IMG 20230228 WA0047 1.jpg
Insiden Penganiayaan Guru SMK oleh Oknum TNI AL di Talaud Memicu Ketegangan
Insiden penganiayaan terhadap seorang guru SMK di wilayah Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, telah memicu ketegangan dan perhatian publik. Kejadian ini terjadi setelah dugaan pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah oknum TNI Angkatan Laut (AL) di kawasan Pelabuhan Melonguane. Peristiwa ini berawal dari teguran korban terhadap kebisingan pesta karaoke yang berlangsung hingga larut malam.
Awal Mula Kekacauan
Menurut laporan warga setempat, situasi mulai memanas pada malam hari. Lokasi pelabuhan yang biasanya tenang tiba-tiba berubah menjadi tempat keributan akibat teriakan dan dentuman musik karaoke. Para pelaku, diduga dalam pengaruh alkohol, terus melontarkan makian dan kata-kata kasar selama beberapa jam.
Pada pukul 23.30 WITA, Berkam Saweduling, guru SMK yang menjadi korban, mencoba menegur kelompok tersebut. Namun, teguran itu justru memicu amarah para oknum. Mereka langsung mengejar dan mengeroyok korban secara membabi buta. Aksi tersebut menimbulkan rasa marah dan kekecewaan di kalangan warga setempat.
Reaksi Warga dan Keributan
Beberapa warga mengaku merasa terganggu dengan kejadian ini. Dalam rekaman video yang beredar, tampak seorang pria berambut ikal dan mengenakan baju hitam berteriak keras sambil memaki. Teriakan tersebut membuat warga keluar dari rumah dan berkumpul di lokasi kejadian. Beberapa di antaranya bahkan merekam kejadian menggunakan ponsel, sehingga suasana semakin ramai dan menjadi sorotan publik.
Aksi keributan juga menyebabkan adu mulut antara para oknum dengan sejumlah ibu-ibu yang berada di sekitar lokasi. Situasi sempat memanas, hingga memicu ketegangan di ruang publik.
Tuntutan Tegas dari Tokoh Adat
Tokoh adat Melonguane, Godfried Timpua, memberikan pernyataan tegas terkait insiden ini. Ia menuntut agar pimpinan Lanal Melonguane bertanggung jawab atas dugaan penganiayaan terhadap Berkam Saweduling. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat akan terus mengawal proses hukum hingga kasus ini diselesaikan secara adil dan transparan.
“Kami masyarakat adat Melonguane tidak menerima tindakan penganiayaan terhadap warga kami. Kasus ini harus diusut tuntas dan pelakunya harus dihukum sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Godfried juga menambahkan bahwa dalam adat kami, penumpahan darah tidak bisa diselesaikan begitu saja. Pihak yang bersalah harus meminta maaf secara terbuka kepada adat dan masyarakat, serta menjalankan kewajiban adat sebagai bentuk ganti rugi dan pemulihan hubungan sosial.
Penahanan Terduga Pelaku
Pasca aksi tuntutan masyarakat Melonguane, lima oknum prajurit TNI AL terduga pelaku penganiayaan telah diamankan oleh POM AL Lanal Melonguane. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kasus penganiayaan ditangani secara profesional dan transparan, serta memberikan kepastian hukum bagi korban dan masyarakat.
Godfried Timpua, yang turut hadir bersama Wakil Bupati Kepulauan Talaud Anisya G. Bambungan, mengonfirmasi bahwa lima orang pelaku kini berada di sel tahanan POM AL Lanal Melonguane. Dalam rekaman video yang dikirimkan kepada wartawan, terlihat lima orang oknum prajurit TNI AL berdiri tegap di dalam jeruji besi. Di luar sel tahanan, terlihat tokoh adat dan pejabat setempat.
Penahanan ini juga menjadi respons atas desakan masyarakat adat dan tokoh-tokoh lokal yang menuntut pertanggungjawaban aparat terkait. Mereka berharap proses hukum dapat berjalan dengan cepat dan adil, sehingga keadilan bagi korban dan keluarganya tercapai.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
