Kritik terhadap Penanganan Listrik Pasca-Bencana di Aceh
Pemulihan listrik pasca-bencana yang terjadi di wilayah Sumatra, khususnya Provinsi Aceh, menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendapat kritik keras, terutama dari akademisi dan pengamat politik. Mereka menilai bahwa laporan yang disampaikan oleh menteri tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
- kritik terhadap penanganan listrik pasca-bencana di aceh pemulihan listrik pasca-bencana yang terjadi di wilayah sumatra, khususnya provinsi aceh, menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak.
- menteri energi dan sumber daya mineral (esdm) bahlil lahadalia mendapat kritik keras, terutama dari akademisi dan pengamat politik.
- mereka menilai bahwa laporan yang disampaikan oleh menteri tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
- profesor ikrar nusa bakti, seorang pengamat politik senior, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap penanganan yang dilakukan oleh bahlil.
Daftar Isi
Profesor Ikrar Nusa Bakti, seorang pengamat politik senior, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap penanganan yang dilakukan oleh Bahlil. Ia menilai bahwa klaim pemerintah pusat tentang pemulihan listrik terlalu optimistis dan tidak sesuai dengan realitas yang dialami masyarakat Aceh. Menurut Ikrar, banyak daerah masih mengalami pemadaman listrik hingga beberapa hari setelah laporan tersebut diberikan.
Ikrar menyoroti fakta bahwa sebagian besar listrik yang diklaim telah pulih ternyata berasal dari generator set (genset) yang bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Hal ini memperlihatkan ketimpangan logika dalam klaim pemerintah. Di satu sisi, BBM sulit diakses oleh masyarakat, sementara di sisi lain, pemerintah menyebut listrik telah menyala melalui genset.
Dalam sebuah wawancara, Ikrar menyampaikan kritiknya secara gamblang. Ia menilai pernyataan Bahlil terkesan berlebihan dan tidak disertai kejujuran penuh mengenai kondisi kelistrikan di Aceh. “Coba Anda perhatikan, Bahlil itu sampai berbusa-busa menjelaskan bahwa listrik akan menyala dalam hitungan hari. Dia bilang 93 persen, sekian persen, dan seterusnya,” ujar Ikrar.
Selain itu, Ikrar juga menyoroti pemberitaan media nasional yang memperlihatkan secara visual masih banyak wilayah di Aceh yang terjebak dalam kegelapan pascabencana. Berdasarkan kondisi tersebut, ia menilai sudah selayaknya Presiden melakukan evaluasi serius terhadap posisi Menteri ESDM.
Protes dari Warga Aceh
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pemulihan listrik di Aceh telah mencapai 93 persen pada 7 Desember 2025, lalu meningkat menjadi 97 persen sehari kemudian. Namun, pernyataan tersebut justru memicu gelombang protes dari masyarakat. Pada Senin malam (8/12/2025), sejumlah wilayah di Aceh masih mengalami pemadaman listrik total.
Kondisi ini dialami warga di berbagai daerah, mulai dari Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, hingga Gayo Lues. Padahal wilayah-wilayah tersebut termasuk daerah yang terdampak banjir dan longsor cukup parah. Sejumlah warga mengaku rumah mereka masih gelap tanpa aliran listrik sejak berhari-hari.
Hilmi Irsyadi, warga Gampong Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, menyebut listrik di desanya padam sejak Minggu pagi dan belum juga menyala hingga Senin malam. Pernyataan serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, M Zubair MH, yang menyatakan bahwa seluruh Bireuen masih gelap, listrik belum menyala.
Dari Kabupaten Gayo Lues, laporan pemadaman juga datang dari Syarifah Aini, warga Banda Aceh yang sedang menjadi relawan Psikososial Mitigation Disaster Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh. Ia mengungkapkan bahwa karena listrik belum menyala, dirinya harus menuju Masjid Taqwa Muhammadiyah setempat untuk mendapatkan sinyal internet dan kebutuhan air.
Permintaan Maaf dari Menteri ESDM
Menanggapi kritik yang berkembang, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya menyampaikan permohonan maaf terkait penanganan pemulihan jaringan listrik di Aceh. Dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025), Bahlil menyatakan pemerintah akan meningkatkan upaya dan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.
“Kami akan terus fokus dan secara totalitas menggunakan seluruh kekuatan negara untuk mempercepat pemulihan sektor energi, khususnya di Provinsi Aceh,” ujarnya. Bahlil mengakui bahwa di lapangan terdapat berbagai kendala yang sulit diprediksi, sehingga proses pemulihan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang yang melanda Aceh serta dampaknya bagi masyarakat. “Jika dalam pelayanan kami masih terdapat kekurangan, kami mohon maaf. Semoga upaya yang dilakukan tim di lapangan dapat mempercepat pemulihan bagi saudara-saudara kita di Aceh,” tutupnya.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Share this content:
