Kisah sukses Lariss Suvenir memperkenalkan budaya Lampung melalui tapis

Ringkasan Berita: Zulfa Mutiasari berhasil mengembangkan Lariss Souvenir sejak tahun 2011 di Bandar Lampung. Produk andalan berupa kerajinan yang menggunakan…
1 Min Read 0 3
Ringkasan Berita:
  • Zulfa Mutiasari berhasil mengembangkan Lariss Souvenir sejak tahun 2011 di Bandar Lampung.
  • Produk andalan berupa kerajinan yang menggunakan bahan tapis Lampung seperti tas, pouch, dan hiasan telur.
  • Usaha ini telah mencapai pasar nasional mulai dari Batam hingga Kalimantan.

KOMPASIA.COM, Bandar Lampung –Hiasan telur yang dihiasi dengan ornamen khas Lampung seperti siger terlihat jelas di depan rumah produksi Lariss Suvenir yang berada di Jl. Cabe Raya Perumnas No.1 No.12, Beringin Raya, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung, kode pos 35155, pada Sabtu (20/6/2026).

Dimulai dari pesanan sederhana berupa hiasan telur gulung pada tahun 2011, usaha rumahan yang dijalani Zulfa Mutiasari (45) kini berkembang menjadi salah satu produsen suvenir khas Lampung yang terkenal dengan berbagai produk inovatif berbasis tapis.

Zulfa menceritakan, perjalanan Lariss Suvenir dimulai pada Juli 2011 ketika ia mendapatkan pesanan pertama berupa hiasan telur gulung untuk acara akikah.

Awalnya, pesanan itu datang dari kerabat yang menyerahkan pembuatan souvenir kepadanya.

“Awalnya hanya mencoba membuat telur gulung hias. Ternyata hasilnya disukai dan mulai banyak yang memesan secara oral,” kata Zulfa saat diwawancarai di rumah produksinya Sabtu (20/6/2026).

Tidak terduga, pesanan terus mengalir, bukan hanya dari Bandar Lampung tetapi juga dari berbagai wilayah seperti Batam, Bali, Kalimantan hingga Bandung.

Bahkan, ia pernah bekerja sama dengan penyelenggara acara untuk keperluan acara aqiqah di Batam.

Mempromosikan Identitas Lampung Melalui Oleh-Oleh

Puncak perkembangan bisnisnya terjadi pada tahun 2014. Pada masa itu, seorang pelanggan meminta hiasan khusus pada telur gulung yang dipesan.

“Pada saat itu, ada pelanggan saya yang memesan hiasan telur dengan ornamen tapis, karena dia menunggu anaknya selama hampir 10 tahun,” katanya.

Sejak saat itu, pesanan mulai datang secara terus-menerus, dan ia pun memperluas usahanya ke berbagai jenis souvenir lainnya.

“Dari sana saya melihat bahwa budaya Lampung memiliki daya tarik yang besar jika dijadikan sebagai produk cinduan yang khas,” katanya.

Tidak hanya berhenti pada satu jenis produk, Zulfa terus melakukan eksperimen dengan berbagai bahan, mulai dari pita Jepang, kain, keramik, kertas hingga plastik.

Akibatnya, Lariss Suvenir kini menyediakan berbagai macam produk seperti tempat tisu, tas, pouch, bantal, selimut, taplak meja, serta berbagai aksesori dekoratif khas Lampung.

Cara Kreatif dengan Sentuhan Kecanggihan

Salah satu produk andalan Lariss Suvenir adalah tas yang terbuat dari bahan tapis yang diubah dengan desain zipper bag.

Menurut Zulfa, inovasi merupakan hal penting agar produknya berbeda dengan yang telah tersedia di pasar.

“Jika hanya mengikuti model yang sudah ada, seseorang akan segera merasa bosan. Saya selalu berusaha memberikan sentuhan yang berbeda agar produk memiliki ciri khas,” katanya.

Selain itu, ia juga sedang mengembangkan produk jas dengan bahan jaring yang memiliki desain yang lebih mutakhir.

Meskipun belum diperkenalkan ke pasar, produk ini disiapkan sebagai inovasi terbaru dari Lariss Suvenir.

Harga Terjangkau, Pasar Luas

Lariss Souvenir menawarkan berbagai produk dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp.10 ribu untuk suvenir dasar hingga Rp.350 ribu hingga Rp.400 ribu untuk tas mewah.

Harga ditentukan tergantung pada ukuran, bahan, serta tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

Produksi Hingga Ribuan Unit

Di dalam proses operasionalnya, Lariss Souvenir memanfaatkan sistem produksi yang berbasis pesanan.

Untuk produk tas anyaman, misalnya, jumlah produksi bisa mencapai 500 hingga 1.000 unit dalam satu periode pesanan, terutama jika berasal dari organisasi atau lembaga.

“Jika ada pesanan dari kelompok atau organisasi, biasanya jumlahnya besar. Untuk persediaan yang aman, saya menyediakan paling sedikit 500 unit,” kata Zulfa.

Sementara untuk produk lain seperti kantong dan cinderamata acara, produksi disesuaikan dengan kebutuhan pameran atau musim tertentu.

Saat kelulusan, perpisahan sekolah, dan musim liburan merupakan waktu yang paling diminati.

Pendapatan yang Konsisten dan Tantangan dalam Bisnis

Meskipun menghadapi berbagai perubahan di pasar, Lariss Suvenir berhasil mempertahankan pendapatan usaha sekitar Rp.5 juta per bulan pada kondisi biasa.

Namun, perjalanan bisnis yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun tentu tidak selalu mulus. Zulfa mengakui ada dua tantangan utama yang terus dihadapi hingga kini, yaitu modal dan pemasaran.

“Modal merupakan tantangan terbesar karena siklus usaha kerajinan cukup lama. Selain itu, pemasaran masih menjadi pekerjaan rumah agar produk dapat mencapai pasar yang lebih luas,” katanya.

Sebelumnya pemasaran lebih sering dilakukan melalui jaringan pelanggan, WhatsApp, dan Instagram.

Meskipun beberapa produk seperti telur gulung hias telah menjangkau pasar luar daerah hingga Kalimantan dan Batam, Zulfa tetap berkeinginan untuk memperluas penyebaran produk-produk lainnya.

( KOMPASIA.COM/ Bintang Puji Anggraini ) 

992SHARES2.5kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia