Jumlah korban dan penyebab longsor Cisarua

AA1UXoIr.jpg

Bencana Longsor di Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu

Pada dini hari tanggal 24 Januari 2026, wilayah Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dilanda bencana longsor. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak Jumat, 23 Januari 2026. Hujan yang berlangsung dalam waktu lama menyebabkan tanah menjadi gembur dan rentan terhadap pergeseran.

Ringkasan Cepat
  • bencana longsor di kampung babakan cibudah, desa pasirlangu pada dini hari tanggal 24 januari 2026, wilayah kampung babakan cibudah, desa pasirlangu, kecamatan cisarua, kabupaten bandung barat, jawa barat, dilanda bencan…
  • peristiwa ini terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak jumat, 23 januari 2026.
  • hujan yang berlangsung dalam waktu lama menyebabkan tanah menjadi gembur dan rentan terhadap pergeseran.
  • longsoran besar terjadi sekitar pukul 03.00 wib, disertai aliran banjir bandang dari kawasan perbukitan.
Daftar Isi
  1. Bencana Longsor di Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu
  2. Perkembangan Penanganan Bencana
  3. Diduga Akibat Urbanisasi
  4. Zona Kerentanan Gerakan Tanah
  5. 🔥 Postingan Populer
  6. Artikel ini bermanfaat?
  7. AutoIndex: Portal Berita & Media Online

Longsoran besar terjadi sekitar pukul 03.00 WIB, disertai aliran banjir bandang dari kawasan perbukitan. Material longsor dan lumpur menerjang pemukiman warga, merusak infrastruktur serta memutus beberapa akses jalan. Pemerintah daerah Jawa Barat telah menetapkan Status Tanggap Darurat sejak 23 Januari 2026 selama 14 hari untuk menangani dampak bencana ini.

Perkembangan Penanganan Bencana

Hingga hari kedua kejadian, yaitu Minggu, 25 Januari 2026, tercatat 25 korban tewas yang berhasil dievakuasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 jenazah telah diidentifikasi melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) oleh Polda Jabar. Sementara itu, sisanya masih dalam proses identifikasi lanjutan.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Jawa Barat, total korban yang terdampak mencapai 113 jiwa. Dari jumlah tersebut, 23 orang berhasil ditemukan selamat, sehingga masih ada 65 orang yang belum ditemukan. Bencana ini juga menyebabkan 680 warga mengungsi. Mereka kini berada di posko pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu. Pengungsi berasal dari dua rukun tetangga, yakni RT 05, RW 11, dan RW 12, karena khawatir akan terjadinya longsor susulan.

Diduga Akibat Urbanisasi

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menduga bahwa pergeseran tanah ini terkait dengan alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan intensif. Alih fungsi lahan ini dipicu oleh urbanisasi yang semakin masif. Menurutnya, urbanisasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat, termasuk meningkatnya permintaan terhadap sayuran seperti kentang, kol, dan paprika—yang merupakan jenis tanaman subtropis.

Tanaman-tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut. Oleh karena itu, petani beralih dari perkebunan biasa ke wilayah perbukitan. “Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” ujar Hanif.

Zona Kerentanan Gerakan Tanah

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah. Gerakan tanah sering terjadi pada lereng yang sudah terganggu baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia, terutama saat curah hujan tinggi dan berlangsung lama.

Ia menambahkan, karakteristik batuan gunung api tua yang lapuk dan struktur geologi memperbesar kerentanan wilayah ini terhadap longsor. Wilayah ini merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup intensif. Tata guna lahan di sekitar lokasi kejadian didominasi oleh pemukiman penduduk, pertanian lahan kering, kebun campuran, serta sebagian kawasan terbuka.

Aktivitas pemotongan lereng untuk pembangunan permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum memadai, turut memengaruhi kestabilan lereng dan memperbesar potensi terjadinya gerakan tanah. Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas.

903SHARES5.2kVIEWS
Rating Artikel: ★★★★★ (5/5 dari 1,913 ulasan)

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Share this content:

8af7c997b935b7c4511af7a8f293314c8b23370a9faab25876ea06c6dd15b252?s=96&d=mm&r=g Jumlah korban dan penyebab longsor Cisarua
Author: Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Kata Kunci Terkait