Pemanasan (
warming-up) merupakan tahapan penting dalam pembelajaran PJOK, namun seringkali dianggap monoton dan kurang menarik oleh murid berupa lari keliling lapangan atau peregangan statis. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan pendekatan pemanasan berbasis permainan (
game-based warming-up) yang dikenalkan kepada murid kelas X SMA Negeri 1 Minggir agar pemanasan lebih menyenangkan, interaktif, dan tetap memenuhi fungsi fisiologisnya.Pendekatan ini diperkenalkan oleh Nuzulli Arifianto, mahamurid Program Studi PJKR Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah menjalani praktik pengalaman lapangan di SMA Negeri 1 Minggir. Permainan pemanasan dirancang dengan prinsip
low-organized games: aturan sederhana, tanpa peralatan rumit, dapat diikuti seluruh murid, serta tetap mencapai tujuan pemanasan yaitu meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh, dan kelenturan otot. Bentuknya antara lain permainan estafet, permainan reaksi kelompok, dan kompetisi ringan antar-kelompok kecil.Murid dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan mengikuti instruksi permainan yang disusun. Respons murid sangat positif, ditandai meningkatnya keterlibatan aktif, antusiasme, serta interaksi sosial selama pemanasan berlangsung, jauh berbeda dari suasana pemanasan konvensional sebelumnya.Inovasi ini mendapat apresiasi dari guru pamong PJOK di SMA Negeri 1 Minggir:“Pendekatan pemanasan berbentuk permainan yang diperkenalkan oleh Nuzulli sangat menarik. Murid menjadi lebih antusias dan tidak merasa terbebani. Saya sangat setuju metode ini terus dikembangkan.” Pendapat Bapak Lukas, Guru Pamong PJOKPemanasan berbasis permainan terbukti meningkatkan motivasi dan antusiasme murid, tetap memenuhi fungsi fisiologis pemanasan, melatih kerja sama serta pengambilan keputusan cepat, dan menciptakan suasana belajar yang tidak monoton. Hal ini sejalan dengan SDGs 3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Dukungan positif dari Bapak Lukas memperkuat bahwa inovasi Nuzulli Arifianto ini layak dikembangkan dan diterapkan lebih luas untuk pembelajaran PJOK yang lebih bermakna dan menyenangkan.
Disclaimer Penulis
Seluruh isi, data, opini, klaim, gambar, tautan, dan materi dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis, yaitu Nuzulli Arifianto nuzulliarifianto.2023. Pengelola situs tidak selalu memiliki kendali editorial atas materi yang dikirimkan penulis. Status penulis: Belum Terverifikasi.
Bagikan Artikel & Dapat Reward
Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.
Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis
Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.
Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.
Disclaimer & Kebijakan RedaksiKompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.
Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama βKompasiaβ digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.
Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.
Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke
redaksi@kompasia.com
dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.
Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.