mengenal buku melalui majalah bekas yang dibeli oleh ayah saya.
- saat itu, saya bisa memilih judul yang disukai, dan hal tersebut menjadi awal dari perkenalan saya dengan dunia literasi.
Daftar Isi
Saya tidak memiliki banyak saudara, hanya satu adik laki-laki. Ayah membuka jasa jahit pakaian di rumah, sedangkan ibu bekerja di pabrik kayu lapis. Membaca buku menjadi cara saya menghindari rasa sepi. Kini, saya berharap anak-anak tidak lagi tergantung pada gadget, meskipun saya mengakui bahwa alat ini memang sangat bermanfaat dalam kemajuan teknologi.
Namun, sebagai orang tua, saya merasa kewalahan dengan dampaknya. Anak tengah saya yang berusia 15 tahun sudah kecanduan game online. Awalnya, dia hanya memainkan 69 pertandingan selama tiga bulan. Sekarang, jumlahnya melonjak menjadi 780 pertandingan dalam satu season. Meski masih bisa menjalani aktivitas normal seperti sekolah, sholat, makan, mandi, dan tidur malam, fokus dan kesadarannya sudah terganggu. Emosinya mudah berubah dan dia juga mudah lupa.
Fakta menunjukkan bahwa 35,57% anak usia dini di Indonesia sudah dapat mengakses internet. Hal ini memprihatinkan, terlebih bagi seorang ibu seperti saya. Saya ingin setahun saja fenomena gadget hilang dari kehidupan anak-anak. Jika mereka menyukai buku, mereka tetap bisa belajar dan memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia. Namun, akses informasi melalui buku tidak secepat melalui internet saat ini.
Di tahun 2026 dalam dunia fiksi, saya berharap anak-anak kembali menyukai buku ketimbang gadget. Toko buku di Jakarta pun tidak akan gulung tikar.
Impian tentang Ibu yang Membacakan Dongeng untuk Anaknya
Arus teknologi semakin deras, sedangkan kehadiran ibu dalam kehidupan sehari-hari anak semakin jarang. Dalam cerpen saya, saya menyampaikan pentingnya peran ibu dalam pola asuh anak. Cerpen Apa Kabarmu Hari Ini Kitty menggambarkan Lisa yang merasa kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja. Dia hanya ditemani pengasuh dan kucing kesayangannya.
Cerpen Quilt, Rasakan Hangatnya Selimut Harapan menceritakan Sally yang terus-menerus sakit karena merindukan kedua orang tuanya. Sewaktu bayi, Sally ditinggalkan begitu saja di depan rumah tetangga yang kemudian merawatnya. Sebelum makan malam, Sally berdoa ingin dipertemukan dengan orang tuanya walaupun hanya lima menit.
Ketidakhadiran ibu dalam kehidupan seorang anak menjadi beban psikologis tersendiri. Seorang ibu yang menjalankan perannya dengan baik dapat mendukung pembentukan karakter anak, perkembangan emosi dan kognitif, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Namun, saat ini banyak ibu yang aktif dalam berbagai profesi dan kegiatan ekonomi, sehingga kehadiran mereka di rumah semakin minim.
Salah satu contoh yang sangat langka saat ini adalah ibu yang membacakan dongeng sebelum tidur. Kelihatannya sepele, namun dongeng dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai positif dan budi pekerti kepada anak. Saya ingin selama setahun saja ini bisa menjadi kenyataan. Biarlah anak-anak mendengar semuanya bukan dari aplikasi gadget, tetapi secara langsung dengan bahasa ibu mereka yang penuh kasih.
Impian tentang Ayah yang Mengajak Anak Laki-Laki Sholat di Masjid
Remaja kekinian, hapal benar apa itu red flag, green flag, family man, soft spoken, dan sebagainya. Di media sosial, berseliweran berbagai konten edukasi hingga psikologi keluarga. Banyak persoalan yang berakar pada kegagalan pembinaan sejak dini terhadap anak laki-laki. Padahal, anak laki-laki akan tumbuh dewasa, membentuk karakter kepemimpinan, serta kelak berperan sebagai ayah sekaligus kepala keluarga.
Mengajak anak laki-laki sholat di masjid sejak dini, dapat membentuk fondasi kepemimpinan, disiplin, dan tanggung jawab. Hal ini kelak tercermin dalam perannya sebagai pribadi dewasa. Figur ayah menjadi role model yang ideal untuk memberikan contoh serta membimbing anaknya. Kehangatan seorang ayah cepat memotivasi sikap mental anak yang sedang tumbuh dan mencari pegangan.
Saat ini, cukup sulit menemukan sosok ayah yang baik. Sebagai seorang ibu, saya sangat terpanggil dan memimpikan 2026 menjadi tahun di mana anak laki-laki berada di masjid bersama ayah mereka, mengenal nilai-nilai spiritual sejak dini.
Bagaimana dengan Anda? Seperti apa 2026 dalam dunia fiksi versi Sahabat Kompasianer?
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Eksplorasi Kedalaman: PT Ewangga Karya Tama Selesaikan Survei Batimetri Strategis di Riau
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
Share this content:
