Renungan Harian Katolik: Bersama Yesus Sang Cahaya
Pada hari Minggu yang khusus ini, kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan dan juga Hari Anak Misioner Sedunia ke-183. Tema yang diangkat adalah “One in Christ, United in Mission,” yang mengajak kita semua untuk bersatu dalam Kristus dan menjalankan misi kasih kepada sesama.
Anak-anak SEKAMI hari ini adalah hari sukacita besar bagi kalian bersama teman-teman di seluruh dunia. Gereja memperingati perayaan ini dengan penuh makna, karena kita menyadari bahwa setiap anak memiliki peran penting dalam mewartakan kasih Tuhan kepada sesama.
Di Indonesia, beberapa pulau terkena dampak bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang. Banyak dari teman-teman kalian yang kehilangan orang tua mereka, rumah mereka hanyut, atau bahkan kampung mereka hilang akibat bencana tersebut. Dalam situasi sulit ini, mereka tidak bisa merayakan Natal, Tahun Baru, atau hari raya lainnya dengan penuh kegembiraan seperti kalian sekarang ini.
Namun, meskipun sedang berduka, Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah mereka untuk memberikan penghiburan dan kekuatan. Kita melalui semangat 2D2K (Doa, Doa, Berdoa, dan Berbagi) tetap bersama mereka dalam semangat solidaritas, kepedulian, dan amal kasih. Meski secara fisik kita tidak bisa menjangkau mereka, kita tetap berdoa dan berbagi dengan mereka, sebagai bentuk dukungan.
Dengan cahaya bintang yang membimbing para pembawa kabar baik, kita semua diingatkan bahwa Tuhan Yesus ada di tengah-tengah mereka. Kita persembahkan hati kita kepada mereka dan apa pun yang bisa kita bagikan untuk menolong mereka. Hanya dengan pemberian yang penuh cinta, sukacita besar akan mereka rasakan, karena Tuhan sendirilah yang menyempurnakan kegembiraan-Nya bagi mereka melalui tindakan kita yang sederhana.
Dalam peduli terhadap sesama yang terdampak bencana alam, kita bersatu erat dengan Tuhan Yesus, lalu mewujudkan ajaran-Nya tentang kasih bagi teman-teman yang menjadi korban. Kita saling menolong, saling menyelamatkan. Allah dalam Yesus memenuhi janji-Nya untuk menyelamatkan semua bangsa. Kita semua yang percaya kepada Anak Allah yang menampakan Diri-Nya hari ini, merasa bahagia dan mau terus erat bersatu dengan Dia sebagai sumber keselamatan kita.
Melalui cahaya bintang para sarjana dari Timur yang bertemu Yesus dan ibu-Nya Maria, mereka sujud menyembah dan memberi persembahan berharga kepada Sang Raja Damai: emas, dupa, dan mur. Persembahan ini menandakan persembahan diri karena sukacita berjumpa dengan Sang Juru Selamat dunia.
Bangsa Israel, yang mengalami kegelapan dan penderitaan di tanah pembuangan, oleh kuasa Tuhan dibimbing kembali bersatu dengan Tuhan. Setelah pulang dari pembuangan, Tuhan membimbing mereka melalui nabi Yesaya agar percaya diri untuk membangun masa depan yang terberkati. Fondasi optimisme iman itu adalah terang dan kemuliaan Tuhan yang telah datang. Persatuan mereka merupakan kesaksian besar bagi bangsa-bangsa bahwa mereka berhimpun bersama untuk menyembah dan memashyurkan nama Tuhan.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, kiranya semua bangsa menyembah Engkau ya Tuhan. Sebab Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, Ia akan membebaskan orang tertindas, dan orang-orang yang tidak punya penolong; Ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, Ia akan menyelamatkan nyawa orang papa.
Nyanyian pemazmur mengungkapkan kemuliaan Tuhan kepada manusia. Santo Paulus menegaskan bahwa dalam Kristus Allah telah menampakan kemuliaan-Nya kepada umat. Rahasia Kristus telah diwahyukan dan para bangsa menjadi pewaris perjanjian. Tuhan telah mengangkat derajat manusia ke dalam relasi pribadi yang erat dengan Allah. Paulus bersyukur atas keterbukaan umat untuk beriman kepada Kristus. Kepenuhan hidup kita hanya ada dalam Kristus.
Kita terus berusaha untuk bersatu dengan Tuhan dan hidup sesuai Injil menjadi cahaya bintang bagi orang lain yang tersesat. Para sarjana mencari Sang Almasih dengan hati yang gembira. Tantangan ada. Walau salah arah, namun tidak hilang fokus pada Sang Cahaya. Bertemu dan bertanya pada Herodes adalah fatal. Namun mereka yakin akan tujuan ziarah suci berjumpa dengan Yang Ilahi. Mereka pun bertemu Dia yang dicari yakni Sang Bintang Sejati.
Dalam kegelapan hidup, kita butuh cahaya ilahi Sang Almasih. Walau dunia makin maju dan berubah serta penuh tantangan, gelora memperjuangkan kebenaran jangan pernah lesu. Terus berjuang membawa cahaya Tuhan kepada dunia yang gelap dan sesama yang menyeret beban kesusahannya. Siapa pun kita dan apa pun yang kita lakukan adalah tugas perutusan untuk mengabdi Tuhan sang pemenuh kehidupan dalam diri sesama yang kita layani.
Anak-anak sahabat Tuhan Yesus terus dibimbing agar menjadi bintang Tuhan dalam dunia melalui misi agung mereka: berdoa dengan setia, dilatih untuk berbagi dengan sesama, berkorban dan saling memberi teladan baik di antara mereka. Dengan demikian cahaya bintang Tuhan takkan pudar, dan sukacita tetap menyelimuti kita walau kadang susah datang menimpa.
Dalam kegembiraan, jangan lupa upaya bertobat. Pertobatan sekecil apa pun pasti mendapat pengampunan dari Tuhan. Kesempurnaan sukacita dalam hidup adalah pertobatan. Selamat pesta penampakan Tuhan. Tuhan berkatimu semua.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
