Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
Subscribe
Close

Search

AA25rdUj.jpg
news

Air dari Perspektif Serageldin, Gleick, Buiter, dan Fitrah

By Redaksi Kompasia
Juni 12, 2026 5 Min Read
Komentar Dinonaktifkan pada Air dari Perspektif Serageldin, Gleick, Buiter, dan Fitrah

Perubahan Peran Air dalam Peradaban Modern

Di abad ke-20, dunia diguncang oleh persaingan untuk menguasai sumber daya energi seperti minyak. Negara-negara besar membangun armada militer, menciptakan aliansi global, dan bahkan menjatuhkan pemerintahan demi mendapatkan akses ke energi fosil. Minyak menjadi bagian dari geopolitik modern, di mana siapa yang menguasai minyak, memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia.

Namun, masuknya abad ke-21 membawa pergeseran pandangan. Banyak pemikir mulai menyadari bahwa sesuatu yang jauh lebih penting daripada minyak mungkin telah muncul. Sesuatu yang lebih mendasar daripada emas, saham, atau teknologi tinggi: air. Air adalah elemen yang selama ini diam-diam menopang seluruh peradaban manusia sejak awal sejarah.

Dulu, banyak orang menganggap air hanya sebagai isu lingkungan, seperti soal sungai, bendungan, irigasi, atau sanitasi. Namun, kini semakin banyak pemikir melihat bahwa air sedang bergerak menjadi pusat pertarungan ekonomi dan geopolitik dunia modern. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam diskusi ini adalah Ismail Serageldin, mantan Wakil Presiden Bank Dunia dan pendiri Bibliotheca Alexandria di Mesir. Ia pernah berkata:

β€œPerang-perang abad berikutnya akan terjadi karena air.”

Pernyataan ini muncul pada awal 1990-an, dan saat itu banyak orang menganggapnya terlalu dramatis. Dunia masih sibuk dengan globalisasi, liberalisasi perdagangan, dan euforia pasca-Perang Dingin. Tapi setelah tiga dekade, peringatan Serageldin terasa semakin nyata. Lihat saja peta dunia hari ini.

Mesir dan Ethiopia bersitegang karena pembangunan bendungan di Sungai Nil. India dan Pakistan memiliki ketegangan panjang terkait Sungai Indus. Turki mengontrol hulu Tigris dan Euphrates. Gaza mengalami krisis air berkepanjangan. Afrika menghadapi konflik akibat kekeringan. Bahkan negara-negara maju mulai mengalami tekanan serius terhadap cadangan air mereka. Dunia mulai sadar: air bukan sekadar kebutuhan biologis.

Air adalah kekuatan geopolitik. Pandangan ini diperkuat oleh Peter H. Gleick dalam artikelnya yang sangat berpengaruh, berjudul Water and Conflict: Fresh Water Resources and International Security. Ia menunjukkan bahwa air bisa menjadi pemicu konflik, alat perang, target perang, bahkan korban perang. Konsep ini sangat relevan dengan perang modern.

Hari ini kita melihat bagaimana infrastruktur air bisa dihancurkan dalam konflik. Bendungan dapat dijadikan alat tekanan politik. Pasokan air bisa diputus untuk melemahkan masyarakat sipil. Sungai lintas negara berubah menjadi sumber ketegangan geopolitik. Air perlahan berubah dari sumber kehidupan menjadi instrumen kekuasaan.

Leonardo da Vinci menyebut air sebagai penggerak seluruh alam, sementara W.H. Auden mengingatkan bahwa ribuan orang mungkin hidup tanpa cinta, tetapi tak satu pun dapat hidup tanpa air. Dalam nada yang lebih spiritual, Jalaludin Rumi melihat manusia bukan sekadar setetes air di lautan, melainkan keseluruhan samudera dalam setetes air.

Namun di era modern, nada reflektif itu berubah menjadi nada peringatan. Ismail Serageldin memperingatkan bahwa perang abad mendatang akan berkaitan dengan air, Peter H. Gleick menjelaskan bagaimana air dapat berubah menjadi alat konflik dan instrumen kekuasaan, sementara Willem Buiter melihat air sebagai aset fisik paling strategis masa depan. Di tengah semua itu, Vandana Shiva mengingatkan dunia bahwa air bukan sekadar komoditas, melainkan kehidupan itu sendiri.

Inilah ironi besar peradaban modern. Sesuatu yang seharusnya menjadi rahmat bersama justru mulai diperebutkan seperti senjata strategis. Namun cerita tentang air tidak berhenti pada geopolitik dan perang. Dunia finansial global juga mulai melihat air sebagai frontier ekonomi baru. Di sinilah muncul nama Willem Buiter. Pada 2011, ekonom top dari Citigroup itu membuat analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya: pasar air suatu hari akan melampaui minyak, pertanian, bahkan logam mulia.

Pernyataan itu terdengar ekstrem. Tetapi logikanya sebenarnya sederhana. Minyak masih punya alternatif: energi surya, angin, nuklir. Logam bisa didaur ulang. Tetapi air? Tidak ada pengganti biologis untuk air. Manusia bisa hidup tanpa smartphone. Manusia bisa hidup tanpa mobil. Manusia bahkan bisa hidup tanpa listrik modern. Tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa air. Karena itu Buiter melihat air sebagai: ultimate asset, aset pamungkas masa depan.

Dan mungkin inilah titik paling mengkhawatirkan dari peradaban modern. Ketika air mulai dipandang terutama sebagai aset ekonomi, maka logika pasar perlahan masuk ke fondasi kehidupan manusia. Air mulai diperdagangkan. Hak air mulai diperjualbelikan. Privatisasi air meluas. Perusahaan multinasional masuk ke sektor sumber air. Bahkan pasar futures air mulai muncul di dunia finansial.

Air perlahan bergerak dari hak hidup menjadi instrumen investasi. Di sinilah problem moral mulai muncul. Karena ketika air diperlakukan sepenuhnya sebagai komoditas, maka akses terhadap kehidupan pun perlahan tunduk pada kemampuan membeli. Yang kaya bisa mengakses air berkualitas. Yang miskin kesulitan mendapatkan air bersih. Krisis air akhirnya berubah menjadi krisis keadilan.

Dalam banyak kasus, lembaga-lembaga keuangan internasional bahkan mendorong privatisasi sektor air sebagai bagian dari reformasi ekonomi negara berkembang. Alasannya terdengar rasional: efisiensi, investasi, modernisasi infrastruktur. Tetapi realitas di lapangan sering jauh lebih rumit.

Kasus Cochabamba di Bolivia tahun 2000 menjadi simbol global perlawanan terhadap privatisasi air. Tarif naik drastis. Rakyat marah. Demonstrasi besar meledak. Dunia mulai bertanya: apakah air pantas diperlakukan seperti barang dagangan biasa?

Pertanyaan itu sesungguhnya sangat mendasar. Karena air berbeda dengan komoditas lain. Air adalah syarat keberadaan manusia itu sendiri. Dan mungkin karena itulah perebutan air di abad modern menjadi semakin sensitif. Sebab ketika air terganggu: pertanian-perikanan budidaya terganggu, pangan terganggu, kesehatan terganggu, ekonomi terganggu, stabilitas sosial pun ikut terganggu. Air berada di pusat kehidupan.

Kita sering lupa bahwa seluruh peradaban manusia tumbuh di sekitar air. Sungai Nil melahirkan Mesir kuno. Mesopotamia berkembang di antara Tigris dan Euphrates. Peradaban India lahir di sekitar Sungai Indus. Kota-kota besar dunia hampir selalu tumbuh di dekat sungai atau laut.

Sejak awal sejarah, manusia mencari air sebelum membangun peradaban. Karena air bukan sekadar unsur alam. Air adalah rahim kehidupan. Namun peradaban modern justru semakin jauh dari kesadaran itu. Sungai dipandang sebagai objek industri. Danau dianggap aset ekonomi. Hutan ditebang tanpa memikirkan siklus hidrologi. Kota dibeton tanpa ruang resapan. Pertanian industri menguras air tanah secara besar-besaran. Akibatnya, manusia modern menciptakan paradoksnya sendiri: teknologi semakin maju, tetapi krisis air semakin serius.

Di banyak kota besar, air tanah terus turun. Sungai tercemar limbah. Danau menyusut. Kekeringan semakin sering. Banjir semakin ekstrem. Lalu datang perang dan konflik yang semakin menghancurkan infrastruktur air.

Kasus Gaza memperlihatkan bagaimana air dapat berubah menjadi alat tekanan kemanusiaan. Sistem sanitasi rusak. Air bersih terbatas. Infrastruktur air hancur. Penyakit meningkat. Di tempat lain, bendungan menjadi alat tawar-menawar politik. Sungai lintas negara menjadi sumber ketegangan diplomatik.

Prediksi Serageldin perlahan seperti menemukan bentuk nyatanya. Tetapi mungkin persoalan terbesar bukan hanya soal kelangkaan air. Persoalan terbesar adalah cara pandang manusia terhadap air itu sendiri.

Peradaban modern terlalu lama melihat alam semata-mata sebagai objek eksploitasi. Air dianggap sumber daya ekonomi. Tanah dianggap aset pasar. Hutan dianggap cadangan komersial.

Padahal manusia sendiri hidup dari keseimbangan ekologi itu. Ketika sungai diracuni, manusia sedang meracuni dirinya sendiri. Ketika air diprivatisasi secara berlebihan, manusia sedang mengkomersialkan hak hidup. Dan ketika air dijadikan alat perang, manusia sedang menyerang fondasi kehidupan itu sendiri.

Dalam perspektif fitrah, air memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia daripada sekadar komoditas ekonomi. Al-Qur’an menyatakan: β€œDan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS Al-Anbiya:30). Ayat ini bukan sekadar informasi biologis. Ia mengandung pandangan dunia yang sangat dalam: bahwa air adalah fondasi kehidupan yang diberikan Allah untuk seluruh mahluk. Bukan hanya untuk elite ekonomi. Bukan hanya untuk negara kuat. Bukan hanya untuk korporasi global. Tapi untuk kehidupan itu sendiri.

Karena itu dalam nilai-nilai fitrah, air tidak boleh ditempatkan semata-mata sebagai instrumen pasar atau alat dominasi geopolitik. Air harus diposisikan sebagai amanah bersama yang dijaga dengan: keadilan, tanggung jawab ekologis, keseimbangan, dan kasih sayang antar manusia. Air boleh dikelola secara profesional. Air boleh menggunakan teknologi modern. Air boleh menjadi bagian dari sistem ekonomi. Tetapi air tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaannya. Sebab ketika manusia mulai memperlakukan air hanya sebagai komoditas, maka sesungguhnya manusia sedang bergerak menjauh dari fitrah kehidupannya sendiri.

Dan mungkin disitulah pelajaran terbesar dari Serageldin, Gleick, Buiter, dan nilai-nilai fitrah: bahwa masa depan manusia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat menguasai air, tetapi oleh siapa yang paling bijak menjaga air sebagai rahmat kehidupan bersama.

485SHARES8.1kVIEWS

Bagikan Artikel & Dapat Reward

Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.

WhatsAppFacebookXTelegram
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.

Baca Artikel Selanjutnya:

Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta β†’

πŸ”₯ Postingan Populer

  • 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
  • Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
  • Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
  • Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
  • Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
πŸ”— Cari alat parkir

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

news kontroversi minyak minyak bumi politik politik dan pemerintahan

Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis

Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.

πŸ’š Donasi via Sociabuzz πŸ“² Bagikan WA f Facebook 𝕏 Share

Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.

KOMPASIA.COM

Kirim Berita dan Press Release Anda

Kirim berita, press release, artikel promosi, opini, kegiatan perusahaan, komunitas, atau informasi publik lainnya kepada Redaksi Kompasia.

βœ‰ Kirim ke Redaksi ❀ Dukung dengan Donasi
Email Redaksi: redaksikompasia@gmail.com
Materi yang dikirim akan melalui proses pemeriksaan dan penyuntingan redaksi sebelum diterbitkan.

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen memenuhi standar Dewan Pers untuk menyajikan informasi yang akurat, tajam, dan berimbang.

Tags:

kontroversiminyakminyak bumipolitikpolitik dan pemerintahan
Author

Redaksi Kompasia

Follow Me
Other Articles
Mari simak Bacaan Injil Katolik Kamis 12 Oktober 2023.jpg
Previous

Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap

Nama Fika Direktur PT Millenium Solusi Abadi PT MSA ikut ditahan bersama Bupati.jpg
Next

Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta

Seedbacklink

Berita Populer

1Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Kesehatan28 Jul 2026
2Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

hukum27 Jul 2026
3Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Berita Utama25 Jul 2026
4REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

Berita Utama25 Jul 2026
5Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Berita Nasional23 Jul 2026

agama angkutan Asia Astrolog berinvestasi berita Berita lokal bisnis budaya ekonomi hiburan Horoskop Hukum Pidana Indonesia infrastruktur insiden kasus kriminal Kebijakan Publik kejahatan kekayaan klub sepak bola kontroversi Laporan Polisi masalah sosial masyarakat media berita militer olahraga palang parkir pemerintah pendidikan peradilan pidana perbintangan perdagangan Polisi dan Penegakan Hukum politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan sejarah sepak bola teknologi tranding uang undang undang Undang viral

Populer

images (3)
TRI MATRA
OABh0Gb9JJdvaAF4AdqN6wExVwSX0kuIVak1kmxe
Trbratanews

Recent Posts

  • Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause
  • Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi
  • Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS
  • REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air
  • Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Recent Comments

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Mei 2025
  • April 2025

Categories

  • advertorial
  • agama
  • Analisis
  • bali
  • Berita Internasional
  • Berita Nasional
  • Berita Utama
  • Bisnis
  • Bisnis dan Teknologi
  • Ekonomi
  • hukum
  • Investasi
  • Jawa Barat
  • Kalimantan
  • karimun
  • Keamanan dan Kenyamanan Perumahan
  • Kepulauan Riau
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Kriminal
  • Layanan Parkir
  • Medan
  • Nasional
  • news
  • Olahraga
  • Opini
  • parkir
  • pendidikan
  • Politik
  • Profil Tokoh
  • Review
  • Riau
  • Sosial
  • Sport
  • Sumatera Barat
  • Teknologi
  • Teknologi dan Inovasi
  • Teknologi Parkir
  • Tokoh
  • tranding
  • Tutorial
  • UMKM
  • Viral
  • wisata

Kirim Opini,berita anda

email: redaksikompasia@gmail.com

Seedbacklink
β˜• Traktir Kopi

Dukung kami dengan traktir kopi agar kami bisa terus berkarya.

β˜• Traktir Sekarang

Copyright 2026 — KPA News. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme