1538732739.jpeg
Ancaman Longsoran Susulan di Kampung Pasir Kuning Masih Mengancam
Bencana longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari (24/1/2026), belum sepenuhnya berakhir. Warga masih diimbau untuk tetap waspada karena potensi ancaman dari longsoran susulan masih ada, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
- ancaman longsoran susulan di kampung pasir kuning masih mengancam bencana longsor yang terjadi di kampung pasir kuning, desa pasirlangu, kecamatan cisarua, kabupaten bandung barat, pada sabtu dini hari (24/1/2026), belum…
- warga masih diimbau untuk tetap waspada karena potensi ancaman dari longsoran susulan masih ada, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
- pakar geologi dari institut teknologi bandung (itb), imam achmad sadisun, menjelaskan bahwa di bagian hulu aliran sungai masih terdapat indikasi sumbatan material longsoran.
- kondisi ini sangat berbahaya karena bisa menahan air dalam jumlah besar dan sewaktu-waktu jebol, memicu aliran lumpur yang membahayakan permukiman di hilir.
Daftar Isi
Pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa di bagian hulu aliran sungai masih terdapat indikasi sumbatan material longsoran. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa menahan air dalam jumlah besar dan sewaktu-waktu jebol, memicu aliran lumpur yang membahayakan permukiman di hilir.
“Jika hujan deras kembali terjadi, akumulasi air di balik sumbatan itu bisa lepas dan membawa material dalam jumlah besar. Ini yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Ancaman Datang dari Hulu
Meskipun secara peta kerawanan wilayah tersebut tergolong zona longsor rendah hingga menengah, posisi permukiman yang berada di sepanjang alur sungai tetap memiliki risiko tinggi. Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah berdiri, melainkan sering kali dari material dari lereng di bagian hulu yang menjadi sumber bencana.
“Yang sering tidak disadari masyarakat, rumah mereka aman dari longsoran lokal, tetapi berada di jalur aliran material dari hulu. Itu yang membuat dampaknya bisa sangat besar,” tambah Imam.
Ia juga menekankan pentingnya vegetasi dalam menjaga kestabilan lereng. Akar tanaman membantu mengikat tanah sekaligus memperlambat masuknya air hujan ke dalam lapisan tanah, sehingga mengurangi potensi kejenuhan.
Mitigasi Perlu Menyentuh Hulu hingga Hilir
Untuk menekan risiko kejadian serupa, Imam menyarankan beberapa langkah mitigasi berbasis kajian geologi. Pertama, stabilisasi lereng di bagian hulu yang berpotensi longsor dan menutup alur sungai. Kedua, pemantauan jalur aliran menggunakan perangkat pendeteksi dini seperti sensor getaran atau kamera pemantau. Ketiga, pembangunan struktur pengendali di sepanjang alur sungai, seperti tanggul pengarah, pagar penahan material, hingga kolam penampung sedimen.
“Yang paling merusak bukan airnya, tetapi material yang terbawa. Batu, lumpur, dan kayu itulah yang menghancurkan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar peka terhadap tanda-tanda alam. Salah satu indikator berbahaya adalah ketika aliran sungai tiba-tiba mengecil atau bahkan berhenti saat hujan masih turun. Jika terjadi, warga sebaiknya segera menjauh dari bantaran sungai.
Kombinasi Faktor Alam Picu Bencana
Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa longsor di Pasir Kuning tidak bisa dilihat sebagai kejadian tunggal. Secara geologi, wilayah Bandung Barat tersusun atas material vulkanik tua yang memiliki lapisan tanah pelapukan cukup tebal. Pada batas antara tanah pelapukan dan batuan dasar, kerap terbentuk bidang gelincir.
Ketika hujan turun dalam waktu lama, air akan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh dan melemahkan kekuatan lereng. “Begitu tanah jenuh, kekuatan gesernya turun drastis. Di situlah longsor mudah terjadi,” katanya.
Ia menambahkan, hujan dengan intensitas sedang tetapi berlangsung lama bisa sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam waktu singkat.
Aliran Lumpur Jadi Penyebab Kerusakan
Dari hasil analisis, diketahui bahwa longsor di hulu membentuk bendungan alami yang menutup alur sungai. Material tanah, pasir, dan batu tertahan di belakangnya hingga akhirnya jebol dan mengalir deras ke bawah.
“Yang menerjang permukiman bukan longsoran di sekitar rumah warga, melainkan material dari hulu yang terbawa alur sungai,” ujar Imam.
Aliran semacam ini dikenal sebagai mudflow atau aliran debris, yang memiliki daya rusak jauh lebih besar dibandingkan banjir biasa karena membawa material padat dalam jumlah besar.
Imam berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar mitigasi bencana tidak hanya fokus di lokasi permukiman, tetapi juga mencakup kawasan hulu sebagai sumber utama ancaman.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Share this content:
