Senin, 14 September 2026Indonesia
Kompasia
Viral

Mereka yang Untung & Tertipu Saat Badai Kripto Melanda

Oleh Pimpinan Redaksi · Oktober 17, 2025 · 4 menit baca Penulis Terverifikasi
✓ Penulis Verified

, JAKARTA – Semua dimulai dari tweet pertama Presiden Amerika Serikat (AS)Donald Trumpisu kebijakan tarif terbaru terhadap Tiongkok di Truth Social, Jumat (10/10/2025) malam. Persaingan dagang kembali memanas. Pasarkripto pun seketika terjun bebas.

Peristiwa tersebut memicu rekor pencairan terbesar dalam sejarah kripto, dengan nilai lebih dari 19,16 miliar dolar AS atau sekitar 319 triliun rupiah, dan melibatkan hingga 1,61 jutatraderdilikuidasi hanya dalam satu hari, berdasarkan data CoinGlass.

Sebagai perbandingan, CoinGlass juga mencatat bahwa likuidasi massal kali ini jauh lebih parah dibandingkan rekor sebelumnya, yaitu pertengahan April 2021 dengan total likuidasi sebesar US$9,94 miliar. Saat itu, likuidasi dipicu oleh kampanye besar-besaran.anti money laundering(AML) aset digital, serta munculnya larangan kegiatan usaha penambangan aset digital,mining halt) oleh segelintir negara.

Likuidasi dalam konteks ini memiliki kaitan erat dengan penggunaanleveragedalam instrumen turunan kontrak jangka panjang ataufutures, utamanya tipe perpetual futures(perps) yang tidak memiliki masa berlaku.

Fasilitas ini membantu pedagang memperoleh keuntungan dalam kondisi pasar tertentubullish maupun bearish, lewat mengambil posisi long (berharap harga naik) atau short (berharap harga turun). 

Posisi longartinya menandatangani kontrak pembelian aset pada harga saat ini, kemudian menjualnya pada harga tujuanstrikeyang lebih tinggi saat menutup posisi. Sebagai tambahan, posisishort, berarti menandatangani kontrak penjualan aset pada harga saat ini, kemudian membeli kembali di masa depan pada harga target yang lebih murah untuk menutup posisi.

Sebagai contoh, traderpemain yang tertarik mendapatkan paparan pasar Bitcoin (BTC) senilai US$100 dapat menggunakan leverage 25 kali dan hanya memerlukan modalinitial marginsebesar 4 dolar AS untuk membuka posisilong atau short di target harga tertentu.

Secara sederhana, sistem ini memenuhi kebutuhan modal yang rendah untuk kemampuan.trading maksimal. 

Namun, malapetaka akan terjadi ketika arah pasar bergerak bertolak belakang dengan prediksi. Bukan keuntungan yang melimpah,trader berpotensi kehilangan seluruh modalnya. 

Praktis, dalam konteks market crash kripto kali ini, para trader di posisi longmerupakan pihak yang paling sedih setelah keluarnya pernyataan Trump mengenai Tiongkok.

Misalnya, platform analisis mata uang kriptoon-chainArkham di akun X secara resmi melaporkan kinerja akun Jeffrey Huang yang dikenal sebagai Machi Big Brother, seorang musisi hip-hop keturunan Taiwan sekaligus tokoh dalam dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi), sebagai salah satu nama besar yang terkena likuidasi karena membuka beberapa posisi.long untuk Ether (ETH).

Dompet Machi Big Brother sebelumnya tercatat memiliki potensi keuntungan sebesar US$44,5 juta, tetapi kini mengalami penurunan dengan margin minus US$10 juta. Modal ETH yang sebelumnya bernilai sekitar US$79 juta juga hilang.

Lucu, Huang di akun X-nya @machibigbrother menjawab cuitan Arkham dengan singkat sambil mengonfirmasi, “Menyenangkan selama itu berlangsung.”

Banyak netizen X merespons cuitan Huang dengan nada mendukung, sebagian besar berisi pesan agar ia tetap semangat dan bangkit kembali di masa depan.

Sangat berbeda secara total, terdapat juga kisah dari salah satu akun paus kripto (whale) yang justru menghasilkan keuntungan mencapai US$192 juta atau setara Rp3,1 triliun di tengah situasimarket crash, dengan memperhatikan ketepatan waktu dalam menempati posisishort.

Internet heboh karena akunwhaleini terlalu mencurigakan, karena ketahuan membuka 9 posisishortdengan leverage 10 kali untuk memasang taruhan pada harga BTC dan ETH akan turun di platform Hyperliquid, tepat beberapa menit sebelum cuitan Trump muncul.

Beberapa investigator on-chaindi media sosial juga bertindak untuk mengungkaptraderyang kemudian dikenal sebagai ‘Trump insider whale’ itu. Selanjutnya, nama mantan CEO BitForex Garrett Jin muncul sebagai anggota jaringantrader di balik akun tersebut.

Garrett dalam responsnya di platform X mengakui memiliki koneksi dengan akun tersebutwhaleitu. Namun, bukan berisi uang pribadinya, melainkan pengelolaan dana klien. Ia juga membantah terlibatinsider tradingdi balik ketidakstabilan pasar kripto akibat pernyataan Trump.

Selanjutnya, ia menyatakan keputusan untuk mengambil posisishortItu hanyalah strategi lindung nilai belaka. Ia juga mengakui memiliki dasar analisis teknikal dengan memperhatikan indikator-indikator sentimen negatif pada saham teknologi Amerika Serikat, karena aset tersebut memiliki risiko yang secara alami sejalan dan sangat berkaitan erat dengan risiko dalam lingkungan kripto.

Garrett juga mengolok-olok orang-orang yang mencurigainya hanya karena telah merancang strategi yang tepat pada saat yang tepat.

Sentimen Bearish

Dilansir dari Reuters, Direktur Trading Monex USA Juan Perez mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik memiliki dampak signifikan terhadap dasar aset kripto, karena nilainya bergantung pada seberapa kuat keyakinan pasar terhadap kelangsungan inovasi dan perubahan besar dalam dunia kripto.

Secara sederhana, inovasi akan terhenti di tengah ketidakstabilan. Investor cenderung lebih aktif mencari aset-aset yang lebih menjanjikan.safe havendan instrumen keuangan konvensional yang sedang berkembang secara dinamis di tengah ketidakpastian.

“Selama hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat belum stabil dan pasar modal fokus pada sektor teknologi, maka kripto akan menghadapi kesulitan karena sifat dasarnya cenderung baik ketika aset yang lebih mapan bergerak terbatas,” katanya, dikutip pada Rabu (15/10/2025).

Senada, lembaga riset platform derivatif kripto asal Australia, Derive.xyz menganggap para investor kripto cenderung memandang pasar berdasarkan tren yang sedang berlangsung.bearishhingga akhir tahun. Indikatornya berdasarkan posisi yang umum di pasar berjangka dan opsi.

“Sentimen ke arah shortmenunjukkan semakin banyak orang merasa cemas terhadap tren harga yang terus menurun,” kata Head of Research Derive.xyz Sean Dawson seperti dikutip Reuters, Rabu (15/10/2025).

Sean mengungkap sentimen traderdi pasar opsi juga cenderung menuju ‘putatau hak untuk menjual dengan mempertaruhkan harga akan turun lebih dalam, sebagai strategi lindung nilai atau mengamankan keuntungan yang telah diperoleh.

Misalnya, pasar opsi untuk BTC semakin ramai denganstrikeharga sebesar US$115.000 dan US$95.000 berlaku hingga tanggal kedaluwarsa 31 Oktober. Untuk ETH,strikeharga mengalami peningkatan menjadi US$3.600 pada 17 Oktober dan mencapai US$4.000 di akhir bulan ini, bahkan turun menjadi US$2.600 menjelang tanggal kedaluwarsa 26 Desember.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama “Kompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

💬 Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

☕ Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia