KPA NEWS –Hubungan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya terbatas pada pertemuan atau percakapan, tetapi juga melibatkan proses saling memengaruhi antara individu maupun kelompok. Melalui interaksi sosial, manusia mampu menciptakan hubungan, bekerja sama, menyelesaikan berbagai tantangan, serta membentuk berbagai aturan dan nilai dalam masyarakat.
Oleh karena itu, agar dapat memahami bagaimana hubungan antarmanusia terjalin, penting untuk mengenal konsep interaksi sosial beserta syarat-syaratnya, faktor-faktor yang mendasari, serta tingkat hubungan yang terbentuk dalam proses tersebut.
Bahan ini diambil dari buku Sosiologi 1 untuk SMA/MA Kelas X karya Suhardi dan Sri Sunarti (2009).
A. Pengertian, Kriteria, Faktor yang Mendasari, serta Tingkat Hubungan Interaksi Sosial
1. Pengertian Interaksi Sosial
Manusia tidak mungkin menghindari kewajiban untuk berhubungan dengan sesama. Manusia merupakan makhluk sosial yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh orang lain.
Interaksi sosial berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu social interaction yang artinya tindakan saling. Interaksi sosial merujuk pada hubungan sosial yang bersifat saling memengaruhi antara individu, antar kelompok, maupun antara individu dengan kelompok.
Jika dua orang berjumpa dan terjadi pengaruh timbal balik antara keduanya, maka telah terjadi interaksi sosial.
2. Kondisi yang Membentuk Terjadinya Interaksi Sosial
Hubungan sosial bisa terjadi jika dua kondisi terpenuhi, yakni adanya interaksi sosial dan komunikasi.
a. Hubungan Sosial (Social Contact)
Kontak berasal dari kata “con” atau “cum” yang berarti bersama-sama dan “tango” yang berarti menyentuh.
Hubungan sosial bisa berupa primer atau sekunder. Hubungan sosial primer terjadi secara langsung tanpa adanya perantara. Sementara hubungan sosial sekunder terjadi dengan melalui perantara seperti internet.
Dalam interaksi sosial, belum terjadi pertukaran pesan, tetapi hanya sekadar adanya hubungan.
Jaringan sosial terbagi dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
1. Kontak Antarindividu
Hal ini terjadi ketika dua orang bertemu dan terjadi interaksi yang dimulai dari berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan saling berselisih.
2. Kontak Antarkelompok
Hal ini terjadi antara satu kelompok dengan kelompok lain sebagai bagian dari kesatuan, bukan disebabkan oleh individu anggota kelompok tersebut.
Sebagai contoh, pertemuan yang melibatkan dua keluarga.
3. Hubungan antara Seseorang dengan Kelompok
Jenis hubungan yang terjadi antara seseorang dengan kelompok orang.
Misalnya, seorang pendidik yang sedang memberikan pelajaran di ruang kelas.
b. Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian dan pemahaman pesan melalui ucapan, gerakan tubuh, ekspresi wajah, sikap, serta perasaan.
Sebagai contoh, ketika Anda memberi tanda apresiasi kepada teman yang berhasil tampil di depan kelas, kemudian teman Anda merespons dengan senyuman.
Melalui komunikasi, seseorang mampu memahami maksud orang lain dan memberikan tanggapan yang sesuai. Oleh karena itu, hubungan tanpa adanya komunikasi belum bisa dianggap sebagai interaksi sosial.
Keterlibatan sosial memiliki ciri-ciri antara lain:
1) keterlibatan sosial mencakup lebih dari satu individu,
2) terjadinya interaksi antara individu yang terlibat,
3) memiliki maksud dan tujuan yang jelas, meskipun mungkin tujuan tersebut tidak selaras antara kedua belah pihak
4) dipengaruhi oleh kondisi waktu yang akan menentukan tindakan atau respons yang terjadi.
3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Interaksi Sosial
Terdapat enam unsur yang menjadi dasar terjadinya interaksi sosial, meliputi sugesti, imitasi, identifikasi, simpati, motivasi, dan empati.
a. Sugesti
Sugesti merujuk pada pengaruh atau dorongan yang diberikan seseorang kepada orang lain, sehingga orang tersebut mengikuti atau percaya tanpa melakukan pemikiran kritis. Selain itu, benda-benda tertentu yang berupa simbol dan memiliki makna tertentu juga mampu memberikan sugesti kepada seseorang.
Contohnya adalah ketika seseorang percaya bahwa talisman yang diberikan oleh dukun memiliki kekuatan.
Hal ini terjadi karena tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan keinginan untuk memverifikasi keakuratan informasi tersebut. Bentuk sugesti bisa berupa sikap, tindakan, dan perasaan.
Sugesti dapat terjadi antara:
1) Seseorang terhadap seseorang lain.
2) Seseorang terhadap sekelompok orang
3) Sejumlah orang terhadap kelompok yang berbeda
4) Kelompok orang terhadap seseorang
Sugesti bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti hambatan dalam berpikir, kebingungan pikiran seseorang, adanya otoritas, dominasi kelompok, serta keyakinan terhadap sugesti yang datang dari orang lain.
b. Imitasi
Meniru perilaku, penampilan, cara berbicara, atau gaya hidup orang lain disebut sebagai imitasi.
Contohnya adalah seorang anak yang meniru kebiasaan orang tuanya dalam hal cara berbicara dan berpakaian.
Proses ini dimulai dari lingkungan keluarga, lalu berkembang lebih luas di tengah masyarakat. Bahkan media massa yang menyajikan berbagai informasi juga berpengaruh terhadap kecepatan proses meniru.
Kondisi yang diperlukan untuk terjadinya proses imitasi adalah sebagai berikut.
1) Apa yang ditiru perlu mendapatkan perhatian dari orang lain.
2) Harus terdapat rasa menghargai hal-hal yang ditiru.
3) Pemahaman yang memadai mengenai hal-hal yang diikuti.
Proses meniru bisa menghasilkan dampak yang baik atau buruk. Jika peniruan dilakukan terhadap hal-hal yang positif, maka keadaan masyarakat akan semakin aman dan selaras.
Namun, jika imitasi berujung pada hal-hal yang merugikan, maka dapat memicu berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, diperlukan kondisi sosial yang sehat melalui adanya norma dan nilai dalam kehidupan masyarakat.
c. Identifikasi
Pengenalan adalah tahap di mana seseorang berusaha menjadi atau meniru seseorang lain. Proses ini terjadi setelah tahap meniru (imitasi) dan lebih dalam serta cenderung bersifat tetap atau abadi.
Bukan hanya meniru tindakan, tetapi juga meniru pola pikir, sikap, serta nilai yang dimiliki individu tersebut.
d. Simpati
Kasih sayang merupakan perasaan tertarik dan mengkhawatirkan terhadap seseorang yang timbul akibat sikap, penampilan, atau tingkah lakunya. Perasaan ini mendorong seseorang untuk memberikan perhatian atau bantuan kepada orang tersebut.
E. Motivasi
Semangat adalah dorongan atau pengaruh yang diberikan oleh seseorang atau kelompok kepada orang lain.
Semangat tersebut mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
f. Empati
Kemampuan seseorang untuk mengerti dan merasakan emosi orang lain, baik dalam keadaan sedih maupun gembira.
Berbeda dengan rasa simpati yang hanya menunjukkan perhatian, empati membuat seseorang seakan-akan mengalami hal yang dirasakan oleh orang lain.
4. Tingkat Keterkaitan dalam Komunikasi Sosial
Hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat memiliki tingkat keakraban yang berbeda-beda. Tingkatan ini ditandai oleh seberapa intens hubungan yang terjalin. Terdapat dua jenis tingkat hubungan dalam interaksi sosial, yaitu tingkat permukaan dan tingkat mendalam.
a. Tingkat Hubungan Dangkal
Pada tingkat ini, hubungan bersifat sementara, terjadi hanya seketika, dan tidak berkembang menjadi ikatan yang lebih erat atau berkelanjutan. Contohnya adalah hubungan antara pedagang dan pembeli di pasar.
b. Tingkat Hubungan Dalam
Hubungan di tingkat ini berlangsung dalam jangka panjang, terus-menerus, dan menciptakan ikatan yang kuat. Contohnya adalah interaksi antara anak dengan orang tuanya.
(MG- Mayumi Cinta Mahesi)
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang