AA1UXeMB.jpg
Kondisi Berbahaya di Lokasi Longsor
Di tengah upaya penyelamatan korban longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, para relawan dan tim pencarian menghadapi tantangan berat. Bukan hanya cuaca yang tidak menentu, tetapi juga kondisi tanah yang masih labil dan penuh lumpur basah. Setiap langkah yang diambil harus dilakukan dengan hati-hati karena risiko longsoran susulan sangat tinggi.
Devi Amilia, seorang relawan berusia 21 tahun, menceritakan pengalamannya saat turut serta dalam operasi pencarian. Ia sempat terjebak di dalam lumpur hingga selutut setelah kaki menginjak potongan bambu yang digunakan sebagai jembatan. “Awina teh mung tilu, nginjek anu tengah, ngajleung,” ujarnya. Meskipun akhirnya bisa menyelamatkan diri, kejadian itu menunjukkan betapa berbahayanya situasi di lokasi longsor.
Selain Devi, Romi Faisal, relawan dari Satuan Karya Pramuka Wira Kartika 37 Pusdikter, juga mengalami hal serupa. Kaki Romi terbenam dalam tanah lembek hingga paha. Ia menjelaskan bahwa proses pencarian membutuhkan alat bantu seperti kayu atau bambu untuk berjalan di atas permukaan yang tidak stabil.
Tantangan Cuaca dan Risiko Longsoran Susulan
Cuaca menjadi faktor utama dalam kelancaran operasi pencarian. Pada Minggu 24 Januari 2026 siang, proses pencarian sempat dihentikan sementara akibat mendung yang mengisyaratkan kemungkinan hujan. Tim pencarian menggunakan tanda peluit untuk memberi peringatan agar mundur dari lokasi. “Tadi hampir hujan ada peluit tiga kali,” kata Romi. Peringatan ini diberlakukan untuk mencegah risiko longsoran susulan yang bisa membahayakan nyawa para petugas.
Kondisi cuaca yang buruk membuat operasi pencarian terhambat. Namun, ketika cuaca membaik, tim segera melanjutkan kerja mereka. Mereka memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencari korban yang mungkin masih terkubur di bawah tanah.
Area Longsor Masih Labil
Selain cuaca, area longsor masih dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Rekahan baru terlihat di lereng Gunung Burarangrang, menunjukkan bahwa bahaya longsoran susulan masih mengintai. Relawan seperti Romi mengaku harus memiliki mental baja untuk menghadapi suasana yang kadang menimbulkan rasa sedih dan takut.
Ia mengingat saat seorang warga datang ke lokasi dan menangis karena kehilangan seluruh keluarganya. “Ada rasa sedih,” ujarnya. Pengalaman-pengalaman seperti ini menjadi bukti bahwa operasi pencarian tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan mental.
Upaya Pencarian yang Terus Dilakukan
Hingga sore hari, proses pencarian tetap berlangsung meskipun sempat terganggu oleh cuaca buruk. Berbagai alat seperti pacul dan semprotan air digunakan untuk membantu proses pencarian. Selain itu, alat berat juga akhirnya bisa masuk ke lokasi untuk membuka timbunan tanah dan batu yang sulit dijangkau secara manual.
Tim gabungan yang terdiri dari SAR, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan warga setempat telah menyisir beberapa titik yang diduga menjadi tempat korban tertimbun. Kerja keras mereka membuahkan hasil, yaitu dua jasad korban berhasil ditemukan pada pukul 15.00 dan 15.30.
Para pemangku kepentingan memastikan bahwa operasi pencarian akan terus dilanjutkan dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel di lapangan. Meski kondisi masih berisiko, semangat dan komitmen para relawan tetap menjadi tulang punggung dalam upaya penyelamatan korban.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Guru Honorer: Gaji Rp 400.000 Masuk, Cek Tanggal Cair!
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Share this content:
