Ringkasan Berita:
- Komunitas Baca di Bandung yang didirikan oleh Balebat Buana Puspa sejak awal tahun 2024 menyelenggarakan kegiatan membaca diam selama satu jam di taman kota.
- Mengusung konsep membaca untuk kesenangan, kegiatan diskusi yang inklusif dan tidak memaksa berhasil menarik perhatian ratusan peserta dari berbagai latar belakang.
- Gerakan ini saat ini berupaya memperluas kesempatan literasi bagi daerah yang mengalami keterbatasan buku.
Liputan Jurnalis Tribun Jabar, Nappisah
KOMPASIA.COM, BANDUNG– Satu jam mungkin terasa pendek bagi beberapa orang. Namun bagi peserta Komunitas Baca di Bandung, satu jam tersebut menjadi waktu istimewa untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menjauh dari layar ponsel, dan menikmati buku bersama orang-orang yang bahkan tidak selalu mereka kenal.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di area terbuka. Di beberapa taman kota di Bandung, puluhan hingga ratusan orang biasa berkumpul setiap bulan untuk membaca dengan tenang.
Tidak ada perdebatan, tidak ada kewajiban untuk saling mengenal, apalagi ulasan buku. Mereka hanya datang, duduk, dan membaca bersama.
Gerakan membaca diam diinisiasi oleh Balebat Buana Puspa melalui Komunitas Baca yang berada di Bandung dan didirikan pada awal tahun 2024.
Dimulai dari keinginan sederhana untuk berkontribusi pada dunia literasi, kegiatan ini kini berkembang menjadi tempat bertemu bagi berbagai kalangan yang bersatu oleh rasa suka membaca.
Balebat mengakui gagasan tersebut muncul setelah beberapa tahun mengikuti berbagai klub bacaan. Pada masa itu, katanya, sebagian besar kegiatan membaca bersama masih dilakukan secara online.
Ia juga sering berdiskusi dengan rekan kerjanya yang lebih dahulu mendirikan Silent Book Club di Jakarta.
Di sisi lain, rasa cintanya terhadap dunia literasi telah berkembang sejak kecil. Ayahnya mengenalkan kebiasaan membaca serta arti pentingnya pendidikan sejak dini.
Saat memasuki tahun 2024, ia merasa perlu menyediakan sesuatu yang dapat dilakukan sesuai kemampuannya sebagai karyawan tetap.
“Saya ingin melakukan sesuatu terkait literasi, tetapi sesuatu yang sesuai dengan energi dan kemampuan yang saya miliki. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat Baca di Bandung,” katanya saat diwawancarai di Bainmarielab, Jalan Cikawao no 8, Kota Bandung, Sabtu (20/6/2026).
Konsep yang diterapkan sebenarnya cukup sederhana. Dalam bentuk aslinya, Silent Book Club hanya mengajak peserta untuk membaca selama satu jam.
Namun perempuan asal Bekasi menambahkan elemen yang menurutnya penting, yaitu pemanfaatan ruang umum.
Jika banyak komunitas pembaca memilih kafe sebagai tempat bertemu, ia justru lebih tertarik dengan taman kota.
Menurutnya, taman adalah ruang umum yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh warga untuk berbagai aktivitas bermanfaat, termasuk membaca.
“Memang ingin memperkenalkan bahwa kita memiliki ruang publik yang dapat digunakan bersama. Saya juga ingin mengembalikan kebiasaan bahwa membaca di ruang publik tidak masalah,” katanya.
Kegiatan pertama diadakan di sebuah kafe yang berada di Jalan Cempaka dengan kapasitas sekitar 15 orang.
Informasi disebarluaskan melalui akun Instagram yang baru dibuat dan belum memiliki banyak penggemar.
“Para peserta yang hadir awalnya sekitar 20 hingga 30 orang dan sebagian besar adalah perempuan,” katanya.
Dijelaskannya, dalam mengatur jumlah peserta, pihaknya pernah menerapkan sistem pendaftaran.
“Setelah beberapa bulan beroperasi, sistem tersebut dihentikan. Sekarang lebih fleksibel,” tambahnya.
Balebat berharap kegiatan membaca dapat lebih fleksibel. Siapa pun yang ingin hadir cukup datang tanpa perlu mendaftar terlelebih dahulu.
Keputusan tersebut sempat memicu kekhawatiran. Ia ragu peserta akan mengetahui tempat pelaksanaan kegiatan tanpa sistem pendaftaran.
“Tetapi yang terjadi justru berlawanan. Antusiasme malah terus meningkat,” katanya.
Sebanyak puluhan peserta, jumlahnya meningkat menjadi 50 orang, lalu bertambah lagi menjadi 70 orang. Dalam dua bulan terakhir, peserta yang hadir secara rutin mencapai angka 100 orang. Pertemuan terakhir dihadiri oleh 148 peserta.
Berdasarkan pendapat Balebat, tingginya partisipasi menunjukkan bahwa kebiasaan membaca masih memiliki peran dalam masyarakat.
“Mereka datang karena diikat oleh minat yang sama, yaitu membaca,” katanya.
Membaca di Bandung mengusung konsep membaca demi kebahagiaan atau kesenangan. Menurut Balebat, kebiasaan membaca tidak boleh dipaksakan melalui target-target yang berat.
Sebelum seseorang menjadi seorang pembaca yang setia, ia perlu terlebih dahulu menemukan kegembiraan dalam membaca.
Oleh karena itu, komunitas tersebut tidak membatasi jenis bacaan yang dibawa oleh peserta. Baik novel, komik, buku pengembangan diri, buku sejarah, buku digital, maupun karya sastra semuanya memiliki kesempatan yang sama.
Ia juga menolak pandangan bahwa satu jenis membaca lebih unggul daripada jenis bacaan lainnya.
“Membaca merupakan pengalaman yang bersifat pribadi. Kita tidak dapat menilai seseorang hanya dari apa yang ia baca,” ujarnya.
Menurutnya, makna kehidupan tidak hanya terdapat dalam buku nonfiksi. Buku fiksi, cerita untuk anak-anak, bahkan karya-karya yang populer juga menyimpan banyak pelajaran yang melekat dalam kehidupan para pembacanya.
Oleh karena itu, yang paling penting bukanlah jenis bukunya, tetapi bagaimana seseorang menikmati proses membacanya.
Peserta datang membawa bukunya masing-masing, lalu membaca selama satu jam. Setelah itu, kami memberikan stiker yang dapat ditempelkan pada kartu koleksi peserta. Jika kartu tersebut penuh, peserta akan mendapatkan hadiah dari komunitas,” jelasnya.
Setelah sesi membaca selesai, peserta melakukan foto bersama dan kegiatan pun berakhir. Tidak ada sesi diskusi maupun penyajian buku. Meskipun demikian, hubungan antar peserta justru berkembang secara alami.
Beberapa orang memilih kembali ke rumah langsung. Sementara yang lain tetap berada di tempat tersebut untuk berdiskusi.
Beberapa di antaranya kemudian menjadi teman, menonton film bersama, hingga melakukan aktivitas lain di luar komunitas. Hal ini wajar, katanya.
Balebat sengaja menyusun kegiatan tersebut agar lebih nyaman bagi para introvert.
“Saya tidak menginginkan tekanan untuk harus berbicara atau harus saling mengenal. Kita cukup saling mendampingi saat membaca,” katanya.
Berdasarkan berbagai pertemuan yang diadakan dalam dua tahun terakhir, ia melihat banyak kisah yang menyentuh hati.
“Para peserta yang hadir tidak hanya para pemuda, tetapi juga keluarga yang membawa anak-anak mereka, lansia, hingga orang-orang dengan disabilitas,” katanya.
Salah satu momen yang paling dikenangnya adalah ketika seorang wanita pengguna kursi roda datang bersama ibunya.
Di tempat yang sama, wanita itu bertemu peserta lain yang merupakan korban kanker.
Keduanya kemudian berdiskusi dan saling bertukar pengalaman.
“Saya merasa sangat hangat, warm. Kegiatan membaca ini ternyata bisa menjadi tempat yang aman bagi banyak orang,” katanya.
Pada tahun ketiganya, Balebat mulai merencanakan arah jangka panjang bagi komunitas yang ia bentuk.
Ia merumuskan tiga tujuan utama yang ingin dicapai melalui Baca di Bandung.
Pertama, menciptakan budaya membaca atau reading culture. Kedua, memperluas kesempatan akses terhadap literasi. Ketiga, mendorong pengembangan dan penjelajahan literasi.
Menurutnya, masalah literasi di Indonesia tidak selalu berhubungan dengan rendahnya minat membaca. Dalam banyak situasi, akses terhadap buku justru menjadi kendala yang lebih besar.
Pikiran tersebut muncul setelah ia mendengarkan kisah dari sebuah perpustakaan di Sumedang.
Saat ditanya buku apa yang mereka suka, beberapa anak menjawab buku catatan. Mereka masih belum menyadari keberadaan buku bacaan selain buku pelajaran.
“Bayangkan, jaraknya hanya sekitar satu jam dari Bandung. Namun masih ada anak-anak yang belum memahami buku bacaan,” katanya.
Pengalaman itu memicu semangatnya untuk lebih giat menjangkau daerah yang menghadapi keterbatasan akses terhadap literasi.
Tidak lama yang lalu, ia ikut serta dalam kegiatan membacakan buku untuk anak-anak di Desa Cipicung. Salah satu buku yang digunakan menyampaikan topik lingkungan dan perubahan iklim dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Menurut Balebat, kemampuan membaca bukanlah batas dari literasi. Literasi juga dapat menjadi awal untuk memahami berbagai tantangan dalam kehidupan, lingkungan, budaya, serta perjalanan manusia.
Oleh karena itu, dia berharap pergerakan yang dimulai dari kegiatan membaca diam-diam di taman bisa berkembang menjadi sebuah budaya yang lebih luas.
Bagi wanita yang lahir pada tahun 1996, membaca tetap dianggap sebagai salah satu metode paling efektif untuk memperluas perspektif seseorang terhadap dunia.
Melalui membaca, seseorang tidak hanya mendapatkan ilmu yang baru, tetapi juga belajar mengerti kehidupan dengan perspektif yang berbeda.
“Semakin sering membaca, kita diajarkan untuk lebih rendah hati. Kita menjadi tidak mudah menilai orang lain karena menyadari bahwa setiap orang memiliki kisah yang tidak selalu kita ketahui,” katanya. (*)
π₯ Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang