---
title: "Asap Karhutla Indonesia Sampai Filipina, Mengapa Bisa Menyeberangi Negara?"
url: https://kompasia.com/asap-karhutla-indonesia-sampai-filipina-mengapa-bisa-menyeberangi-negara/
date: 2026-09-04
modified: 2026-09-04
lang: id
author: "Rd.Rudi"
description: "JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian regional. Asap dari kebakaran yang berlangsung di Kalimantan terdeteksi bergerak hingga Filipina dan memengaruhi kualitas udara di sejumlah..."
categories:
  - "Berita Nasional"
image: https://kompasia.com/wp-content/uploads/2026/09/ENV5531-2-1024x683.jpg
word_count: 855
---

# Asap Karhutla Indonesia Sampai Filipina, Mengapa Bisa Menyeberangi Negara?

**JAKARTA —** Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian regional. Asap dari kebakaran yang berlangsung di Kalimantan terdeteksi bergerak hingga Filipina dan memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah, termasuk Metro Manila.

Situasi terbaru bahkan berdampak pada kegiatan pendidikan. Pemerintah Filipina pada Jumat, 4 September 2026, mengumumkan penghentian sementara kegiatan belajar tatap muka di sejumlah wilayah karena kombinasi cuaca buruk dan kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan Indonesia.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: **bagaimana asap kebakaran di Kalimantan dapat bergerak hingga ribuan kilometer dan mencapai Filipina?**

## Asap Karhutla Indonesia Terbawa Angin Monsun

Berdasarkan penjelasan Philippine Information Agency (PIA), pengamatan satelit menunjukkan adanya plume atau kumpulan asap dari kebakaran di Indonesia yang bergerak menuju Filipina.

Salah satu faktor utamanya adalah **southwest monsoon atau Habagat**, yaitu pola angin monsun barat daya yang pada kondisi tertentu dapat membawa asap dalam perjalanan lintas negara.

Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina (DENR-EMB) sebelumnya juga menyatakan kabut yang memengaruhi sebagian Luzon dan Visayas berasal dari asap kebakaran di Kalimantan yang dibawa oleh Habagat.

Dengan kata lain, asap tidak berhenti di sekitar lokasi kebakaran.

Partikel dan gas hasil pembakaran dapat masuk ke atmosfer kemudian bergerak mengikuti sirkulasi udara. Jika arah dan kecepatan angin mendukung, material tersebut dapat terbawa sangat jauh dari sumbernya.

## NASA Rekam Kebakaran Gambut di Indonesia dari Satelit

Besarnya kejadian kebakaran Indonesia tahun ini juga terlihat dari luar angkasa.

NASA Earth Observatory pada 3 September 2026 mempublikasikan citra satelit yang memperlihatkan **kepulan asap tebal dari sejumlah kebakaran di Pulau Kalimantan**.

NASA menjelaskan Indonesia sedang mengalami kondisi kekeringan yang luas. Data yang dikutip NASA dari badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar **90 persen wilayah Indonesia menerima sedikit atau bahkan tidak mengalami hujan pada awal Agustus 2026**.

Kondisi kering tersebut membuat kebakaran lebih mudah terjadi, termasuk pada kawasan gambut.

Masalah kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa.

Api dapat membara di lapisan gambut di bawah permukaan sehingga lebih sulit dipadamkan dan dapat bertahan lama ketika kondisi tetap kering.

## Hampir Seribu Hotspot Tercatat pada Akhir Agustus

NASA juga mencatat platform pemantauan kebakaran SiPongi milik pemerintah Indonesia yang menggunakan pengamatan MODIS dan VIIRS mendeteksi **946 hotspot pada 31 Agustus 2026**.

Sementara itu, Reuters melaporkan kebakaran Indonesia pada 2026 diperparah oleh kondisi El Niño yang kuat dan kekeringan. Hampir 95.000 hektare dilaporkan terbakar sepanjang Juli, sementara jumlah hotspot meningkat pada Agustus.

Namun kondisi tersebut belum berarti skala kebakaran telah menyamai bencana 2015.

Menurut NASA, hingga 2 September, emisi kebakaran Indonesia tahun 2026 diperkirakan sekitar sepersepuluh dari tingkat kebakaran 2015.

## Kualitas Udara Metro Manila Terdampak

Dampaknya mulai terlihat di Filipina.

Pada awal September, sejumlah stasiun pemantauan udara di Metro Manila mencatat konsentrasi **PM2.5** yang tinggi.

DENR-EMB Filipina melaporkan beberapa stasiun berada dalam kategori kualitas udara *acutely unhealthy* dan *very unhealthy*.

PM2.5 merupakan partikulat dengan ukuran diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel masuk jauh ke sistem pernapasan. Otoritas Filipina karena itu memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan.

## Sekolah di Sejumlah Wilayah Filipina Hentikan Tatap Muka

Dampak kabut asap kini tidak hanya menyangkut kualitas udara.

Pada **4 September 2026**, Malacañang mengumumkan penghentian sementara pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah Luzon akibat kombinasi Habagat dan kabut asap dari kebakaran Indonesia.

Sebelumnya, Quezon City juga telah menginstruksikan sekolah negeri dan swasta beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh akibat memburuknya kondisi udara.

Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana bencana lingkungan di satu negara dapat menghasilkan konsekuensi sosial di negara lainnya.

## Mengapa Asap Bisa Sampai Filipina?

Secara sederhana prosesnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

**Karhutla di Kalimantan → Asap dan PM2.5 masuk atmosfer → Angin membawa plume asap → Monsun barat daya bergerak menuju Filipina → Polutan mencapai wilayah Filipina.**

Menurut ilmuwan Manila Observatory yang dikutip PIA, angin monsun barat daya memang dapat membawa asap dalam jarak jauh dalam kondisi tertentu.

Pengamatan satelit menunjukkan Metro Manila berada dalam plume asap pada awal pekan ini.

Hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikulat karena air hujan membersihkan sebagian partikel yang tersuspensi di atmosfer.

Karena itu, perubahan arah angin dan curah hujan akan ikut menentukan apakah kabut asap berkurang atau kembali meningkat dalam beberapa hari mendatang.

## Karhutla Masih Menjadi Perhatian di Indonesia

Di dalam negeri, kebakaran hutan dan lahan juga masih menjadi salah satu bencana yang ditangani pemerintah.

BNPB dalam laporan perkembangan bencana per 3 September 2026 memasukkan karhutla sebagai salah satu kejadian yang menjadi fokus penanganan lintas kementerian, lembaga pusat, dan pemerintah daerah.

Situasi tahun ini sekaligus kembali memperlihatkan pentingnya pengendalian kebakaran sebelum api berkembang menjadi kebakaran gambut yang sulit dipadamkan.

Pemantauan satelit juga menjadi semakin penting karena pergerakan asap tidak mengenal batas administratif maupun batas negara.

## Kabut Asap Menjadi Persoalan Regional

Peristiwa September 2026 menunjukkan bahwa **karhutla Indonesia bukan semata persoalan lokal**.

Kebakaran yang terjadi di Kalimantan dapat memengaruhi kualitas udara ratusan hingga ribuan kilometer dari titik api ketika kondisi atmosfer memungkinkan.

Filipina kini menjadi salah satu contoh nyata.

Asap yang terdeteksi berasal dari Indonesia telah mendorong peningkatan pemantauan kualitas udara, peringatan kesehatan hingga penghentian sementara kegiatan belajar tatap muka di sejumlah wilayah.

Selama titik api masih aktif dan kondisi cuaca mendukung transportasi asap, perkembangan kabut lintas batas akan tetap menjadi perhatian Indonesia dan negara-negara di kawasan.