Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
Subscribe
Close

Search

Kisah Pemulung di Kampung Cahaya, Hidup dari Sampah Jakarta
tranding

Kisah Pemulung di Kampung Cahaya, Hidup dari Sampah Jakarta

By Redaksi Kompasia
November 13, 2025 4 Min Read
Komentar Dinonaktifkan pada Kisah Pemulung di Kampung Cahaya, Hidup dari Sampah Jakarta

Kehidupan di Kampung Cahaya: Simbol Harapan di Tengah Ketimpangan Jakarta

Di tengah keramaian kota Jakarta yang penuh dengan menara kaca dan pusat perbelanjaan besar, terdapat sebuah kampung kecil yang hidup dari sisa-sisa kota. Kampung Cahaya, yang juga dikenal sebagai Kampung Gasong, berada di Kelurahan Menteng Atas, Jakarta Pusat. Di tempat ini, para pemulung dan keluarga mereka bertahan hidup dengan memilah barang bekas dan tumpukan sampah yang menumpuk di sudut kota.

Pada Rabu (12/11/2025), tim peneliti mengunjungi kampung ini mulai siang hingga sore hari. Aroma plastik terbakar, sisa makanan busuk, serta udara lembap dari tumpukan sampah yang nyaris dua meter tinggi menyambut pengunjung. Anak-anak berlarian di antara rumah semi permanen, sedangkan orang dewasa memilah plastik, kardus, dan botol untuk dijual. Meski kehidupan di sini keras, warga tetap penuh tawa dan harapan.

Cipto (75) adalah salah satu warga yang tinggal di kampung ini. Ia datang karena tidak sanggup lagi membayar kontrakan di Manggarai ketika daerah itu digusur untuk pembangunan terminal besar. “Dulu tanah ini katanya tanah TPU. Kita tinggal karena nggak ada pilihan lain,” kata Cipto. Setelah dua kali mengalami penggusuran, ia kini pasrah dengan nasibnya. “Kalau pemerintah mau pakai, saya cuma bisa ucap terima kasih. Selama ini bisa tinggal di sini saja sudah syukur.”

Aktivitas pemulung kini menurun. Banyak yang beralih bekerja sebagai pekerja proyek atau asisten rumah tangga. “Sekarang paling cuma 20 persen yang masih pemulung. Yang lain ada yang kerja proyek, ojek, atau asisten rumah tangga,” ujar Cipto. Barang-barang yang dikumpulkan biasanya dibawa ke “bos” masing-masing, lalu disalurkan ke gudang di Bekasi atau daerah lain. Penghasilan per hari bagi pemulung seperti Cipto bervariasi, di bawah Rp100.000. Meski pendapatan rendah, pekerjaan ini telah dijalani lebih dari 30 tahun.

Nuria (60), salah satu warga pertama yang menetap di kampung ini, mengingat masa lalu ketika kampung ini masih sepi. “Dulu di sini sepi, saya sudah pelihara kambing. Tetangga masih sedikit, malah ikan dan ular yang sering datang,” kenangnya. Ia dan keluarga lain menyesuaikan diri dengan lingkungan yang keras. Ketersediaan air menjadi tantangan, karena tidak ada sambungan PAM. Mereka harus menggali sumur sendiri dan patungan membayar listrik.

Gelombang pemulung kedua Asmonah (48) datang belakangan, sekitar 18 tahun lalu, setelah gelombang pertama warga menetap. Banyak yang datang akibat penggusuran besar di Manggarai dan sekitarnya pada 2007. “Enggak ada relokasi waktu itu, cuma dikasih bantuan satu pintu Rp1 juta. Mau ke mana? Kontrakan saja sudah Rp500 ribu per bulan, anak banyak, sekolah juga,” kata Asmonah. Tanah di Kampung Cahaya awalnya rawa, penuh pohon, dan dihuni ular. Warga yang sebagian besar pemulung bertahan karena tidak punya pilihan lain.

Sekarang, sekitar 130 KK tinggal di kampung ini, sebagian besar memiliki KTP DKI agar bisa mengakses program bantuan. Rumah semi permanen dibangun karena status tanah “menumpang”. Walau begitu, kelurahan dan pihak terkait pernah membantu, misalnya membuat jalan semen dan program pendidikan nonformal bagi anak-anak.

