Renungan Katolik Harian 12 Juli 2026: Firman Tuhan yang Menghidupkan
Oleh: RD. Leo Mali
Uskup Keuskupan Agung Kupang dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, NTT.
Kepri KPA NEWS –Pesan Tuhan hari ini menyatakan satu hal: Firman Tuhan memiliki kekuatan yang memberi kehidupan. Firman Allah bukan hanya kumpulan kata yang menghibur telinga.
Kata-Nya adalah kekuatan yang bekerja, mengubah jiwa, dan menghasilkan kehidupan baru. Nabi Yesaya menggambarkan perkataan Tuhan seperti hujan dan salju yang turun dari langit.
Air hujan tidak pernah turun tanpa tujuan. Ia meresap ke dalam tanah, menyuburkan bumi, mengakibatkan biji berkecambah, memberi makan manusia, dan akhirnya kembali melanjutkan siklus kehidupan.
Demikian pula perkataan Tuhan. Tuhan sendiri berjanji, “Firman yang keluar dari mulut-Ku tidak akan kembali kepada-Ku tanpa hasil, tetapi akan melakukan apa yang Kukehendaki dan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yes. 55:11).
Karena hal tersebut, Injil hari ini mengingatkan kita akan satu hal yang sangat penting. Tuhan adalah sang penabur.
Benih yang ditebar selalu berkualitas. Ia merupakan penabur yang dermawan; ia menabur ke segala tempat tanpa membeda-bedakan.
Masalahnya bukan terletak pada biji, melainkan pada tanah, yaitu media di mana biji itu jatuh. Ada tanah yang keras, berbatu, penuh dengan semak duri, dan ada juga tanah yang subur.
Dengan kata lain, masalah terbesar dalam kehidupan rohani bukanlah apakah Tuhan masih berbicara kepada kita. Tuhan tidak pernah berhenti.
berbicara.
Masalahnya adalah: apakah hati kita masih bersedia mendengarkan Firman Tuhan, yang hanya akan menghasilkan buah jika bertemu dengan hati yang terbuka.
Hati yang rendah hati, yang ingin percaya, yang bersedia bertobat, dan tetap setia meskipun kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Terkadang kita mengira bahwa tanah yang subur adalah hidup yang bebas dari masalah.
Padahal sebaliknya. Banyak orang yang hidup dalam kenyamanan kehilangan imannya. Sebaliknya, banyak orang yang hidup sederhana justru semakin kuat dalam hubungannya dengan Tuhan.
Tanah yang baik tidak ditentukan oleh kondisi kehidupan, melainkan oleh sikap hati. Oleh karena itu, Yesus tidak meminta kita mencari benih yang berbeda.
Ia mengajak kita untuk membersihkan hati kita. Hati yang keras akibat rasa benci perlu diperbaiki dengan pengampunan.
Hati yang penuh dengan duri berupa kecemasan, ambisi, dan cinta terhadap dunia perlu dibersihkan. Hati yang sempit perlu diisi lebih dalam melalui doa, Ekaristi, dan kesetiaan terhadap Firman.
Bila hati menjadi tanah yang subur, firman Tuhan akan tumbuh secara alami dan menghasilkan buah yang berlimpah.
Minggu ini saya mengunjungi Amanuban Timur, daerah pedalaman di Timor Tengah Selatan.
Di sana saya berjumpa dengan seorang ibu yang kondisi ekonominya sangat sulit. Namanya Ibu Regina. Ia adalah seorang ibu tunggal yang sedang merawat tiga orang anak.
Setiap hari ia berkebun dan menyulam demi memenuhi kebutuhan keluarganya serta menutupi biaya pendidikan anak-anaknya. Kehidupannya penuh dengan perjuangan dan jauh dari kesenangan.
Di desanya, beberapa keluarga berubah agama akibat tekanan ekonomi.
Beberapa orang datang menawarkan bantuan finansial, namun di sisi lain mengajak mereka untuk meninggalkan iman yang telah mereka terima.
Bagi seseorang yang sedang berjuang melawan kemiskinan, tawaran semacam itu pasti bukan tantangan yang mudah untuk ditolak.
Namun Ibu Regina tetap berdiri teguh. Ia tidak menyesali kehidupannya dan selalu penuh sukacita. Ia juga tidak menggantikan imannya dengan kemudahan sementara.
Ia yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan seseorang yang menaruh harapan kepada-Nya. Dengan tekun ia bekerja, berdoa, serta mendidik ketiga anaknya.
Ia memang tidak memiliki banyak kekayaan, namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih bernilai: hati yang menjadi lahan yang subur untuk firman Tuhan.
Cerita Ibu Regina merupakan bukti bahwa firman Tuhan benar-benar memberikan kehidupan.
Kata-kata itu tidak selalu mengubah situasi secara langsung, tetapi senantiasa membawa perubahan pada orang yang menerimanya.
Kata-kata itu menciptakan ketekunan dalam kesulitan, kesetiaan di tengah godaan, serta harapan dalam keterbatasan. Setiap kali dalam perayaan Ekaristi, kita mendengarkan Firman Tuhan.
Semoga setiap kali kita tidak hanya menjadi pendengar, tetapi menjadi seperti tanah yang subur.
Karena ketika firman Tuhan menyentuh hati yang terbuka, firman tersebut tidak akan pernah kembali sia-sia. Ia akan berkembang, berbuah, dan membawa harapan bagi dunia melalui kehidupan kita.
Kata-kata Tuhan yang kita dengar, mampu mengubah kehidupan kita dari dalam, dan mungkin saja Ia mengubah kita tanpa kita menyadari. Amin. (*)
Terus ikuti berita Kepri KPA NEWS di Google News
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang