Sejarah Kue Pukis yang Jadi Sajian Ulang Tahun Jokowi di Solo untuk Warga, Adaptasi dari Waffle

Ringkasan Berita: Ratusan penduduk mengisi rumah Jokowi di Solo pada saat perayaan ulang tahunnya yang ke-65. Pengunjung diberikan hidangan gratis…
1 Min Read 0 1
Ringkasan Berita:
  • Ratusan penduduk mengisi rumah Jokowi di Solo pada saat perayaan ulang tahunnya yang ke-65. Pengunjung diberikan hidangan gratis berupa kue pukis, minuman teh dingin, roti, serta jus jeruk.
  • Kue pukis dipilih sebagai hidangan karena merupakan camilan tradisional yang populer di kalangan masyarakat, dibuat dari bahan-bahan seperti tepung, telur, gula, ragi, dan santan dengan tekstur yang lembut khas.
  • Secara historis, pukis dikenal sebagai variasi dari kue wafel yang muncul sejak masa penjajahan. Kini pukis tersedia dalam berbagai bentuk yang lebih modern.
 

KOMPASIA.COM, SOLO– Perayaan ulang tahun Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang ke-65 pada hari Minggu (21/6/2026) tidak hanya dihadiri oleh antusiasme masyarakat yang datang ke rumahnya di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah.

Di tengah keramaian warga yang antri untuk bersalaman dan berfoto bersama, terdapat satu hidangan sederhana yang turut menarik perhatian, yaitu kue pukis.

Mulai dari pagi hingga siang hari, warga yang datang ke rumah Jokowi diberikan hidangan kue pukis dan es teh secara gratis.

Saat senja hingga malam tiba, hidangan berubah menjadi potongan roti dan es jeruk yang juga disajikan kepada warga yang datang dari berbagai wilayah.

Ratusan penduduk terlihat memenuhi area tempat tinggal Jokowi.

Mereka bersedia menunggu antrian untuk bertemu langsung dengan mantan Presiden RI yang menjabat dua periode.

Banyak juga yang datang dari luar kota, bahkan dari luar Pulau Jawa.

Salah satu contohnya adalah Anshori, penduduk Demak, Jawa Tengah.

Ia mengungkapkan kebahagiaannya karena selain bisa berfoto bersama Jokowi, dirinya dan keluarganya juga mendapatkan perhatian dari pihak penyelenggara.

“Kami merasa bangga dan bahagia karena diizinkan berfoto bersama Pak Jokowi serta mendapatkan kenang-kenangan berupa kaos serta diberi roti dan es oleh Pak Jokowi,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Nita (45), penduduk Medan, Sumatera Utara. Ia sengaja menyisihkan waktu untuk datang ke Solo saat berkunjung ke Pulau Jawa demi bertemu dengan anaknya yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

“Anak saya kuliah di Yogyakarta, lalu saat ulang tahun Pak Jokowi saya pergi ke Solo sendirian naik KRL,” katanya.

Menurut Nita, sosok Jokowi dianggap dekat dengan rakyat, sehingga wajar jika banyak warga yang datang memberikan ucapan selamat ulang tahun.

Kue Pukis, Makanan Tradisional yang Menemani Kesempatan Khusus

Di balik kemudahan dan kebiasaannya, pemilihan kue pukis sebagai hidangan bagi masyarakat memiliki makna khusus.

Kue tradisional ini adalah salah satu camilan masyarakat yang sudah dikenal sejak lama di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Pukis dibuat dengan menggunakan campuran tepung terigu, telur, gula, ragi, dan santan.

Adonan selanjutnya dimasak dengan menggunakan cetakan khusus berbentuk setengah lingkaran sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan aroma yang khas.

Kue ini bisa ditemukan dengan mudah di pasar tradisional serta dijual oleh tukang ojek keliling.

Harga yang murah membuat pukis dianggap sebagai camilan yang cocok untuk berbagai lapisan masyarakat.

Ciri khas pukis terdapat pada bagian atas yang memiliki warna kuning terang dengan tekstur yang lembut, sedangkan bagian bawahnya berwarna cokelat gelap karena proses memanggang langsung di atas api.

Sejarah Kue Pukis yang Penuh dengan Kisah

Meski kini menjadi makanan yang sangat diminati, asal-usul kue pukis ternyata menyimpan cerita yang cukup panjang.

Secara historis, pukis dikenal sebagai hasil dari adaptasi kue wafel yang kemudian diubah sesuai dengan bahan dan selera masyarakat setempat.

Terdapat juga kisah yang beredar di kalangan masyarakat bahwa pukis mulai dikenal secara luas sejak masa penjajahan.

Dikabarkan, di kawasan Sampang, Kebumen, penduduk pernah dipaksa menyajikan kue dengan resep yang disembunyikan oleh para penjajah.

Pada suatu masa, seorang karyawan berhasil membawa resep tersebut keluar dan memperkenalkannya kepada masyarakat.

Sejak saat itu, pukis mulai menyebar ke berbagai wilayah dan berkembang menjadi makanan ringan yang mudah ditemui.

Awalnya, pukis hanya memiliki rasa dasar.

Namun dengan berkembangnya zaman, berbagai inovasi dilakukan sehingga kini muncul beragam pilihan rasa seperti cokelat, keju, kacang, selai nanas, matcha, hingga red velvet.

Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan preferensi masyarakat adalah faktor yang membuat pukis masih bertahan di tengah persaingan makanan modern.

Dari Makanan Pasar Sampai Oleh-Oleh Khas Surakarta

Di Kota Solo, kue pukis telah berubah menjadi suatu oleh-oleh yang sedang tren saat ini.

Salah satu yang cukup terkenal di kalangan masyarakat adalah Pukis Badran yang menawarkan berbagai rasa yang menarik.

Mulai dari tiramisu, cappuccino, gula aren, oreo, abon sapi, hingga kurma tersedia untuk memenuhi selera konsumen yang beragam.

Kehadiran inovasi tersebut membuktikan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Tak hanya menjadi camilan sehari-hari, pukis juga sering hadir dalam berbagai acara keluarga, arisan, kenduri, hingga perayaan tertentu.

Maka wajar jika kue ini dijadikan salah satu hidangan yang disajikan kepada masyarakat yang hadir merayakan ulang tahun Jokowi.

Di tengah keramaian warga yang berkumpul di rumah mantan Presiden RI, kue pukis tampaknya menjadi lambang ke sederhanaan yang selalu melekat pada citra Jokowi.

Makanan tradisional yang populer di kalangan rakyat turut memberikan kehangatan dalam momen istimewa perayaan ulang tahun ke-65 yang dilakukan bersama masyarakat.

(*)

694SHARES4.8kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia