Perangkat elektronik dan media sosial tampaknya telah menjadi teman sehari-hari bagi setiap orang dalam menjalani kegiatan mereka, termasuk Mama. Bahkan seringkali, beberapa orang mulai aktivitasnya sejak bangun tidur, saat makan, hingga ingin kembali tidur, tetap tidak bisa lepas dari perangkat dan media sosial.
Peristiwa ini tentu sudah menjadi tanda-tanda seseorang yang sudah kecanduan perangkat elektronik dan jejaring sosial.
Sehingga secara tidak sadar, kecanduan ini pasti akan berdampak negatif terhadap kehidupan sosial seseorang di dunia nyata. Mulai dari kurang aktif dalam beraktivitas, tidak produktif, hingga merasa cemas dan kesulitan untuk fokus.
Tentu Mama tidak menginginkan hal tersebut, bukan? Jika aktivitas Mama atau anggota keluarga terganggu karena kecanduan perangkat elektronik dan media sosial?
Berikut ini telahKPA NEWS –tampilkan, 7 cara mengatasi ketergantungan pada perangkat elektronik dan media sosial yang sedang kamu alami
1. Nonaktifkan pemberitahuan media sosial
Saat sedang melakukan aktivitas, suara notifikasi sering kali mengganggu konsentrasi kita. Mulai dari notifikasi Instagram, TikTok, hingga bunyi pesan di WhatsApp.
Sepertinya tak ingin ketinggalan atau mengalami FOMO, seringkali membuat kita melupakan aktivitas yang sedang kita kerjakan dan kembali terlibat dalam kejadian di dunia digital.
Menghadapi situasi tersebut, langkah sederhana yang sebaiknya Mama lakukan adalah mematikan notifikasi perangkat elektronik. Dengan mematikan notifikasi gawai, hal ini dapat membantu Mama untuk tidak sering kali mengecek media sosial.
Selain mematikan notifikasi, Ibu juga dapat mengubah ponsel ke mode diam, pesawat, atau bahkan mematikannya, agar Ibu lebih fokus dalam melakukan aktivitas.
2. Batasi durasi penggunaan media sosial
Tanpa disadari oleh Mama, media sosial terkadang membuat kita kehilangan pengawasan terhadap waktu hingga berjam-jam. Oleh karena itu, langkah kedua yang dapat membantu mengatasi kecanduan Mama terhadap media sosial adalah dengan menetapkan batas waktu penggunaan.
Untuk diketahui Mama, beberapa perangkat elektronik kini dilengkapi fitur canggih yang mampu mengatur durasi penggunaan layar. Nah, agar lebih yakin, Mama dapat mengikuti langkah-langkah berikut ini:
- Di perangkat ponsel, buka aplikasi Pengaturan.
- Teknologi Kesehatan Digital dan Pengawasan Orang Tua.
- Ketuk diagram.
- Selain aplikasi yang ingin Mama batasi, ketuk Pengaturan timer-Timer aplikasi.
- Tentukan berapa lama waktu yang boleh Ibu menghabiskan di aplikasi tersebut. Setelah itu, tekan Atur.
Cara ini tergolong cukup efisien karena setelah waktu berakhir, aplikasi akan otomatis tertutup dan ikonnya menjadi redup. Selain itu, cara lain yang dapat dilakukan oleh Mama adalah dengan mengatur alarm manual yang tersedia di ponsel.
3. Hubungi sahabat atau anggota keluarga secara langsung
Seringkali kita menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman. Dengan media sosial, kita dapat mengetahui berbagai peristiwa yang sedang terjadi melalui unggahan mereka.
Nah, daripada Mama menghabiskan waktu dengan berspekulasi tentang apa yang dilakukan teman atau kerabat di media sosial, lebih baik jika Mama memutuskan untuk menjadwalkan pertemuan langsung dengan mereka.
Ini terbukti cukup efisien dalam mengurangi rasa penasaran Ibu tentang apa yang sedang mereka lakukan, dibandingkan hanya menjadi penonton saja.
4. Hapus aplikasi yang tidak terlalu penting
Memori internal yang besar sering kali membuat kita tertarik untuk mengunduh berbagai aplikasi media sosial. Padahal, tanpa disadari oleh ibu, ternyata aplikasi-aplikasi tersebut tidak terlalu penting dalam kehidupan kita.
Namun, jika Ibu sudah mengunduh aplikasi yang tidak sering digunakan, sebaiknya coba untuk menghapus aplikasi tersebut. Dengan demikian, ini akan membantu Ibu lebih fokus dalam menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.
5. Temukan minat baru di luar platform media sosial
Sosial media bukan satu-satunya cara untuk mengisi waktu luang ketika Mama memiliki banyak waktu kosong. Daripada hanya menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial, lebih baik jika Mama memanfaatkannya dengan aktivitas yang Mama gemari.
Kegiatan bisa dimulai dari hobi, mencoba sesuatu yang baru, membaca buku, atau melakukan olahraga. Jadi lebih bermanfaat, bukan?
6. Luangkan waktu untuk diri sendiri tanpa menggunakan media sosial
Saat Ibu memiliki banyak waktu sendirian, coba lah sesekali untuk menghabiskanme time tanpa media sosial.
Karena tanpa disadari, waktu sendiri tanpa dihiasi media sosial membuat Ibu lebih mampu meredakan pikiran. Dengan demikian, hal ini akan membuat Ibu berhenti membandingkan diri dengan orang-orang yang Ibu lihat di media sosial.
Selain itu, ketika Ibu menghabiskan waktu sendirian dengan berjalan-jalan, tanpa membagikan satu pun unggahan, hal ini akan membuat Ibu jauh lebih tenang.
7. Hindari mengakses media sosial saat merasa sedih
Terakhir, saran agar Ibu tidak kecanduan media sosial adalah, hindari membuka media sosial saat sedang sedih. Mengapa? karena media sosial dapat memicu perasaan sedih, marah, atau cemas yang Ibu alami.
Oleh karena itu, ketika Ibu merasa sedih, mari coba melakukan aktivitas lain yang dapat meningkatkan suasana hati Ibu. Seperti berbicara dengan teman, berjalan-jalan, atau mendengarkan lagu.
Berikut beberapa tips sederhana yang bisa membantu Ibu melepaskan diri dari kecanduan penggunaan media sosial. Meskipun memang tidak mudah untuk berhenti menggunakan media sosial, mari kita coba secara perlahan. Semoga bermanfaat!
Cara Menampilkan Tweet Lama Tanpa Menggulir, Sangat Mudah! 9 Metode untuk Menghindari Informasi Hoax di Media Sosial Apa Makna Kata ‘At Least’ yang Sedang Viral di Media Sosial?🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang





