Minggu, 4 Oktober 2026Indonesia
Kompasia
Budaya

Sebelum Hujan Turun, Orang Jawa Punya Cara Membaca Alam

Oleh JendelaNusantara Β· Oktober 4, 2026 Β· 2 menit baca Penulis Belum Terverifikasi
Lumajang β€” Di tengah perkembangan teknologi yang membuat prakiraan cuaca dapat diketahui hanya melalui telepon genggam, masyarakat pedesaan Jawa masih memiliki cara sederhana untuk membaca perubahan alam.Di Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, salah satu tanda yang menarik perhatian warga adalah munculnya jamur liar ketika kondisi tanah dan lingkungan mulai lembap.Bagi sebagian masyarakat Jawa, kemunculan jamur pada kondisi tertentu sejak dahulu sering dikaitkan dengan tanda bahwa hujan akan segera datang. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pengalaman mengamati alam secara terus-menerus dan diwariskan antargenerasi.Bagi masyarakat yang hidup dekat dengan sawah dan kebun, perubahan kecil di lingkungan bukan sekadar pemandangan. Kelembapan tanah, arah angin, awan, hingga perubahan perilaku sejumlah makhluk hidup dapat menjadi bagian dari pengalaman dalam memperkirakan perubahan cuaca.Secara ilmiah, jamur memang tumbuh dan berkembang pada kondisi lingkungan yang mendukung, termasuk kelembapan yang cukup. Namun, kemunculan jamur tidak dapat dijadikan kepastian bahwa hujan akan turun.Di sinilah nilai budaya dari pengetahuan tersebut menjadi menarik. Masyarakat tidak sedang menggantikan prakiraan cuaca modern, melainkan menunjukkan bagaimana pengalaman hidup membentuk cara manusia memahami lingkungan.Di Desa Kedungrejo, pengetahuan sederhana itu masih menjadi bagian dari cerita keseharian. Jamur yang tiba-tiba muncul di tanah lembap dapat mengingatkan masyarakat bahwa perubahan alam sedang berlangsung.Di era ketika informasi cuaca tersedia dalam hitungan detik, kemampuan membaca alam mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat warisan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat pedesaan.Sebab sebelum manusia memiliki aplikasi untuk membaca cuaca, alam sudah lebih dulu menjadi β€œbuku” yang dipelajari dari generasi ke generasi.
Disclaimer Penulis
Seluruh isi, data, opini, klaim, gambar, tautan, dan materi dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis, yaitu JendelaNusantara. Pengelola situs tidak selalu memiliki kendali editorial atas materi yang dikirimkan penulis. Status penulis: Belum Terverifikasi.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tentang Penulis

JendelaNusantara

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia