AA1USGTg.jpg
Operasi TNI di Yahukimo: Penguasaan Markas OPM dan Dampak pada Keamanan Wilayah
Dalam rangka memperkuat stabilitas keamanan di wilayah Papua Pegunungan, TNI berhasil melakukan operasi taktis yang terukur dan presisi. Operasi ini berfokus pada penguasaan markas utama Organisasi Papua Merdeka (OPM) KODAP XVI/Yahukimo di kawasan Jalan Gunung, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Hasil dari operasi ini tidak hanya menjadi capaian militer, tetapi juga langkah strategis untuk memutus rantai komando dan jalur logistik kelompok separatis bersenjata.
Penguasaan markas OPM KODAP XVI/Yahukimo memiliki arti penting dalam mengurangi ancaman terhadap warga sipil dan memastikan keamanan di kawasan rawan konflik. Selain itu, operasi ini juga memberikan harapan baru bagi masyarakat setempat, yang selama ini mengalami gangguan akibat aktivitas kelompok bersenjata.
Peran Strategis KODAP XVI di Wilayah Yahukimo
KODAP XVI/Yahukimo merupakan salah satu struktur penting dalam jaringan OPM di Papua Pegunungan. Wilayah ini dikenal memiliki medan geografis yang sulit dan sering dimanfaatkan sebagai basis persembunyian serta distribusi logistik kelompok bersenjata. Markas KODAP XVI diyakini bukan hanya sebagai tempat singgah, tetapi juga pusat koordinasi berbagai aksi bersenjata.
Beberapa insiden kekerasan, seperti penembakan pesawat, penyerangan aparat, pembakaran fasilitas pendidikan, hingga ancaman terhadap warga sipil, kerap dikaitkan dengan aktivitas kelompok ini. Oleh karena itu, penguasaan markas OPM Yahukimo menjadi langkah strategis untuk melemahkan struktur operasional OPM secara menyeluruh.
Langkah Taktis TNI dalam Operasi Pengamanan
Operasi pengamanan dimulai sejak Rabu malam (21/1/2026) sebagai respons atas meningkatnya ancaman dari kelompok separatis bersenjata. Satgas Koops TNI Habema melakukan infiltrasi ke dua titik yang diduga menjadi basis utama OPM, yakni Markas Sisibia dan Markas Yalenang. Pada Kamis dini hari, pasukan TNI terlibat kontak tembak dengan kelompok OPM yang sedang berpatroli di sekitar lokasi.
Dari hasil operasi tersebut, beberapa anggota OPM KODAP XVI/Yahukimo dilaporkan tewas, termasuk salah satu tokoh penting kelompok tersebut. Panglima Koops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa keberhasilan ini mencerminkan kesiapan prajurit di lapangan. “Keberhasilan merebut dua markas OPM KODAP XVI/Yahukimo ini menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit TNI di medan operasi,” ujarnya.
Selain menguasai wilayah strategis, TNI juga berhasil mengamankan sejumlah senjata api, amunisi, alat komunikasi, perangkat navigasi, telepon genggam, senjata tajam, perlengkapan panah, dokumen, dan atribut OPM, termasuk bendera Bintang Kejora.
Mengapa Jalan Gunung Jadi Titik Kunci Operasi
Penguasaan Jalan Gunung dinilai sebagai langkah taktis untuk memutus ruang gerak OPM. Jalur ini selama ini diduga menjadi lintasan logistik sekaligus akses mobilitas kelompok bersenjata. “Penguasaan Jalan Gunung menjadi langkah strategis untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM serta menjamin keamanan masyarakat di wilayah Yahukimo,” tegas Lucky.
Dengan dikuasainya jalur ini, aktivitas bersenjata OPM diharapkan melemah secara signifikan, sekaligus menurunkan potensi ancaman terhadap warga sipil. Keberhasilan TNI merebut markas OPM Yahukimo membawa harapan baru bagi masyarakat setempat, yang selama ini mengalami gangguan keamanan yang menghambat distribusi logistik, pelayanan publik, dan pembangunan infrastruktur dasar.
Isu Penyanderaan 18 Karyawan Freeport
Sebelumnya, isu penyanderaan 18 karyawan PT Freeport Indonesia di Pos Tower 270, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sempat menjadi perhatian. Kelompok OPM secara terbuka membantah kabar tersebut, dengan Juru Bicara OPM, Sebby Sambom, menegaskan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima laporan resmi dari pasukan OPM di wilayah Mimika terkait isu tersebut.
Di sisi lain, TNI menyatakan bahwa 18 pekerja PT Freeport Indonesia sempat terjebak selama tiga hari akibat ancaman kelompok bersenjata OPM di Pos Tower 270. Situasi ini memaksa aparat melakukan operasi penyelamatan. Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, memastikan seluruh pekerja berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat pada Sabtu (10/1/2026).
Operasi penyelamatan ini dilaksanakan di tengah medan yang sangat sulit dengan tingkat ancaman tinggi serta keterbatasan waktu sebagai faktor krusial. Lucky menegaskan tidak ada korban jiwa dalam operasi tersebut, baik dari kalangan pekerja maupun personel TNI. Dalam narasi TNI, ancaman bersenjata menjadi faktor utama yang tak bisa diabaikan.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
