Penerapan Ujian Lisan Pembelajaran IPS pada Siswa di Era Modern untuk Pendidikan Berkualitas

Mahasiswa PK (Praktek Kependidikan) UNY di SMP Negeri 1 Piyungan menerapkan ujian lisan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VII sebagai salah satu bentuk evaluasi kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (2/9/2026) di kelas, yang menjadi bagian upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi dan keberanian siswa di era modern saat ini.Pelaksanaan ujian lisan dilakukan sebgai alternatif penilaian yang tidak hanya mengukur kemampuan siswa dalam mengingat materi, tetapi juga melihat kemampuan mereka dalam memahami, menjelaskan dan mengemukakan pendapat secara langsung. Dalam kegiatan tersebut, siswa diberikan beberapa pertanyaan berkaitan dengan materi IPS yang telah dipelajari selama proses pembelajaran.Sebelum ujian dimulai, guru memberikan arahan kepada siswa mengenai mekanisme pelaksanaan dan aspek yang akan dinilai. Siswa kemudia dipanggil secara bergantian untuk menjawab pertanyaan secara lisan. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan materi pembelajaran IPS dan kemampuan siswa sehingga proses penilaian dapat berlagsung secara terarah.Melalui ujian lisan ini, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi, tetapi juga belajar menyampaikan jawaban dengan jelas dan percaya diri. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara, berfikir kritis, menghafal, serta merenpons pertanyaan secara langsung.Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola pembelajaran pada era modern, kemampuan kmunikasi menjadi salah satu keterampilan yang penting bagi siswa. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran memberikan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi, tetapi siswa tetap perlu memiliki kemampuan untuk mengolah informasi, menyampaikan gagasan, dan berkomunikasi secara efektif.Penerapan ujian lisan dalam pembelajaran IPS juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk menghadapi situasi komunikasi secara langsung. Siswa belajar untuk berpikir sebelum menjawab, menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang dimiliki, serta bertanggung jawab terhadap jawaban yang diberikan.Salah seorang siswa N mengungkapkan bahwa ujian lisan memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan ujian tertulis. β€œujian lisan seru buk karena kita bisa belajar menghafal dan mengingat materi yang di kasih,” tuturnya.Meskipun pada awalnya beberapa siswa merasa gugup ketika harus menjawab pertanyaan secara langsung, pelaksanaan ujian lisan dapat menjadi sarana untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri. Guru juga dapat memberikan suasana yang mendukung agar siswa tidak hanya berorientasi pada hasil nilai, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang positif.Penerapan ujian lisan tersebut memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. SDG 4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Dalam konteks pembelajaran IPS, ujian lisan dapat menjadi salah satu bentuk evaluasi yang mendorong pengembangan kemampuan akademik sekaligus keterampilan komunikasi siswa.Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik, tetapi mencakup pengembangan berbagai kemampuan yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, percaya diri, dan menyampaikan gagasan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan zaman.Melalui penerapan ujian lisan, pembelajaran IPS diharapkan dapat menjadi lebih bermakna bagi siswa. Kegiatan evaluasi tidak hanya digunakan untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan di era modern. SMP Negeri 1 Piyungan diharapkan dapat terus mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran dan penilaian sebagai bagian dari upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Disclaimer Penulis
Seluruh isi, data, opini, klaim, gambar, tautan, dan materi dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis, yaitu Angger Intaniar Partiwi. Pengelola situs tidak selalu memiliki kendali editorial atas materi yang dikirimkan penulis. Status penulis: Belum Terverifikasi.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Bagikan WhatsApp β†—Bagikan Facebook β†—

Berita Terkait