Lumajang β Di tengah perkembangan teknologi yang membuat prakiraan cuaca dapat diketahui hanya melalui telepon genggam, masyarakat pedesaan Jawa masih memiliki cara sederhana untuk membaca perubahan alam.Di Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, salah satu tanda yang menarik perhatian warga adalah munculnya jamur liar ketika kondisi tanah dan lingkungan mulai lembap.Bagi sebagian masyarakat Jawa, kemunculan jamur pada kondisi tertentu sejak dahulu sering dikaitkan dengan tanda bahwa hujan akan segera datang. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pengalaman mengamati alam secara terus-menerus dan diwariskan antargenerasi.Bagi masyarakat yang hidup dekat dengan sawah dan kebun, perubahan kecil di lingkungan bukan sekadar pemandangan. Kelembapan tanah, arah angin, awan, hingga perubahan perilaku sejumlah makhluk hidup dapat menjadi bagian dari pengalaman dalam memperkirakan perubahan cuaca.Secara ilmiah, jamur memang tumbuh dan berkembang pada kondisi lingkungan yang mendukung, termasuk kelembapan yang cukup. Namun, kemunculan jamur tidak dapat dijadikan kepastian bahwa hujan akan turun.Di sinilah nilai budaya dari pengetahuan tersebut menjadi menarik. Masyarakat tidak sedang menggantikan prakiraan cuaca modern, melainkan menunjukkan bagaimana pengalaman hidup membentuk cara manusia memahami lingkungan.Di Desa Kedungrejo, pengetahuan sederhana itu masih menjadi bagian dari cerita keseharian. Jamur yang tiba-tiba muncul di tanah lembap dapat mengingatkan masyarakat bahwa perubahan alam sedang berlangsung.Di era ketika informasi cuaca tersedia dalam hitungan detik, kemampuan membaca alam mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat warisan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat pedesaan.Sebab sebelum manusia memiliki aplikasi untuk membaca cuaca, alam sudah lebih dulu menjadi βbukuβ yang dipelajari dari generasi ke generasi.
Disclaimer Penulis
Seluruh isi, data, opini, klaim, gambar, tautan, dan materi dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis, yaitu JendelaNusantara. Pengelola situs tidak selalu memiliki kendali editorial atas materi yang dikirimkan penulis. Status penulis: Belum Terverifikasi.
Bagikan Artikel & Dapat Reward
Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.
Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis
Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.
Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.
Disclaimer & Kebijakan RedaksiKompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.
Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama βKompasiaβ digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.
Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.
Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke
redaksi@kompasia.com
dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.
Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.