5 Fakta Kekerasan Anak di Serpongg.jpg
Peristiwa Pencabulan Terhadap Anak di Serpong Utara Memicu Keprihatinan
Kasus dugaan pencabulan terhadap empat anak di wilayah Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, kini menjadi sorotan masyarakat. Kejadian ini diduga melibatkan orang terdekat korban, termasuk anggota keluarga sendiri, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar terhadap perlindungan anak.
- peristiwa pencabulan terhadap anak di serpong utara memicu keprihatinan kasus dugaan pencabulan terhadap empat anak di wilayah serpong utara, kota tangerang selatan, kini menjadi sorotan masyarakat.
- kejadian ini diduga melibatkan orang terdekat korban, termasuk anggota keluarga sendiri, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar terhadap perlindungan anak.
- menurut rita hendrawati soebagio, ketua aliansi cinta keluarga indonesia (aila), kasus ini harus dipahami sebagai kejahatan seksual terhadap anak, bukan sekadar perbuatan cabul.
- ia menekankan bahwa tindakan yang dilakukan pelaku harus ditangani dengan tegas agar dapat memberikan rasa aman dan keadilan bagi para korban.
Daftar Isi
Menurut Rita Hendrawati Soebagio, Ketua Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA), kasus ini harus dipahami sebagai kejahatan seksual terhadap anak, bukan sekadar perbuatan cabul. Ia menekankan bahwa tindakan yang dilakukan pelaku harus ditangani dengan tegas agar dapat memberikan rasa aman dan keadilan bagi para korban.
“Kejahatan ini tidak boleh dianggap biasa. Ini adalah tindakan yang sangat serius dan memerlukan penanganan yang cepat dan tegas. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” ujar Rita.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok rentan dalam struktur keluarga. Jika pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat, dampaknya akan lebih kompleks, baik secara psikologis maupun sosial. Data kepolisian menunjukkan bahwa sekitar 43 persen pelaku kekerasan seksual terhadap anak berasal dari lingkungan keluarga atau orang terdekat.
“Ini menjadi alarm bahwa perlindungan anak tidak hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga keluarga besar, masyarakat, hingga negara,” tambah Rita.
Peran Orang Tua dan Dampak Psikologis
Dalam kasus ini, ibu korban menjadi pihak yang aktif melaporkan kejadian tersebut kepada aparat penegak hukum. Namun, ia menghadapi tekanan psikologis sekaligus rasa bersalah karena selama ini bekerja dan meninggalkan anak-anaknya di rumah.
Anak sulung korban bahkan dikabarkan mengalami trauma berat dan merasa bersalah karena tidak mampu melindungi adik-adiknya. “Anak ini memikul beban yang seharusnya tidak dia tanggung. Trauma mereka akan semakin berat kalau kasus ini berlarut-larut tanpa kepastian hukum,” kata Rita.
Sebelumnya, pelaku sempat belum ditangkap, sehingga korban dan keluarga diliputi rasa takut. Namun, aparat kepolisian kini telah mengamankan terduga pelaku dan tengah melakukan proses hukum lebih lanjut. Rita mendesak aparat kepolisian untuk segera bertindak cepat agar tidak memperparah dampak psikologis korban.
“Anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual membutuhkan rasa aman, kepastian hukum, dan pendampingan psikologis segera. Negara harus hadir dan menunjukkan bahwa hukum benar-benar melindungi anak-anak,” ujarnya.
Respons Masyarakat dan Perlindungan Bersama
Kasus ini juga menjadi sorotan mengingat Tangerang Selatan selama ini menyandang predikat Kota Layak Anak. Predikat tersebut, menurut Rita, tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus tercermin dalam respons cepat dan perlindungan nyata bagi anak.
Masyarakat diimbau untuk lebih peduli dan berani melapor jika menemukan indikasi kekerasan terhadap anak. “Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, hingga negara harus benar-benar hadir,” pungkas Rita.
Pengakuan Ibu Korban
Seorang ibu berinisial H mengungkap dugaan pencabulan yang dialami anaknya di sebuah kontrakan di kawasan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan. Korban dalam kasus ini empat anak yang masih di bawah umur, yakni berinisial A (11), I (5), M (3), serta satu anak lainnya yang merupakan anak tetangga.
H awalnya tidak curiga ketika anaknya mengeluh sakit pada bagian anus. Ia mengira keluhan tersebut disebabkan gangguan pencernaan biasa. Namun, keluhan itu terus berulang selama beberapa hari.
Informasi awal justru terungkap dari sekolah setelah seorang siswa yang merupakan anak tetangga H terlihat memiliki bekas kemerahan di bagian leher. Awalnya, anak tersebut mengaku hanya bercanda dengan temannya. Namun, guru merasa ada kejanggalan dan membawa anaknya bersama rekannya ke ruang kepala sekolah untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Berdasarkan cerita dari pihak sekolah, anak-anak mengaku sempat diberi minuman sebelum kejadian. “Katanya disuruh minum obat, dicampur sama minuman,” kata H menirukan keterangan yang ia terima dari pihak sekolah.
H mengaku baru mengetahui dugaan peristiwa tersebut sekitar dua minggu lalu. Setelah mendapat informasi tersebut, ia mencoba menanyakan langsung kepada anak-anaknya untuk memastikan kebenarannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, H menyebut anaknya yang berusia lima tahun mengalami dampak paling serius. “Yang lima tahun yang parah. Karena dia sudah sering,” katanya sambil menangis.
Menurut penuturan anaknya, setiap kali mencoba melawan, ia mendapat tekanan dan ancaman sehingga merasa takut untuk bercerita. “Setiap dia berontak katanya dibekep badannya, terus diancem. Dibilang jangan sampai bilang ke orangtua,” ujar H.
H berharapan dan memohon kepada aparat penegak hukum agar segera menuntaskan kasus yang menimpa anak-anaknya. Dengan nada penuh emosi, sambil menangis ia meminta keadilan ditegakkan tanpa berlarut-larut. Ia berharap pihak kepolisian dapat segera mengambil langkah dan memberikan kepastian hukum. “Saya mohon dengan sangat. Saya ingin keadilan untuk anak-anak saya,” ujarnya.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
