Jumat, 9 Oktober 2026Indonesia
Kompasia
Trending

Menteri Bahlil Didesak Diganti, Pakar Politik: Cari yang Lebih Pintar

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Januari 2, 2026 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
βœ“ Penulis Verified

Kritik terhadap Penanganan Listrik Pasca-Bencana di Aceh

Pemulihan listrik pasca-bencana yang terjadi di wilayah Sumatra, khususnya Provinsi Aceh, menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendapat kritik keras, terutama dari akademisi dan pengamat politik. Mereka menilai bahwa laporan yang disampaikan oleh menteri tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.

Profesor Ikrar Nusa Bakti, seorang pengamat politik senior, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap penanganan yang dilakukan oleh Bahlil. Ia menilai bahwa klaim pemerintah pusat tentang pemulihan listrik terlalu optimistis dan tidak sesuai dengan realitas yang dialami masyarakat Aceh. Menurut Ikrar, banyak daerah masih mengalami pemadaman listrik hingga beberapa hari setelah laporan tersebut diberikan.

Ikrar menyoroti fakta bahwa sebagian besar listrik yang diklaim telah pulih ternyata berasal dari generator set (genset) yang bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Hal ini memperlihatkan ketimpangan logika dalam klaim pemerintah. Di satu sisi, BBM sulit diakses oleh masyarakat, sementara di sisi lain, pemerintah menyebut listrik telah menyala melalui genset.

Dalam sebuah wawancara, Ikrar menyampaikan kritiknya secara gamblang. Ia menilai pernyataan Bahlil terkesan berlebihan dan tidak disertai kejujuran penuh mengenai kondisi kelistrikan di Aceh. β€œCoba Anda perhatikan, Bahlil itu sampai berbusa-busa menjelaskan bahwa listrik akan menyala dalam hitungan hari. Dia bilang 93 persen, sekian persen, dan seterusnya,” ujar Ikrar.

Selain itu, Ikrar juga menyoroti pemberitaan media nasional yang memperlihatkan secara visual masih banyak wilayah di Aceh yang terjebak dalam kegelapan pascabencana. Berdasarkan kondisi tersebut, ia menilai sudah selayaknya Presiden melakukan evaluasi serius terhadap posisi Menteri ESDM.

Protes dari Warga Aceh

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pemulihan listrik di Aceh telah mencapai 93 persen pada 7 Desember 2025, lalu meningkat menjadi 97 persen sehari kemudian. Namun, pernyataan tersebut justru memicu gelombang protes dari masyarakat. Pada Senin malam (8/12/2025), sejumlah wilayah di Aceh masih mengalami pemadaman listrik total.

Kondisi ini dialami warga di berbagai daerah, mulai dari Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, hingga Gayo Lues. Padahal wilayah-wilayah tersebut termasuk daerah yang terdampak banjir dan longsor cukup parah. Sejumlah warga mengaku rumah mereka masih gelap tanpa aliran listrik sejak berhari-hari.

Hilmi Irsyadi, warga Gampong Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, menyebut listrik di desanya padam sejak Minggu pagi dan belum juga menyala hingga Senin malam. Pernyataan serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, M Zubair MH, yang menyatakan bahwa seluruh Bireuen masih gelap, listrik belum menyala.

Dari Kabupaten Gayo Lues, laporan pemadaman juga datang dari Syarifah Aini, warga Banda Aceh yang sedang menjadi relawan Psikososial Mitigation Disaster Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh. Ia mengungkapkan bahwa karena listrik belum menyala, dirinya harus menuju Masjid Taqwa Muhammadiyah setempat untuk mendapatkan sinyal internet dan kebutuhan air.

Permintaan Maaf dari Menteri ESDM

Menanggapi kritik yang berkembang, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya menyampaikan permohonan maaf terkait penanganan pemulihan jaringan listrik di Aceh. Dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025), Bahlil menyatakan pemerintah akan meningkatkan upaya dan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.

β€œKami akan terus fokus dan secara totalitas menggunakan seluruh kekuatan negara untuk mempercepat pemulihan sektor energi, khususnya di Provinsi Aceh,” ujarnya. Bahlil mengakui bahwa di lapangan terdapat berbagai kendala yang sulit diprediksi, sehingga proses pemulihan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang yang melanda Aceh serta dampaknya bagi masyarakat. β€œJika dalam pelayanan kami masih terdapat kekurangan, kami mohon maaf. Semoga upaya yang dilakukan tim di lapangan dapat mempercepat pemulihan bagi saudara-saudara kita di Aceh,” tutupnya.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia