Proyeksi Peningkatan Rasio Pembayaran Dividen Emitter BUMN
Di bawah naungan Danantara, emiten pelat merah diproyeksikan meningkatkan rasio pembayaran dividen untuk mencapai target setoran di tahun 2025. Target ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari Rp 85 triliun menjadi Rp 140 triliun. Hal ini menunjukkan strategi yang lebih agresif dalam memperkuat posisi keuangan dan memenuhi harapan investor.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa perusahaan berencana menghimpun dana hingga US$ 40 miliar dalam lima tahun ke depan. Dana tersebut akan berasal dari modal ekuitas tanpa menggunakan leverage. Dengan penggunaan leverage, jumlah dana yang bisa diinvestasikan bisa mencapai US$ 250 miliar. Hal ini menunjukkan visi jangka panjang Danantara dalam memperluas portofolio investasi.
Dalam laporan KOMPASIA.COM, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa Danantara sudah memiliki target dividen sebesar Rp 90 triliun untuk tahun 2025. Selain itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara juga berencana menyalurkan dana hasil dividen BUMN ke pasar modal. Sejumlah dana sebesar Rp 16 triliun akan masuk ke sejumlah saham, memberikan peluang bagi investor untuk mendapatkan keuntungan.
Beberapa emiten pelat merah telah menetapkan target pembagian dividen untuk tahun 2025. Contohnya, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang ingin mempertahankan rasio pembagian dividen (dividend payout ratio) sebesar 25% dari laba inti. Pada tahun 2024, JSMR membagikan dividen sebesar Rp 1,13 triliun, atau sekitar 25% dari laba bersih. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan dividen per saham mencapai Rp 156,23 per saham, naik 312,61% dari tahun sebelumnya.
Analisis dari Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Angga Septianus, menunjukkan bahwa peningkatan target dividen Danantara dapat meningkatkan rasio pembagian dividen. Namun, hal ini juga bisa tetap stabil jika kinerja emiten meningkat. “Kebijakan dividen sudah diperhitungkan dengan baik tanpa membebani operasional perusahaan,” ujarnya.
Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan, menilai bahwa jalan terbaik untuk mencapai target adalah dengan meningkatkan laba emiten BUMN. Namun, jika melihat performa laba BUMN hingga semester I-2025, mayoritas mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Oleh karena itu, peningkatan rasio pembagian dividen menjadi salah satu cara untuk menutupi target setoran.
Danantara kemungkinan besar akan mengandalkan BUMN sektor perbankan. Alasan utamanya adalah adanya kebijakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di empat bank himbara, yaitu Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Tabungan Negara (BBTN). Porsi sumbangan dari empat bank ini terhadap setoran dividen total pada tahun 2024 mencapai 70%.
Selain itu, beberapa emiten bank pelat merah berpotensi menaikkan rasio pembagian dividen. BBRI meningkat dari 80% menjadi 86%, BMRI menargetkan DPR sekitar 60%-70%, BBNI berencana menaikkan DPR dari 50% menjadi 60%-65%, sedangkan BRIS dan BBTN cenderung konservatif.
Meskipun ada kenaikan rasio pembagian dividen, kinerja emiten perbankan pelat merah masih stabil. Return on equity (ROE) mereka tinggi, seperti ROE BBRI sebesar 19,9% dan BRIS sebesar 18,2%. Selain itu, cost of fund (CoF) emiten perbankan juga turun setelah penempatan dana pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban dividen ke Danantara masih dalam kapasitas laba yang sehat.
Prospek dan rekomendasi dari Alfred menunjukkan bahwa BUMN perbankan memiliki rasio pembagian dividen tinggi, mulai dari 25% hingga 85%, serta laba yang relatif stabil. Emisi pertambangan seperti ANTM dan PTBA juga menawarkan potensi dividen menarik. Diikuti oleh PGAS dan TLKM.
Namun, untuk menilai daya tarik emiten, perlu dilihat dari besaran dividend yield yang diterima. Meski memiliki rasio pembagian dividen tinggi, jika dividend yield-nya rendah, maka tidak menarik. Hitungan Alfred menunjukkan bahwa dividend yield BMRI dan ANTM berpotensi menarik, dengan angka di atas 10%. Sedangkan BBRI, BBNI, dan PGAS memiliki dividend yield sekitar 8%-9%.
Ke depan, kinerja emiten BUMN perbankan akan sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Kecuali BBTN yang diperkirakan masih akan tumbuh labanya di tahun ini. ANTM juga prospektif hingga akhir tahun 2025 karena kenaikan harga emas.
Dalam jangka pendek, emiten BUMN mungkin masih dibayangi aksi jual asing. Namun, ANTM dan PGAS kemungkinan masih mencatatkan net buy asing hingga akhir 2025. Angga merekomendasikan hold untuk PTBA dan TLKM, sementara buy untuk BMRI dan BBRI.
Harry mengunggulkan BBRI sebagai emiten yang berpotensi memberikan dividen paling menarik, karena memiliki DPR 86% dan dividend yield cukup tinggi. Prospek emiten perbankan pelat merah tetap positif hingga tahun 2026 berkat penurunan suku bunga, stimulus fiskal, dan potensi injeksi dana lebih dari Danantara. Harry merekomendasikan beli untuk BBRI, BMRI, BBNI, BRIS, dan BBTN dengan target harga masing-masing.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
