Saat membicarakan pencarian kehidupan di luar Bumi, banyak orang langsung terpikir pada Mars. Namun, fokus para ilmuwan justru tertuju pada Europa, salah satu bulan alami Jupiter. Bulan yang tertutup es ini dianggap sebagai lokasi paling potensial untuk menemukan kehidupan dalam tata surya, meskipun hingga kini belum ada bukti nyata bahwa makhluk hidup benar-benar berada di sana.
Kemudian, apa yang membuat Europa begitu istimewa? Mengapa para ilmuwan masih bersedia menghabiskan waktu bertahun-tahun dan dana miliaran dolar untuk menelitinya? Jawabannya karena Europa memenuhi kriteria utama yang diperlukan agar kehidupan dapat berkembang.
1. Eropa disinyalir memiliki lautan yang sangat luas berisi cairan
Dari luar, Europa terlihat seperti bola es berwarna putih dengan banyak retakan cokelat di permukaannya. Namun, penampilan tersebut ternyata menipu.
Selama beberapa dekade, berbagai misi luar angkasa telah menemukan bukti kuat bahwa di bawah lapisan es yang tebal beberapa kilometer terdapat lautan air asin dengan jumlah yang sangat besar. Bahkan, para ilmuwan memperkirakan volume air di Europa melebihi dua kali jumlah seluruh air laut di Bumi.
Kehadiran air cair menjadi alasan utama mengapa Europa menarik perhatian. Di Bumi, setiap tempat yang memiliki air dalam bentuk cair selalu ditemukan kehidupan, mulai dari bakteri hingga makhluk yang lebih rumit. Oleh karena itu, jika Europa benar-benar memiliki lautan yang stabil selama miliaran tahun, kemungkinan adanya kehidupan tidak bisa diabaikan.
2. Eropa terlihat memiliki bahan kimia yang diperlukan untuk mendukung kehidupan
Hanya air saja tidak cukup. Kehidupan juga memerlukan unsur-unsur kimia yang menjadi komponen sel, seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, serta berbagai senyawa organik.
Berita baiknya, pengamatan melalui teleskop dan pesawat luar angkasa menunjukkan adanya senyawa organik di permukaan Europa. Ilmuwan menduga bahan tersebut mungkin berasal dari lautan yang berada di bawah lapisan es atau terbentuk melalui reaksi kimia alami di permukaannya. Jika senyawa organik juga ditemukan di dalam lautan Europa, maka planet tersebut memiliki salah satu komponen penting yang diperlukan untuk membentuk kehidupan.
Meskipun demikian, kehadiran molekul organik tidak berarti kehidupan pasti ada. Senyawa-senyawa ini hanya menunjukkan bahwa bahan-bahan dasarnya tersedia, sementara apakah bahan tersebut benar-benar berkembang menjadi makhluk hidup tetap menjadi teka-teki yang perlu dipecahkan.
3. Terdapat sumber energi yang mampu mendukung keberlangsungan hidup
Selain air dan bahan kimia, kehidupan membutuhkan sumber energi. Di Bumi, sebagian besar makhluk hidup memperoleh energi dari Matahari. Namun, ternyata kehidupan juga mampu bertahan tanpa cahaya Matahari sama sekali.
Di dasar lautan Bumi terdapat sistem hidrotermal atauhydrothermal vents, yaitu celah di dasar samudra yang mengeluarkan air panas kaya akan mineral. Sekitar tempat ini terdapat berbagai mikroba, cacing besar, kepiting, serta makhluk laut lainnya meskipun tidak pernah mendapatkan sinar matahari.
Europa diduga memiliki kondisi yang mirip. Tarikan gravitasi Jupiter yang sangat kuat secara terus-menerus menarik dan memperpanjang bagian dalam Europa. Proses ini menghasilkan panas akibat gesekan internal, sehingga dasar lautnya mungkin memiliki aktivitas hidrotermal. Jika memang ada ventilasi hidrotermal, lokasi tersebut bisa menjadi sumber energi yang cukup untuk mendukung kehidupan mikroba, bahkan mungkin makhluk yang lebih rumit.
4. Samudra Europa telah ada selama miliaran tahun
Faktor lain yang membuat Europa sangat menarik adalah usianya. Para ilmuwan memperkirakan lautan di bawah permukaan Europa telah bertahan sekitar empat miliar tahun. Hal ini berarti samudra tersebut memiliki waktu yang sangat lama untuk memungkinkan berbagai proses kimia berkembang menjadi bentuk kehidupan dasar.
Sebagai perbandingan, kehidupan pertama di Bumi diperkirakan muncul beberapa ratus juta tahun setelah pembentukan planet tersebut. Dengan durasi yang hampir serupa, tidak mengherankan jika para ilmuwan menilai Europa sebagai prioritas utama dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
5. Jejak kehidupan mungkin lebih mudah ditemukan dibandingkan yang diharapkan
Dulunya para ilmuwan mengira mereka perlu mengebor lapisan es Europa hingga puluhan kilometer untuk menemukan tanda-tanda kehidupan. Pekerjaan semacam itu tentu sangat sulit dilakukan dengan teknologi yang ada saat ini.
Namun, penelitian terbaru menawarkan harapan baru. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa molekul biologis seperti asam amino mungkin bisa bertahan hanya beberapa sentimeter di bawah permukaan es, khususnya di daerah beriklim sedang hingga tinggi. Artinya, pesawat ruang angkasa di masa depan mungkin cukup mengambil sampel dari permukaan tanpa perlu melakukan pengeboran yang dalam. Jika hal ini benar, pencarian tanda-tanda kehidupan di Europa akan menjadi jauh lebih realistis dibandingkan perkiraan sebelumnya.Nature Astronomy, 2016)
Sebelum hasil pengamatan dari Europa Clipper benar-benar tersedia, Europa tetap menjadi salah satu tujuan paling menarik dalam eksplorasi luar angkasa. Dengan lautan besar yang tersembunyi, keberadaan senyawa organik, serta potensi sumber energi di dasar lautnya, bulan es milik Jupiter ini masih menjadi kandidat terbaik untuk menjawab pertanyaan apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta.
4 Fakta Misi Juno, Penelitian Bersejarah NASA Terhadap Planet Jupiter Mengapa Saturnus dan Jupiter Tidak Memiliki Permukaan Padat? Mengapa Jupiter Memiliki 79 Bulan, Sedangkan Merkurius Tidak Memiliki Satu Pun?Referensi
Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional. Diakses pada Juni 2026. Mengapa Europa?
Nordheim, T. A., Hand, K. P., & Paranicas, C. (2018). Pemeliharaan tanda-tanda kehidupan potensial di lapisan bawah permukaan Europa.Nature Astronomy, 2(8), 673β679. https://doi.org/10.1038/s41550-018-0499-8
Reuters. Diakses pada Juni 2026. Penelitian Mengungkap Keraguan tentang Kemungkinan Kehidupan di Bulan Jupiter Europa
Majalah Smithsonian. Diakses pada Juni 2026. Pencarian Kehidupan di Europa Menjadi Lebih Mudah
The Conversation. Diakses pada Juni 2026. Pencarian Kehidupan di Bawah Es: Mengapa Kami Kembali Ke Europa
Pembicaraan. Diakses pada Juni 2026. NASA Mengirimkan Misi Besar untuk Mencari Tempat yang Layak Huni di Bulan Jupiter Europa
π₯ Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang