Kampung Cahaya: Kehidupan di Tengah Kota yang Tak Terlihat
Di tengah kemajuan pesat Jakarta, tepat di belakang Mal Kota Kasablanka yang megah, berdiri sebuah kampung yang seolah tak tercantum dalam peta modern Ibu Kota. Nama kampung ini adalah Kampung Cahaya, atau yang dikenal juga sebagai Kampung Gasong, berada di Kelurahan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dari kejauhan, gedung-gedung kaca memantulkan sinar biru langit. Namun, hanya beberapa ratus meter di bawah bayangannya, berdiri deretan rumah semi permanen berdinding seng dan papan bekas. Di sinilah kehidupan lain Jakarta berlangsung, sunyi, padat, dan beraroma plastik terbakar.
Akses menuju kampung ini dimulai dari pintu masuk TPU Menteng Pulo. Jalan kecil bercabang dua, satu jalur bercampur kerikil dan satu lagi jalan beraspal yang cukup nyaman dilalui motor. Di kiri kanan jalan, nisan-nisan makam berdiri rapat, menandakan bahwa kehidupan dan kematian di sini hanya terpisah beberapa langkah.
Saat menelusuri kawasan ini pada siang hari, motor-motor melintas perlahan di antara makam. Suasana sunyi itu berubah ketika memasuki area perkampungan. Rumah-rumah berdiri rapat tanpa jarak. Rata-rata berukuran 3×4 meter, dihuni empat hingga enam orang. Jemuran pakaian menggantung di antara karung-karung besar berisi botol dan plastik. Bau menusuk menyeruak campuran plastik terbakar, sisa makanan, dan udara lembap dari tumpukan sampah setinggi hampir dua meter.
Di bawah terik panas, panas yang memantul dari atap seng membuat udara seperti menekan dada. Namun, di balik aroma dan sesak itu, aktivitas warga berjalan tanpa henti. Seorang bapak dengan topi lusuh memanggul karung besar menuju timbangan. Di sudut lain, beberapa perempuan duduk memilah plastik bening sambil bercakap ringan. Anak-anak berlarian menendang bola plastik di lorong sempit.
Kontras itu begitu tajam, di satu sisi ada gunungan sampah, di sisi lain terdapat menara kaca perkantoran berdiri megah di kejauhan. Kampung ini hidup dari sisa kota, menjadi cermin keras wajah urban Jakarta yang tak sepenuhnya bersih dan gemerlap.
Dari Rawa-rawa Jadi Rumah
Salah satu tokoh warga yang menjadi tumpuan komunitas adalah Asmonah (48), pemilik warung kecil di tengah kampung. Di rumah sederhana yang juga berfungsi sebagai tempat berkumpul warga, ia bercerita tentang perjalanan hidupnya di Kampung Cahaya.
“Saya sudah 18 tahun tinggal di sini. Bukan yang pertama, tapi gelombang kedua. Penghuni pertama itu rombongan Bu Parmi, sekitar 25 tahun lalu,” ujarnya.
Asmonah datang ke Kampung Gasong pada 2007, setelah penggusuran besar-besaran di wilayah Menteng Atas. Tak ada relokasi, hanya bantuan Rp 1.000.000 per kepala keluarga. Jumlah yang tak cukup untuk menyewa kontrakan di Jakarta.
“Akhirnya banyak yang pindah ke sini, ke daerah kuburan Menteng Pulo. Waktu itu masih rawa-rawa, penuh pohon. Tapi karena kepepet, ya dijalani. Ular pun enggak takut,” jelas Asmonah.
Menurut Asmonah, mayoritas warga yang datang adalah pemulung. Mereka hidup dari barang-barang yang terbuang, di antaranya plastik, botol, kardus, dan logam bekas. Pemerintah pernah menawarkan relokasi ke rumah susun Pondok Kopi dan Rawa Bebek, tetapi banyak yang menolak karena sumber penghasilan mereka ada di sekitar kawasan ini.
“Kalau dipindah, mereka bisa kelaparan. Pemerintah harusnya bukan cuma kasih tempat, tapi juga penghidupan,” ujarnya.
Kini, sekitar 130 kepala keluarga masih bertahan di Kampung Cahaya. Sebagian besar sudah memiliki KTP DKI agar bisa mengakses BPJS, KJP, dan bantuan sosial lainnya. Rumah mereka semi permanen, tanpa hak milik, berdiri di atas tanah yang statusnya “menumpang”. Pernah beberapa kali alat berat datang untuk menggusur, tetapi warga masih bertahan.
Sekolah di Tengah Sampah
Di tengah tumpukan karung dan seng berkarat, berdiri bangunan coklat berukuran delapan meter: YOI School (Yayasan Obama Indonesia), yang dulu dikenal sebagai Bilik Pintar (Bilpin). Tempat ini menjadi jantung kehidupan sosial dan pendidikan di Kampung Cahaya. Di dindingnya tergantung papan tulis, rak buku, dan hasil gambar tangan anak-anak.
Pendiri sekolah ini, Teguh Suprobo (58) yang akrab disapa Bowo, suami dari Asmonah, bercerita tentang awal berdirinya sekolah tersebut. “Sekitar tahun 2012–2013 kami bikin homeschooling kecil. Muridnya cuma tiga sampai lima orang. Tempatnya di garasi rumah warga,” tuturnya.
Bowo, yang lahir di Brebes, Jawa Tengah, menamai sekolah itu Obama Edu Care, terinspirasi dari semangat perubahan. “Kami ingin menyalakan cahaya pengetahuan di kampung ini, makanya disebut Kampung Cahaya,” ujarnya.
Kini, YOI School menjadi simbol perubahan. Melalui kerja sama dengan Universitas Al-Azhar Indonesia, setiap tahun satu anak dari kampung ini mendapat beasiswa kuliah. Salah satunya anak pemulung yang kini menempuh studi hukum semester tujuh.
“Dulu orang mengenal tempat ini sebagai Kampung Gasong. Sekarang kami ingin dikenal sebagai Kampung Cahaya, karena dari sinilah cahaya pengetahuan itu lahir,” ucap Bowo bangga.
Sekolah ini bertahan berkat bantuan dari relawan dan Yayasan Baitul Maal PLN (YBM PLN) sejak 2019. Dari yayasan inilah datang bantuan fasilitas belajar, alat permainan, hingga MCK umum.
Potret Warga Tua: Hidup dan Bertahan
Nuria (60) adalah salah satu penghuni paling lama. Ia datang sejak Kampung Gasong belum berbentuk kampung. “Dulu cuma ada tiga rumah. Tetangga saya itu bukan orang, tapi ular dan kambing. Dulu masih rawa,” katanya sambil tersenyum kecil.
Kini, rumahnya berdiri di ujung barat kampung. Di dindingnya tergantung kalender, poster doa, dan panci bekas. Air masih diambil dari sumur gali karena belum ada sambungan PAM. “Dulu susah, numpang air ke rumah orang,” katanya.
Soal beberapa upaya penggusuran, Nuria hanya bisa pasrah. “Kalau disuruh pergi, saya mau makan dari mana? Anak saya kerja serabutan. Saya cuma ingin bisa tinggal di sini sampai akhir hayat,” ujarnya lirih.
Sementara itu, Cipto (75), pemulung senior yang tinggal tak jauh dari pemakaman, telah hidup di sini lebih dari 30 tahun. “Saya dulu tinggal di Manggarai. Waktu digusur untuk pembangunan terminal, saya pindah ke sini. Dulu katanya tanah ini tanah TPU. Ya tinggal saja, enggak ada pilihan,” kenangnya.
Ia dan istrinya memulung sejak pagi hingga malam. Pendapatan harian mereka sekitar Rp 50.000–Rp 100.000. “Kalau capek, ya istirahat. Sekarang sudah tua, jadi seadanya saja,” katanya.
Tumpukan sampah di dekat rumah Cipto kini mencapai hampir dua meter. Warga sempat kesulitan membuang sampah karena tempat penampungan sementara sedang dibangun ulang. “Mobil enggak bisa masuk, jadi sampahnya numpuk. Ada juga orang luar buang ke sini, dikira tempat pembuangan,” ujarnya.
Pengelolaan Sampah Sedang Dibenahi
Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhsan, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di wilayah Menteng Atas sepenuhnya ditangani oleh Dipo Menteng Atas. “Kami sedang meningkatkan fasilitas Dipo menjadi TPS3R Menteng Atas, yang saat ini dalam tahap konstruksi,” kata Yogi.
Ia menambahkan, pembinaan kepada warga pemulung telah dilakukan beberapa kali bersama anggota DPRD. Ke depan, DLH merencanakan program sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah agar lebih tertata. “Memang belum ada program khusus untuk komunitas pemulung Kampung Gasong, tapi prinsipnya DLH selalu berupaya agar pengelolaan sampah bisa berdampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Kampung Tak Terlihat di Tengah Kota
Meski hanya sepelemparan batu dari pusat perbelanjaan modern, kehidupan di Kampung Cahaya berjalan dalam realitas yang berbeda. Di sini, konsep “ruang kota” menjadi paradoks di tengah wilayah elit Menteng, berdiri kampung dengan MCK terbatas dan jalan sempit berlumpur.
Pengamat tata kota dari ITB, Denny Zulkaidi, mengatakan bahwa fenomena kampung dalam kota seperti ini bisa memiliki nilai penting jika memiliki karakter sosial yang khas. “Kampung dalam kota bisa dilestarikan kalau punya karakter luar biasa atau nilai sosial tertentu,” ujarnya.
Kampung Cahaya sejatinya adalah mosaik sosial Jakarta ruang bagi mereka yang tersingkir dari sistem kota, tapi tetap bertahan dengan martabatnya.
Harapan yang Masih Menyala
Di bawah bayangan gedung-gedung tinggi, suara anak-anak Kampung Cahaya masih terdengar jelas dari dalam ruang belajar YOI School. Suara tawa mereka bercampur dengan deru motor dan gemerisik plastik orkes kehidupan yang menjadi tanda bahwa kampung ini masih bernapas.
“Kami boleh tinggal di atas tanah kuburan, tapi kami punya semangat hidup dan cita-cita yang sama seperti orang lain di Menteng,” kata Asmonah menutup percakapan.
Kampung Cahaya mungkin tak memiliki alamat resmi di peta kota. Namun bagi 130 keluarga yang tinggal di sana, kampung ini adalah ruang harapan, tempat mereka menanam arti hidup di antara tumpukan sampah dan batu nisan, menyalakan cahaya kecil di sudut gelap Jakarta.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
