Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
Subscribe
Close

Search

Buah Kusambi, Rasa Khas Nusa Tenggara Timur
Berita Utama

Buah Kusambi, Rasa Khas Nusa Tenggara Timur

By Redaksi Kompasia
Agustus 22, 2025 5 Min Read
Komentar Dinonaktifkan pada Buah Kusambi, Rasa Khas Nusa Tenggara Timur

Informasi Awal

kompasia.comKesambi atau kosambi (Schleichera oleosa) merupakan nama spesies pohon yang tumbuh di wilayah kering dan termasuk kerabat dekat rambutan dalam keluarga Sapindaceae.

Nama pohon dan buahnya sama, yaitu Kesambi atau Kosambi atau Kusambi.

Pohon ini tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia serta beberapa kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Kupang, daratan Timor, Sumba, Rote Ndao, Kalabahi, Alor, dan lainnya.

Bahan kayu yang keras dan kokoh cocok digunakan dalam industri perabot rumah.

Sementara kayunya dibakar menjadi arang karena kayunya tahan lama dan berkualitas.

Rasa buahnya asam manis, tekstur isiannya lembut dan mirip dengan buah mangga.

Biji tersebut mirip dengan biji kopi, yang bila dikupas mengandung sedikit minyak di dalamnya.

Beberapa nama lokal antara lain kasambi/kosambi (Sd.); kesambi, kusambi, sambi, kecacil (Jw., Bal.); kasambhi (Md.); kusambi, usapi (Tim.); kasembi, kahembi (Sumba); kehabe (Sawu); kabahi (Solor); kalabai (Alor); kule, ule (Rote); bado (Mak.); ading (Bug.)]

Baca: Asal Usul Anggur Shine Muscat, Buah yang Menjadi Perbincangan Karena Temuan Sisa Bahan Kimia Melebihi Batas yang Diperbolehkan

Nama-nama tersebut mirip dengan pelafalan di India, yaitu tanah asal tanaman ini, seperti: kosam, kosumb, kusum, kussam, rusam, puvam.

Dikutip POSKUPANGWIKI.COM dari Wikipedia Indonesia, pohon ini diberi nama Cussambium (Coessambi-Boom) oleh Georg Eberhard Rumpf, ilmuwan Jerman-Belanda yang tinggal selama 45 tahun di Ambon.

Dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan gum-lac tree, Indian lac tree, Malay lac tree, Macassar oil tree, Ceylon oak, dan sebagainya. Nama-nama tersebut merujuk pada hasil yang dihasilkan dari pohon ini, seperti lak dan minyak Makassar.

 

Bentuk

Pohon dengan dua kamar (dioesis), kuat, sering melengkung, mencapai tinggi hingga 40 meter dengan diameter batang hingga 2 meter, meskipun sebagian besar lebih kecil dari itu. Daunnya kecil, kulit batang berwarna abu-abu.

Daun majemuk berseling genap; terdiri dari 4–8 daun anak berbentuk jorong memanjang, terkadang berbentuk telur atau telur terbalik, dengan ukuran 4,5—18,5(—25) x 2,5—9 cm, ujung yang paling lebar, licin, seperti kertas atau kulit, yang muda berwarna merah muda. Bunga-bunga berkumpul dalam bentuk tandan, sepanjang 6–15 cm, tersusun rapat di pangkal tunas muda, sering bercabang pendek.

Bunga tanpa mahkota; kelopak 4—5, menyatu di bagian pangkalnya, berbentuk bulat telur atau segitiga, 1—1,5 mm, berambut halus di kedua sisinya, berwarna kuning kehijauan. Benang sari 4—9. Buah berbentuk silinder lebar atau agak bulat telur, 1,5—2,5 x 1–2 cm, ujungnya meruncing, licin atau sedikit berduri, berwarna kuning. Biji 1—2 butir, hampir bulat, sekitar 12 x 10 x 8 mm, coklat, dilapisi lapisan biji yang kekuningan, tipis, rasanya asam manis.

Baca: 4 Fakta Mengenai Buah Kecubung, Buah yang Menyebabkan Kematian Dua Orang di Banjarmasin, Beracun dan Merusak Sistem Saraf

Penyebaran dan Ekologi

Asal muasal penyebaran tanaman kesambi meliputi kaki Pegunungan Himalaya dan Dataran Tinggi Dekkan bagian barat di anak benua India, hingga ke Srilangka dan Indocina. Mungkin pada masa lalu tumbuhan ini dibawa masuk ke wilayah Malesia, termasuk Indonesia, kemudian berkembang liar di sana.

Di Indonesia, khususnya ditemukan di daerah-daerah yang memiliki musim kemarau yang intensif, mulai dari bagian timur Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku (Seram dan Kepulauan Kai); bisa tumbuh liar atau ditanam.

Di Pulau Jawa, pohon kesambi biasanya tumbuh di daerah dataran rendah, namun mampu bertahan hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan berkisar antara 750–2.500 mm per tahun.[8] Pohon ini juga ditemukan tumbuh secara alami di savana, hutan tropis gugur daun, serta hutan jati. Kesambi menggugurkan daunnya pada musim kemarau, meskipun hanya sementara saja tanpa daun.

 

Kegunaan

Kayu kesambi, khususnya bagian kayu terasnya, memiliki tekstur padat, berat, dan sangat keras; warnanya bervariasi dari merah muda hingga kelabu. Kayu ini lentur, elastis, serta tahan terhadap perubahan kondisi kering dan basah yang terus-menerus, sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai jangkar perahu.

Tidak mudah rusak, kayu kesambi sering digunakan untuk membuat alu, silinder pada mesin penggiling, serta peralatan rumah tangga umumnya. Dengan kandungan energi yang tinggi sebesar 20.800 kJ/kg, kayu ini diminati sebagai bahan bakar dan bahan pembuatan arang.

Pepagan kesambi digunakan dalam proses pengelat kulit, pewarnaan batik, pencegahan nira menjadi asam saat difermentasi, serta sebagai bahan campuran lulur.

Pepagan yang dihaluskan dan dicampur dengan minyak digunakan sebagai pengobatan untuk kudis. Daun muda yang segar atau direbus dapat dimakan sebagai lalapan. Buah kesambi yang sudah matang bisa dimakan langsung, sedangkan yang masih mentah digunakan untuk membuat acar.

Biji-bijian tersebut, baik langsung atau setelah dipanggang sebentar, dihancurkan untuk menghasilkan minyaknya. Minyak dari tanaman kesambi ini (Jw., kecacil) mengandung sedikit asam sianida, dan digunakan dalam pengobatan kudis serta luka-luka.

Di Sulawesi Selatan, minyak kesambi diproses bersama berbagai bumbu dan aroma, sehingga dihasilkan berbagai jenis minyak yang memiliki khasiat obat; termasuk di antaranya “minyak makassar” (Macassar oil) yang terkenal digunakan untuk merawat rambut.

Minyak ini, setelah dicampur dengan bahan lain seperti tepung kapur, bisa digunakan sebagai salep obat atau untuk menambal celah (memakal, mendempul) perahu. Dulu, minyak kesambi ini juga digunakan sebagai minyak lampu, minyak masak, dan bahan dasar pembuatan sabun.

Daun, pucuk, dan sisa biji (bungkil) yang tidak terpakai setelah proses pengempaan digunakan sebagai pakan ternak. Di sisi lain, dalam sektor kehutanan, pohon kesambi menjadi salah satu pohon inang yang paling penting bagi kutu lak (Laccifer lacca).

Lak dan syelak (shellac), resin lengket yang digunakan sebagai bahan pewarna, pengilat makanan, serta lapisan pelindung, terutama berasal dari India. Di Indonesia, lak diproduksi oleh Perhutani di Probolinggo.

 

Potensi Pengembangan di Indonesia

Membahas potensi pengembangan produk-produk yang menggunakan bahan baku biji kesambi di Indonesia, tanaman ini memiliki sifat mudah beradaptasi sehingga menyimpan manfaat yang beragam serta bernilai ekonomi tinggi dan sangat menjanjikan untuk dikembangkan.

Salah satu potensi dari tanaman ini adalah penggunaan daging biji kesambi sebagai bahan baku dalam pembuatan biodiesel. Di Indonesia, tanaman kesambi dapat tumbuh dengan baik di pulau Jawa, Bali, NTT, Sulawesi dan kepulauan Maluku.

Oleh karena itu, potensi ini membuat biji kesambi mampu dijadikan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan di Indonesia.

Baca: Mengenal Jeruk Mandarin, Buah yang Melambangkan Keberuntungan dan Kesejahteraan pada Tahun Baru Imlek

Analisis Metabolomik

Kualitas produk olahan biji kesambi, seperti minyak biodiesel, juga bergantung pada profil metabolit yang dihasilkan. Sampai saat ini, belum ada penelitian mengenai metabolomik yang dilakukan terhadap objek studi kesambi.