YOI School: cahaya untuk anak-anak pemulung
Tepat di tengah kampung berdiri YOI School, sebelumnya dikenal sebagai Bilik Pintar atau Obama Edu Care, yang didirikan oleh Teguh Suprobo, 58 tahun, akrab disapa Bowo. “Awalnya homeschooling kecil. Murid hanya tiga sampai lima orang, sekarang banyak yang kuliah,” ujarnya. Bowo menjelaskan, sekolah ini memberikan bimbingan baca-tulis, berhitung, dan keterampilan sederhana. Relawan dari mahasiswa dan kerja sama dengan Universitas Al-Azhar menyediakan akses belajar gratis. Bahkan satu anak, Bora, kini kuliah hukum di Al-Azhar.

Sekolah ini juga mendapat dukungan dari YBM PLN, yang menyediakan fasilitas belajar, alat permainan, dan MCK. “Bilik Pintar bukan sekadar tempat belajar, tapi simbol perubahan. Anak-anak bisa membaca, menulis, dan bermimpi,” kata Bowo. Kehadiran sekolah ini membuat kampung yang dulunya dikenal sebagai Kampung Gasong kini dinamai Kampung Cahaya, sebagai simbol semangat pengetahuan yang menyinari warganya.

Akses dan suasana Kampung Cahaya
Kampung Cahaya hanya berjarak beberapa ratus meter dari Mal Kota Kasablanka. Dari pintu TPU Menteng Pulo, jalur kanan beraspal nyaman untuk kendaraan roda dua, sementara jalur kiri masih berupa tanah bercampur kerikil, becek saat hujan. Rumah semi permanen berdiri rapat, rata-rata berukuran 3×4 meter, menampung empat hingga enam orang. Di sela rumah, jemuran pakaian tergantung berdekatan dengan karung besar berisi plastik bekas. Aroma plastik, sisa makanan, dan udara lembap bercampur panas matahari, membuat udara terasa berat.

Anak-anak bermain bola plastik, sementara pemulung memilah botol dan kardus. Kontras dengan gedung pencakar langit di kejauhan, kehidupan di sini menjadi potret nyata ketimpangan kota.

Pengelolaan sampah dan peran pemerintah
Yogi Ikhsan, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menyebutkan pengelolaan sampah di Menteng Atas diarahkan ke Dipo Menteng Atas, yang kini sedang dikembangkan menjadi TPS3R. “Pembinaan sudah dilakukan tiga kali, dan program pemberdayaan berupa sosialisasi serta edukasi akan dilaksanakan,” kata Yogi. Namun, belum ada rencana khusus untuk komunitas pemulung. Pemerintah tetap berupaya agar pengelolaan sampah berjalan baik dan berdampak positif bagi masyarakat.

Kehidupan sosial dan solidaritas warga
Bagi warga Kampung Cahaya, solidaritas adalah kunci bertahan. Warga membantu urusan administrasi seperti KTP, KK, dan surat nikah. Anak-anak yang sebelumnya tidak bisa sekolah kini berkesempatan belajar dan mendapatkan KJP. Meski tinggal di tanah kuburan, warga tetap menyalakan harapan. “Kami hidup keras, tapi ingin anak-anak tidak dipandang sebelah mata. Kami boleh tinggal di atas kuburan, tapi punya semangat hidup dan cita-cita sama seperti orang lain di Menteng,” ujar Asmonah.

Kehidupan di Kampung Cahaya mengajarkan Jakarta tentang ketahanan, solidaritas, dan kreativitas. Tumpukan sampah yang bagi sebagian orang menjijikkan, menjadi sumber penghidupan. Rumah sempit dan aroma yang menusuk tidak menghalangi warga untuk bekerja, belajar, dan bermain. Anak-anak belajar membaca dan berhitung, sementara orang dewasa bekerja keras menata barang yang diambil dari kota.

Kontras antara kehidupan Kampung Cahaya dan kota modern di sekitarnya menggambarkan dua wajah Jakarta kemegahan dan keberlimpahan di satu sisi, dan ketahanan serta kreativitas dari warga pemulung di sisi lain. Dari tumpukan sampah, dari keterbatasan ruang dan akses, muncul cahaya pengetahuan, solidaritas, dan harapan. Kampung Gasong kini menjadi Kampung Cahaya, simbol kecil bagaimana semangat manusia dapat menembus keterbatasan dan menyalakan perubahan, satu langkah, satu buku, dan satu senyum anak-anak di tengah kota yang tak pernah tidur.

406SHARES3.2kVIEWS

Bagikan Artikel & Dapat Reward

Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.

WhatsAppFacebookXTelegram
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.

Baca Artikel Selanjutnya:

Heboh Pelecehan di Transjakarta, Pramono Minta Tindakan Tegas →

🔥 Postingan Populer

  • 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
  • Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
  • Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
  • Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
  • Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
🔗 Cari alat parkir

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

tranding Berita lokal budaya Indonesia Keberlanjutan Kota dan Kota

Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis

Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.

💚 Donasi via Sociabuzz 📲 Bagikan WA f Facebook 𝕏 Share

Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.

KOMPASIA.COM

Kirim Berita dan Press Release Anda

Kirim berita, press release, artikel promosi, opini, kegiatan perusahaan, komunitas, atau informasi publik lainnya kepada Redaksi Kompasia.

✉ Kirim ke Redaksi ❤ Dukung dengan Donasi
Email Redaksi: redaksikompasia@gmail.com
Materi yang dikirim akan melalui proses pemeriksaan dan penyuntingan redaksi sebelum diterbitkan.

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen memenuhi standar Dewan Pers untuk menyajikan informasi yang akurat, tajam, dan berimbang.

Tags:

Berita lokalbudayaIndonesiaKeberlanjutanKota dan Kota
Author

Redaksi Kompasia

Follow Me
Other Articles
Saat Sampah Hancurkan Penghidupan Nelayan Teluk Jakarta
Previous

Saat Sampah Hancurkan Penghidupan Nelayan Teluk Jakarta

Heboh Pelecehan di Transjakarta, Pramono Minta Tindakan Tegas
Next

Heboh Pelecehan di Transjakarta, Pramono Minta Tindakan Tegas

Seedbacklink

Berita Populer

1Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Kesehatan28 Jul 2026
2Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

hukum27 Jul 2026
3Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Berita Utama25 Jul 2026
4REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

Berita Utama25 Jul 2026
5Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Berita Nasional23 Jul 2026

agama angkutan Asia Astrolog berinvestasi berita Berita lokal bisnis budaya ekonomi hiburan Horoskop Hukum Pidana Indonesia infrastruktur insiden kasus kriminal Kebijakan Publik kejahatan kekayaan klub sepak bola kontroversi Laporan Polisi masalah sosial masyarakat media berita militer olahraga palang parkir pemerintah pendidikan peradilan pidana perbintangan perdagangan Polisi dan Penegakan Hukum politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan sejarah sepak bola teknologi tranding uang undang undang Undang viral

Populer

images (3)
TRI MATRA
OABh0Gb9JJdvaAF4AdqN6wExVwSX0kuIVak1kmxe
Trbratanews

Recent Posts

  • Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause
  • Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi
  • Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS
  • REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air
  • Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Recent Comments

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Mei 2025
  • April 2025

Categories

  • advertorial
  • agama
  • Analisis
  • bali
  • Berita Internasional
  • Berita Nasional
  • Berita Utama
  • Bisnis
  • Bisnis dan Teknologi
  • Ekonomi
  • hukum
  • Investasi
  • Jawa Barat
  • Kalimantan
  • karimun
  • Keamanan dan Kenyamanan Perumahan
  • Kepulauan Riau
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Kriminal
  • Layanan Parkir
  • Medan
  • Nasional
  • news
  • Olahraga
  • Opini
  • parkir
  • pendidikan
  • Politik
  • Profil Tokoh
  • Review
  • Riau
  • Sosial
  • Sport
  • Sumatera Barat
  • Teknologi
  • Teknologi dan Inovasi
  • Teknologi Parkir
  • Tokoh
  • tranding
  • Tutorial
  • UMKM
  • Viral
  • wisata

Kirim Opini,berita anda

email: redaksikompasia@gmail.com

Seedbacklink
☕ Traktir Kopi

Dukung kami dengan traktir kopi agar kami bisa terus berkarya.

☕ Traktir Sekarang

Copyright 2026 — KPA News. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme