Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

KPA News KPA News

Pusat Press Release, Advertorial & Direktori Bisnis Indonesia

  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
  • Beranda
  • Berita Utama
    • Keuangan
    • pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    • Sport
    • Teknologi
    • Tokoh
    • Kirim Artikel Baru
    • Viral
  • kebijakan privasi
  • Tentang Kami
  • Sponsor
  • Ensiklopedia Bebas
  • wikipedia teknologi
Subscribe
Close

Search

AA1UNXiX.jpg
tranding

Robert Wolter Mongisidi, Dibunuh Belanda Karena Perjuangannya

By Redaksi Kompasia
Januari 23, 2026 3 Min Read
Komentar Dinonaktifkan pada Robert Wolter Mongisidi, Dibunuh Belanda Karena Perjuangannya

Kehidupan dan Perjuangan Robert Wolter Mongisidi

Robert Wolter Mongisidi adalah seorang pahlawan yang lahir dari desa Bantik, Manado. Meskipun masih muda, usianya hanya 24 tahun ketika ia gugur, ia meninggalkan warisan perjuangan yang tak terlupakan bagi bangsa Indonesia. Wolter dikenal sebagai sosok yang gigih, berani, dan penuh semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Sejak kecil, Wolter sudah menunjukkan sikap yang tidak mudah menyerah. Ia dikenal sebagai anak muda yang bandel dan selalu menghadapi tantangan dengan senyum di wajahnya. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan pernah mencoba meracuni air minum, meski tindakan ini tidak dilakukan secara serius. Namun, semangatnya untuk melawan penjajah sangat kuat. Pesan yang ia tinggalkan adalah: β€œKalau jatuh 9 kali, bangunlah 10 kali.”

Perlawanan di Lapangan Sepak Bola

Salah satu peristiwa penting dalam perjuangan Wolter adalah saat pertandingan sepak bola antara Marinir dan Polisi Militer Belanda. Sebelum rombongan PM datang, kelompok Wolter telah lebih dulu tiba dan menyelenggarakan pertandingan ekstra antara tim Marinir dengan tim SMP Nasional. Saat pertandingan sedang berlangsung, rombongan PM tiba dan ingin menghentikan pertandingan. Wolter dengan lantang berteriak bahwa lapangan itu milik bangsa Indonesia. Akibatnya, pertandingan bubar dan diganti dengan adu jotos yang lebih seru. Tim PM akhirnya pulang dengan wajah kecut, sementara teman-teman Wolter tersenyum bangga.

Perjuangan Awal dan Pemimpinan yang Hebat

Wolter juga aktif dalam berbagai aksi perlawanan. Ia mulai dari hal-hal kecil seperti menempelkan plakat di depan pos Belanda. Tindakan ini membuatnya semakin memahami arti perjuangan. Sebelum bergabung dengan para pejuang, Wolter dicurigai memiliki hubungan dekat dengan Belanda. Untuk membuktikan kesetiaannya, ia menyerang musuh dengan granat dan berhasil melewati ujian tersebut.

Bersama teman-temannya, Wolter menyusun rencana perlawanan bersenjata. Rencana ini disetujui oleh PPNI (Pusat Pemuda Nasional Indonesia). Mereka merebut tempat-tempat strategis yang telah dikuasai NICA. Pertempuran seru terjadi, tetapi karena kalah pengalaman dan persenjataan, banyak yang gugur dan luka. Wolter ditawan, namun ia menunjukkan bakat kepemimpinannya yang luar biasa. Kepintarannya membuat dia dan teman-temannya yang tertawan akhirnya dibebaskan.

Perjuangan di Wilayah Gerilya

Setelah itu, Wolter bergabung dengan pemuda gerilya di Polongbangkeng. Tugasnya sebagai penyelidik membuatnya dikenal sebagai pemimpin yang ulet dan berani. Dia dihormati oleh rekan-rekannya dan menjadi momok yang menakutkan bagi Belanda. Bahkan, Belanda memberikan hadiah bagi siapa pun yang dapat menangkap Wolter hidup atau mati.

Selama usianya yang masih 21 tahun, Wolter terus bergerak di Makassar. Ia sering menyamar sebagai tentara atau polisi Belanda agar bisa masuk ke dalam kota yang dijaga ketat. Kadang-kadang, ia menelanjangi polisi Belanda, merampas seragam dan senjata mereka. Meskipun sering terkepung, ia selalu lolos berkat bantuan rekan-rekannya dan rakyat Sulawesi Selatan.

Perjuangan yang Berakhir dengan Gugur

Selama perjuangannya melawan penjajah, Wolter mengukir sejarah dengan berbagai kisah heroik. Ruang geraknya dipersempit, rekan-rekannya banyak yang gugur atau ditawan, tapi ia tetap berjuang tanpa gentar. Kadang-kadang seorang diri, Wolter berhasil mengacaukan rencana dan operasi tentara Belanda yang dipimpin oleh perwira terlatih dan berpengalaman.

Akhirnya, Belanda melakukan pembersihan besar-besaran yang dipimpin oleh Westerling pada tahun 1946. Pembantaian besar-besaran terjadi, banyak penduduk yang menjadi korban dan desa-desa dibumihanguskan. Wolter mengurangi kegiatannya, tetapi akhirnya ditangkap oleh Dinas Rahasia Belanda. Meskipun Belanda menawarkan kedudukan tinggi dan uang, Wolter menolak. Ia lebih memilih menjaga keyakinannya daripada bekerja sama dengan musuh.

Setelah beberapa kali melarikan diri, akhirnya Wolter ditangkap kembali dan dikirim ke penjara. Di sana, ia menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku. Meskipun begitu, ia tetap memperjuangkan semangatnya. Ketika mendengar kabar tentang kematian sahabatnya, Emmy Saelan, ia hampir kehilangan kontrol dan menyerang musuh secara membabi buta.

Pesan dan Warisan

Wolter juga pernah memiliki ide gila untuk meracuni air PAM, tetapi ide ini ditentang oleh teman-temannya. Ia percaya bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan, tetapi tidak harus menimbulkan korban terlalu banyak. Dalam sidang pengadilan, Wolter dengan tegas menolak tuduhan yang merendahkan martabat perjuangannya. Ia mengaku sebagai komandan operasi yang bertanggung jawab atas semua perbuatan teman-temannya.

Akhirnya, Wolter dihukum mati oleh Belanda. Ia lebih suka mati daripada minta grasi. Pada tanggal 5 September 1949, ia gugur dalam usia 24 tahun. Sebelum wafat, ia berkata kepada teman-temannya: β€œKalau jatuh 9 kali, bangunlah 10 kali.” Dan kepada keluarganya, ia berpesan: β€œBencilah Belanda bukan karena orangnya, melainkan karena nafsu penjajahannya.”

Malalayang, desa kecil dekat Manado, boleh bangga karena di sanalah lahir Robert Wolter Monginsidi. Anak Bantik yang bandel, yang menerima peluru dengan senyum, dan dikuburkan sebagai pahlawan dengan berbantalkan tulisan tangannya: Setia hingga terakhir dalam keyakinan.

713SHARES1.6kVIEWS

Bagikan Artikel & Dapat Reward

Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.

WhatsAppFacebookXTelegram
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.

Baca Artikel Selanjutnya:

Nasib Gadis Berhijab Jadi Tentara Amerika, Syifa Terancam Hukuman, Ibu Tetap Bangga β†’

πŸ”₯ Postingan Populer

  • 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
  • Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
  • Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
  • Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
  • Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
πŸ”— Cari alat parkir

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

tranding Afrika Indonesia sejarah Sejarah Militer dan Perang tragedi

Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis

Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.

πŸ’š Donasi via Sociabuzz πŸ“² Bagikan WA f Facebook 𝕏 Share

Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.

KOMPASIA.COM

Kirim Berita dan Press Release Anda

Kirim berita, press release, artikel promosi, opini, kegiatan perusahaan, komunitas, atau informasi publik lainnya kepada Redaksi Kompasia.

βœ‰ Kirim ke Redaksi ❀ Dukung dengan Donasi
Email Redaksi: redaksikompasia@gmail.com
Materi yang dikirim akan melalui proses pemeriksaan dan penyuntingan redaksi sebelum diterbitkan.

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen memenuhi standar Dewan Pers untuk menyajikan informasi yang akurat, tajam, dan berimbang.

Tags:

AfrikaIndonesiasejarahSejarah Militer dan Perangtragedi
Author

Redaksi Kompasia

Follow Me
Other Articles
AA1UN2EL.jpg
Previous

Profil Kezia Syifa, WNI yang Jadi Tentara AS, Apakah Kewarganegaraannya Terancam?

AA1UJQ7i.jpg
Next

Nasib Gadis Berhijab Jadi Tentara Amerika, Syifa Terancam Hukuman, Ibu Tetap Bangga

Seedbacklink

Berita Populer

1Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause

Kesehatan28 Jul 2026
2Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi

hukum27 Jul 2026
3Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS

Berita Utama25 Jul 2026
4REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air

Berita Utama25 Jul 2026
5Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Berita Nasional23 Jul 2026

agama angkutan Asia Astrolog berinvestasi berita Berita lokal bisnis budaya ekonomi hiburan Horoskop Hukum Pidana Indonesia infrastruktur insiden kasus kriminal Kebijakan Publik kejahatan kekayaan klub sepak bola kontroversi Laporan Polisi masalah sosial masyarakat media berita militer olahraga palang parkir pemerintah pendidikan peradilan pidana perbintangan perdagangan Polisi dan Penegakan Hukum politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan sejarah sepak bola teknologi tranding uang undang undang Undang viral

Populer

images (3)
TRI MATRA
OABh0Gb9JJdvaAF4AdqN6wExVwSX0kuIVak1kmxe
Trbratanews

Recent Posts

  • Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Fase Perimenopause
  • Dukung Transformasi Digital dan Smart City, PT MSM Tiga Matra Satria Perkuat Ekosistem Parkir Nasional Berbasis Teknologi
  • Ekosistem Integrasi Sistem Pembayaran dan Gerbang Tol di Indonesia: Sinergi Infrastruktur, Inovasi RFID, dan Teknologi GNSS
  • REVOLUSI TEKNOLOGI PARKIR INDONESIA 2026 : Bagaimana AI, IoT, dan Cloud Computing Mengubah Wajah Industri Parkir Tanah Air
  • Revolusi Sistem Parkir Indonesia: Mobile Portable Semi-Manless Parking System Solusi Era Digital

Recent Comments

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Mei 2025
  • April 2025

Categories

  • advertorial
  • agama
  • Analisis
  • bali
  • Berita Internasional
  • Berita Nasional
  • Berita Utama
  • Bisnis
  • Bisnis dan Teknologi
  • Ekonomi
  • hukum
  • Investasi
  • Jawa Barat
  • Kalimantan
  • karimun
  • Keamanan dan Kenyamanan Perumahan
  • Kepulauan Riau
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Kriminal
  • Layanan Parkir
  • Medan
  • Nasional
  • news
  • Olahraga
  • Opini
  • parkir
  • pendidikan
  • Politik
  • Profil Tokoh
  • Review
  • Riau
  • Sosial
  • Sport
  • Sumatera Barat
  • Teknologi
  • Teknologi dan Inovasi
  • Teknologi Parkir
  • Tokoh
  • tranding
  • Tutorial
  • UMKM
  • Viral
  • wisata

Kirim Opini,berita anda

email: redaksikompasia@gmail.com

Seedbacklink
β˜• Traktir Kopi

Dukung kami dengan traktir kopi agar kami bisa terus berkarya.

β˜• Traktir Sekarang

Copyright 2026 — KPA News. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme