Hampir Setengah Pekerja Perempuan RI Jadi Tulang Punggung Keluarga
Peran Perempuan dalam Ekonomi Keluarga yang Semakin Dominan
Perubahan mendasar dalam dinamika ekonomi Indonesia kini menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi hanya menjadi bagian dari target pasar atau pelaku usaha sekunder. Sebaliknya, mereka semakin memainkan peran sentral dalam perekonomian keluarga. Hal ini terungkap melalui riset terbaru dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang menunjukkan bahwa fenomena perempuan sebagai pencari nafkah utama (female breadwinners) sudah menjadi realitas yang nyata.
- peran perempuan dalam ekonomi keluarga yang semakin dominan perubahan mendasar dalam dinamika ekonomi indonesia kini menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi hanya menjadi bagian dari target pasar atau pelaku usaha sekunde…
- sebaliknya, mereka semakin memainkan peran sentral dalam perekonomian keluarga.
- hal ini terungkap melalui riset terbaru dalam indonesia millennial and gen z report (imgr) 2027 yang menunjukkan bahwa fenomena perempuan sebagai pencari nafkah utama (female breadwinners) sudah menjadi realitas yang nya…
- perempuan sebagai penggerak utama ekonomi rumah tangga data dari badan pusat statistik (bps) sakernas menunjukkan bahwa sebanyak 14,37 persen dari total pekerja perempuan di indonesia merupakan female breadwinners.
Daftar Isi
Perempuan sebagai Penggerak Utama Ekonomi Rumah Tangga
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sakernas menunjukkan bahwa sebanyak 14,37 persen dari total pekerja perempuan di Indonesia merupakan female breadwinners. Dalam data ini, hampir setengah dari kelompok tersebut—sebesar 47,65 persen—mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas pendapatan rumah tangga. Artinya, mereka adalah satu-satunya sumber penghasilan yang menentukan keberlangsungan hidup keluarga.
Riset ini juga mematahkan stereotipe lama bahwa female breadwinners hanya didominasi oleh janda atau lajang. Faktanya, 51,36 persen dari female breadwinners di Indonesia berstatus menikah. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran struktural besar-besaran, di mana perempuan mulai mengambil alih atau membagi tanggung jawab finansial dalam pernikahan.
Selain itu, ada kelompok rentan lainnya seperti 31,18 persen perempuan janda dan 17,46 persen perempuan lajang yang mandiri secara finansial tanpa dukungan pasangan.
Terganjal Status Administrasi KK, Pekerja Perempuan Jadi “Tak Terlihat”
Meski perempuan sering menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, fakta di lapangan berbeda dengan catatan administratif negara. Riset IMGR 2027 menyebutkan bahwa 40,77 persen dari female breadwinners masih terdaftar sebagai “istri” dalam dokumen kependudukan seperti Kartu Keluarga (KK), bukan sebagai “kepala keluarga”.
Secara hukum, norma pelaporan rumah tangga di Indonesia masih cenderung menunjuk laki-laki sebagai kepala keluarga. Akibatnya, peran perempuan sebagai pencari nafkah utama menjadi tidak terlihat secara formal. Hal ini memiliki dampak domino yang merugikan perempuan, karena sistem negara dan industri menggunakan data KK sebagai acuan utama.
Akses Produk Keuangan Tersumbat
Dampak ketidakterlihatan administratif ini sangat terasa di sektor keuangan, khususnya asuransi dan perbankan. Industri keuangan konvensional selama ini menggunakan dua indikator kaku untuk menilai nasabah: pekerjaan formal dan pendapatan bulanan tetap. Namun, profil female breadwinners justru berbeda.
Riset menunjukkan bahwa 47,53 persen dari female breadwinners bekerja sendiri di sektor informal, sedangkan 7,52 persen merupakan pekerja lepas. Pendapatan mereka bersifat non-linear, dengan bulan-bulan yang ramai dan bulan-bulan yang lebih lambat. Karena itu, sebanyak 73,42 persen dari perempuan ini tidak memiliki perlindungan asuransi kesehatan atau jiwa sama sekali.
Mereka bukan tidak mampu membayar, melainkan sistem asuransi yang ada tidak fleksibel dan tidak dirancang untuk mengakomodasi pola kerja mereka.
Solusi yang Harus Diambil
Kondisi ini menciptakan celah pasar baru bagi industri keuangan jika mereka mau beradaptasi. Berikut beberapa solusi yang direkomendasikan oleh riset IMGR 2027:
- Skema Premi Adaptif: Industri asuransi harus meninggalkan sistem premi bulanan yang kaku. Disarankan untuk menciptakan skema premi yang mengikuti arus kas riil nasabah, termasuk masa tenggang yang realistis dan opsi untuk mengurangi manfaat sementara tanpa pembatalan polis.
- Underwriting Berbasis Transaksi Digital: Karena banyak perempuan bekerja di sektor informal, penilaian kelayakan harus berbasis rekam jejak transaksi digital. Jejak transaksi ini bisa menjadi indikator kapasitas pembayaran yang lebih akurat daripada dokumen formal.
- Reposisi Komunikasi dan Narasi Iklan: Industri asuransi perlu merombak cara berkomunikasi. Iklan yang selama ini menampilkan figur “suami” sebagai pelindung keluarga harus diganti dengan narasi yang lebih inklusif dan mengakui peran perempuan sebagai pilar utama ekonomi keluarga.
Riset ini menegaskan bahwa female breadwinners bukan lagi segmen minoritas yang membutuhkan produk khusus. Mereka adalah representasi masa depan ekonomi Indonesia yang fleksibel dan non-linear. Perusahaan yang cepat merespons sinyal ini akan memiliki peluang besar untuk memenangkan pasar yang selama ini terabaikan.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi SekarangShare this content:













