AA1WkYkR.jpg
Tindakan Israel yang Mengancam Akses Umat Muslim ke Masjid Al-Aqsa
Beberapa waktu terakhir, otoritas Israel dianggap mengambil langkah-langkah yang membatasi akses umat Muslim ke Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat suci terpenting bagi umat Islam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan protes dari kalangan pemimpin Muslim, termasuk mantan mufti besar Yerusalem, Sheikh Ekrima Sabri.
- tindakan israel yang mengancam akses umat muslim ke masjid al-aqsa beberapa waktu terakhir, otoritas israel dianggap mengambil langkah-langkah yang membatasi akses umat muslim ke masjid al-aqsa, salah satu tempat suci te…
- hal ini menimbulkan kekhawatiran dan protes dari kalangan pemimpin muslim, termasuk mantan mufti besar yerusalem, sheikh ekrima sabri.
- sheikh ekrima sabri, yang juga menjadi kepala dewan islam tertinggi di yerusalem, menyampaikan penyesalannya atas rencana pemerintah israel untuk membatasi akses ke masjid tersebut selama bulan ramadan.
- ia menilai tindakan ini sebagai upaya untuk memperburuk situasi dan menciptakan ketegangan di kawasan yang sudah rentan konflik.
Daftar Isi
Sheikh Ekrima Sabri, yang juga menjadi kepala Dewan Islam Tertinggi di Yerusalem, menyampaikan penyesalannya atas rencana pemerintah Israel untuk membatasi akses ke masjid tersebut selama bulan Ramadan. Ia menilai tindakan ini sebagai upaya untuk memperburuk situasi dan menciptakan ketegangan di kawasan yang sudah rentan konflik.
Pembatasan akses ini dilakukan setelah pengangkatan Mayor Jenderal Avshalom Peled sebagai komandan polisi baru di Yerusalem Timur yang diduduki. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, terutama oleh Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir, yang dikenal memiliki sikap keras terhadap isu-isu terkait wilayah Yerusalem.
Menurut laporan media Israel seperti Haaretz, Ben-Gvir tampaknya berupaya memicu konflik dengan berbagai cara. Dalam wawancaranya dengan Anadolu, Sheikh Sabri menyatakan bahwa umat Muslim biasanya menyambut Ramadan dengan harapan dan tradisi yang telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Namun, dalam konteks Yerusalem, ia merasa kecewa dengan tindakan otoritas pendudukan yang membatasi akses ke Masjid Al-Aqsa.
Pembatasan Akses Selama Ramadan
Pihak berwenang Israel telah melarang puluhan pemuda Palestina memasuki masjid Al-Aqsa. Bahkan, mereka mengumumkan bahwa pembatasan ini tidak akan diperlonggarkan selama bulan puasa. Hal ini berarti jumlah jamaah yang hadir di masjid akan lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sheikh Sabri menilai bahwa tindakan ini bertentangan dengan hak dasar umat Muslim untuk beribadah. Ia menekankan bahwa pembatasan ini dapat mengganggu pelaksanaan puasa dan ritual-ritual penting selama Ramadan.
Sebelum perang dimulai pada 7 Oktober 2023, ratusan ribu warga Palestina dari Tepi Barat biasanya melakukan perjalanan ke Yerusalem Timur untuk berdoa di Masjid Al-Aqsa. Namun, sejak saat itu, otoritas Israel semakin memperketat kontrol di pos pemeriksaan militer, sehingga akses penduduk Tepi Barat ke Yerusalem menjadi lebih sulit.
Dari sisi administrasi, hanya sejumlah kecil orang yang mendapatkan izin masuk ke Yerusalem Timur. Menurut warga Palestina, proses pengajuan izin ini sangat rumit dan tidak transparan. Sampai saat ini, belum ada pengaturan khusus yang diumumkan oleh pihak berwenang untuk Ramadan tahun ini.
Tindakan Terhadap Warga Palestina
Dalam beberapa hari terakhir, otoritas Israel juga menerbitkan perintah sementara terhadap ratusan warga Palestina di Yerusalem Timur, terutama para pemuda. Perintah ini melarang mereka memasuki Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan. Beberapa perintah bahkan berlaku hingga enam bulan.
Langkah-langkah ini diambil dalam konteks pemerintahan sayap kanan Israel yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pihak ini menghadapi kritik dari pejabat Palestina karena dianggap mengubah “status quo” yang telah berlangsung lama di kawasan tersebut.
Namun, di sisi lain, otoritas Israel secara sepihak memberikan akses kepada ekstremis Israel untuk memasuki kompleks masjid sejak tahun 2003. Meskipun Departemen Wakaf Islam telah beberapa kali meminta agar tindakan ini dihentikan, sampai saat ini tidak ada tindakan nyata yang dilakukan.
Kebijakan yang Dianggap Rasis
Sheikh Sabri menilai bahwa tindakan Israel bukan hanya terbatas pada Masjid Al-Aqsa. Kebijakan pemerintah Israel juga meluas ke penghancuran lingkungan Palestina di Yerusalem Timur. Ia menilai bahwa kebijakan pembongkaran ini merupakan bentuk diskriminasi, tidak adil, ilegal, dan tidak manusiawi.
Ia juga menyebut bahwa kebijakan ini adalah perpanjangan dari kebijakan Inggris yang tidak adil selama masa kolonialisme di Palestina. Ia mengecam tindakan Israel yang dianggap mengabaikan hak-hak dasar warga Palestina.
Permintaan untuk Bantuan dan Tanggung Jawab
Sheikh Sabri mengimbau masyarakat Arab dan Muslim untuk memberikan dukungan kepada warga Palestina di Yerusalem. Ia juga menyerukan kepada para pemimpin Arab dan Muslim untuk memikul tanggung jawab mereka terhadap Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa.
Ia menekankan bahwa masalah ini bukan hanya tentang lokasi fisik, tetapi juga tentang hak-hak keagamaan dan kebebasan beribadah yang harus dihormati. Ia berharap agar dunia internasional dapat lebih memperhatikan isu ini dan memberikan solusi yang adil bagi semua pihak.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Anggaran Terbatas, RUU Keuangan Berjalan, Apakah Batas Defisit Diperluas?
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Share this content:
