---
title: "Ketika Pejabat Ajak Beli Saham, Siapa Menanggung Risiko?"
url: https://kompasia.com/ketika-pejabat-ajak-beli-saham-siapa-menanggung-risiko/
date: 2026-10-21
modified: 2026-10-21
lang: id
author: "Rd.Rudi"
description: "Di tengah ancaman penurunan status pasar modal Indonesia dan kejatuhan IHSG, ajakan membeli saham dari tokoh berpengaruh memunculkan pertanyaan: apakah optimisme cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor?"
categories:
  - "Keuangan"
tags:
  - "IHSG"
  - "saham"
image: https://kompasia.com/wp-content/uploads/2026/10/854267719_17998863075043086_7451367266189766563_n-819x1024.jpg
word_count: 1096
---

# Ketika Pejabat Ajak Beli Saham, Siapa Menanggung Risiko?

*Di tengah ancaman penurunan status pasar modal Indonesia dan kejatuhan IHSG, ajakan membeli saham dari tokoh berpengaruh memunculkan pertanyaan: apakah optimisme cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor?*

**KOMPASIA.COM — OPINI | 21 Oktober 2026**

Ketika pasar saham Indonesia jatuh, masyarakat menyaksikan sebuah fenomena menarik. Sejumlah pejabat dan pengusaha besar muncul membawa pesan optimisme. Mereka menyampaikan bahwa penurunan harga saham merupakan kesempatan membeli, bukan alasan untuk panik.

Pesan tersebut sekilas terdengar menenangkan. Namun, bagi investor kecil yang melihat portofolionya terus memerah, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: **apakah ajakan membeli saham benar-benar didukung keyakinan investasi yang terukur, atau sekadar upaya memperbaiki psikologi pasar?**

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan. Justru, itulah bentuk sikap kritis yang diperlukan dalam pasar modal yang sehat.

## Jusuf Hamka dan Rencana Pembelian Saham Rp5 Triliun

Pada 18 Oktober 2026, pengusaha sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Jusuf Hamka, menyampaikan rencana pembelian saham bersama konsorsium pengusaha dengan nilai mencapai Rp5 triliun.

Rencana tersebut muncul ketika pasar modal Indonesia mengalami tekanan besar akibat ketidakpastian status Indonesia dalam indeks global MSCI.

Ajakan itu tentu memiliki sisi positif. Ketika investor kehilangan kepercayaan, kehadiran pembeli besar berpotensi membantu menciptakan permintaan dan meredam kepanikan.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara **berencana membeli, benar-benar membeli, dan berhasil memperoleh keuntungan.**

Bursa Efek Indonesia melalui Direktur Utama Jeffrey Hendrik menyambut positif dukungan para investor domestik. Meski demikian, pihak bursa tidak dapat mengonfirmasi realisasi transaksi konsorsium tersebut karena informasi perdagangan masing-masing investor bersifat rahasia.

Di sinilah pentingnya menjaga jarak antara narasi optimisme dan fakta investasi yang bisa dibuktikan.

## IHSG Naik Tajam, Mengapa Investor Asing Masih Menjual?

Perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, menghadirkan peristiwa yang menarik perhatian publik.

IHSG berhasil melonjak sekitar 5,65 persen dan ditutup pada level 5.278,89. Kenaikan sebesar itu tentu memberikan harapan bahwa pasar sedang memulai pemulihan.

Namun, terdapat fakta lain yang patut diperhatikan: pada perdagangan sesi pertama hari tersebut, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp1,97 triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan indeks tidak selalu disertai perubahan sikap investor global.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang menyerap tekanan jual tersebut dan seberapa berkelanjutan kemampuan pembeli domestik mempertahankan harga?

Investor domestik yang membeli saham ketika investor asing menjual tidak otomatis melakukan kesalahan. Mereka dapat memiliki strategi, valuasi, dan horizon investasi berbeda.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa kenaikan sehari bukan jaminan pasar telah pulih.

Pada perdagangan pagi 21 Oktober, IHSG kembali melemah. Situasi ini mengingatkan bahwa volatilitas masih tinggi dan optimisme publik belum cukup untuk menghilangkan risiko.

## Jangan Sampai Rakyat Kecil Menjadi Penanggung Risiko Terbesar

Investor besar memiliki kapasitas finansial dan strategi pengelolaan risiko yang mungkin tidak dimiliki investor ritel.

Bagi pemilik modal puluhan atau ratusan miliar rupiah, penurunan harga saham dapat menjadi bagian dari strategi investasi jangka panjang.

Namun bagi masyarakat yang hanya memiliki modal Rp1 juta hingga Rp10 juta, kerugian beberapa puluh persen dapat sangat memengaruhi kondisi keuangan keluarga.

Karena itu, pernyataan tokoh berpengaruh yang mengajak masyarakat membeli saham harus disampaikan secara bertanggung jawab.

**Jangan sampai masyarakat hanya mendengar potensi keuntungan, tetapi tidak memperoleh penjelasan yang seimbang mengenai risiko kerugian.**

Optimisme tidak dilarang. Ajakan berinvestasi pun bukan suatu kesalahan. Akan tetapi, semakin besar pengaruh seseorang terhadap keputusan ekonomi masyarakat, semakin besar pula tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi.

## Ancaman MSCI Tidak Bisa Diselesaikan dengan Kampanye Optimisme

Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Keputusan akhirnya dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.

Persoalan yang disoroti MSCI berkaitan dengan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas reformasi dan penegakan aturan pasar.

Ini bukan sekadar persoalan indeks yang sedang turun.

Ini menyangkut kepercayaan institusi investasi internasional terhadap kualitas tata kelola pasar modal Indonesia.

Karena itu, respons yang dibutuhkan tidak cukup hanya berupa ajakan membeli saham atau pernyataan bahwa harga sudah murah.

Indonesia membutuhkan pembenahan transparansi kepemilikan, peningkatan kualitas pengawasan, penegakan hukum yang konsisten, dan perlindungan terhadap investor.

Jika akar persoalan tidak diselesaikan, kenaikan harga jangka pendek berisiko menjadi pemulihan sementara.

## Apakah Ini Modus Mengumpulkan Dana Investor Ritel?

Pertanyaan ini mungkin muncul di tengah masyarakat.

Secara teori, pasar modal mengenal praktik manipulasi yang dapat melibatkan penyebaran informasi menyesatkan untuk memengaruhi harga atau minat pembelian.

Bahkan, pada Februari 2026, Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan sanksi kepada seorang pegiat media sosial pasar modal atas praktik manipulasi harga melalui penyebaran informasi.

Namun, fakta tersebut sama sekali tidak membuktikan bahwa Jusuf Hamka atau pejabat yang menyampaikan optimisme pasar melakukan tindakan serupa.

**Kecurigaan harus diuji dengan bukti. Perbedaan pandangan investasi bukan bukti manipulasi.**

Yang patut diminta publik adalah penjelasan mengenai dasar analisis, risiko, dan kemungkinan benturan kepentingan ketika tokoh berpengaruh menyampaikan pandangan investasi.

Dengan begitu, masyarakat dapat membedakan opini, kampanye kepercayaan pasar, keputusan investasi, dan indikasi penyimpangan yang memang memerlukan pemeriksaan regulator.

## Pejabat Perlu Menjaga Kepercayaan, Bukan Hanya Harga Saham

Pasar saham yang kuat bukanlah pasar yang selalu hijau.

Pasar yang kuat adalah pasar yang memiliki mekanisme harga wajar, informasi yang transparan, pengawasan yang efektif, serta kesempatan yang adil bagi investor besar maupun kecil.

Kehadiran pejabat dan pengusaha dalam memberikan dukungan kepada pasar tentu bisa dihargai. Tetapi pesan optimisme semestinya berjalan bersamaan dengan keterbukaan mengenai risiko serta langkah konkret memperbaiki tata kelola.

Investor tidak membutuhkan janji bahwa harga pasti kembali naik.

Mereka membutuhkan keyakinan bahwa mekanisme pasar bekerja dengan sehat dan informasi yang mereka terima dapat dipercaya.

## Kesimpulan: Kepercayaan Tidak Bisa Dibangun Hanya dengan Kata-Kata

Kita tentu berharap pasar modal Indonesia kembali pulih. Pasar yang sehat sangat penting bagi dunia usaha, pembiayaan perusahaan, lapangan kerja, dan perekonomian nasional.

Namun, keinginan melihat IHSG kembali naik tidak boleh menghilangkan ruang untuk bertanya secara kritis.

Ketika pejabat dan pengusaha besar mengajak masyarakat membeli saham, publik berhak mempertanyakan dasar optimisme tersebut, kualitas informasi yang disampaikan, serta langkah nyata yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi pasar.

Keputusan membeli atau menjual tetap merupakan tanggung jawab masing-masing investor. Karena itu, ajakan dari tokoh berpengaruh tidak seharusnya menggantikan analisis independen.

**Satu hal yang harus kita jaga: jangan sampai keberhasilan membangun optimisme pasar justru dibayar dengan kerugian masyarakat yang mengambil keputusan tanpa memahami risikonya.**

Sebab kepercayaan investor tidak lahir dari seberapa keras seseorang menyerukan bahwa pasar akan naik.

**Kepercayaan lahir ketika pernyataan, tindakan, transparansi, dan kenyataan bergerak ke arah yang sama.**

---

***Artikel ini merupakan opini mengenai perkembangan pasar modal Indonesia berdasarkan informasi publik hingga 21 Oktober 2026. Tulisan ini bukan rekomendasi investasi dan tidak menyatakan bahwa individu tertentu terbukti melakukan manipulasi pasar.***

### Referensi

- [RMOL — Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham, 18 Oktober 2026](https://rmol.id/read/2026/10/18/725355/jusuf-hamka-siapkan-rp5-triliun-untuk-borong-saham)
- [Warta Ekonomi — BEI Respons Soal Rencana Pembelian Saham Rp5 Triliun, 20 Oktober 2026](https://wartaekonomi.co.id/read642154/bei-respons-soal-babah-alun-cs-borong-saham-rp5-triliun)
- [Jawa Pos — IHSG Melonjak dan Investor Asing Masih Menjual, 21 Oktober 2026](https://www.jawapos.com/ekonomi/2610200364/ihsg-melonjak-565-persen-ke-5278-asing-malah-jual-saham-rp-197-triliun)
- [MSCI — Konsultasi Klasifikasi Pasar Indonesia, 15 Oktober 2026](https://msci.gcs-web.com/news-releases/news-release-details/msci-launches-consultation-proposal-reclassify-indonesia)
- [OJK — Sanksi Manipulasi Harga Saham, 20 Februari 2026](https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-Beri-Sanksi-Pegiat-Media-Sosial-dan-Pelaku-Manipulasi-Harga-di-Pasar-Modal.aspx)