Namun, beberapa penelitian telah dilakukan terhadap biji minyak guna melakukan optimasi peningkatan kualitas berdasarkan profil metabolit. Kualitas minyak yang baik memiliki beberapa parameter tertentu seperti viskositas, daya bakar, warna, dan lainnya.

Produksi minyak dari biji tersebut tergantung pada metabolit-metabolit yang dapat memengaruhi hasil akhir.

(kompasia.com)

767SHARES4.1kVIEWS

Bagikan Artikel & Dapat Reward

Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.

WhatsAppFacebookXTelegram
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.

Baca Artikel Selanjutnya:

Curug Golek: Wisata Air Terjun Hits dengan Cerita Mistis di Sukamakmur, Bogor →

🔥 Postingan Populer

  • 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
  • Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
  • Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
  • Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
  • Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
🔗 Cari alat parkir

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Berita Utama buah kesehatan masyarakat perdagangan pohon

Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis

Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.

💚 Donasi via Sociabuzz 📲 Bagikan WA f Facebook 𝕏 Share

Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.

KOMPASIA.COM

Kirim Berita dan Press Release Anda

Kirim berita, press release, artikel promosi, opini, kegiatan perusahaan, komunitas, atau informasi publik lainnya kepada Redaksi Kompasia.

✉ Kirim ke Redaksi ❤ Dukung dengan Donasi
Email Redaksi: redaksikompasia@gmail.com
Materi yang dikirim akan melalui proses pemeriksaan dan penyuntingan redaksi sebelum diterbitkan.

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen memenuhi standar Dewan Pers untuk menyajikan informasi yang akurat, tajam, dan berimbang.

Tags:

buahkesehatanmasyarakatperdaganganpohon
Author

Redaksi Kompasia

Follow Me
Other Articles
Celana Pendek Makin Trending, Ulama: Bukan Semua Gaya Harus Ditiru
Previous

Celana Pendek Makin Trending, Ulama: Bukan Semua Gaya Harus Ditiru

Curug Golek: Wisata Air Terjun Hits dengan Cerita Mistis di Sukamakmur, Bogor
Next

Curug Golek: Wisata Air Terjun Hits dengan Cerita Mistis di Sukamakmur, Bogor

Seedbacklink

Berita Populer

1Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Kesehatan28 Jul 2026
2Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

hukum27 Jul 2026
3Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Berita Utama25 Jul 2026
4REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

Berita Utama25 Jul 2026
5Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Berita Nasional23 Jul 2026

agama angkutan Asia Astrolog berinvestasi berita Berita lokal bisnis budaya ekonomi hiburan Horoskop Hukum Pidana Indonesia infrastruktur insiden kasus kriminal Kebijakan Publik kejahatan kekayaan klub sepak bola kontroversi Laporan Polisi masalah sosial masyarakat media berita militer olahraga palang parkir pemerintah pendidikan peradilan pidana perbintangan perdagangan Polisi dan Penegakan Hukum politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan sejarah sepak bola teknologi tranding uang undang undang Undang viral

Populer

images (3)
TRI MATRA
OABh0Gb9JJdvaAF4AdqN6wExVwSX0kuIVak1kmxe
Trbratanews

Recent Posts

  • Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause
  • Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi
  • Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS
  • REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air
  • Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Recent Comments

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Mei 2025
  • April 2025

Categories

  • advertorial
  • agama
  • Analisis
  • bali
  • Berita Internasional
  • Berita Nasional
  • Berita Utama
  • Bisnis
  • Bisnis dan Teknologi
  • Ekonomi
  • hukum
  • Investasi
  • Jawa Barat
  • Kalimantan
  • karimun
  • Keamanan dan Kenyamanan Perumahan
  • Kepulauan Riau
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Kriminal
  • Layanan Parkir
  • Medan
  • Nasional
  • news
  • Olahraga
  • Opini
  • parkir
  • pendidikan
  • Politik
  • Profil Tokoh
  • Review
  • Riau
  • Sosial
  • Sport
  • Sumatera Barat
  • Teknologi
  • Teknologi dan Inovasi
  • Teknologi Parkir
  • Tokoh
  • tranding
  • Tutorial
  • UMKM
  • Viral
  • wisata

Kirim Opini,berita anda

email: redaksikompasia@gmail.com

Seedbacklink
☕ Traktir Kopi

Dukung kami dengan traktir kopi agar kami bisa terus berkarya.

☕ Traktir Sekarang

Copyright 2026 — KPA News. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme