Air dari Perspektif Serageldin, Gleick, Buiter, dan Fitrah

AA25rdUj.jpg

Perubahan Peran Air dalam Peradaban Modern

Di abad ke-20, dunia diguncang oleh persaingan untuk menguasai sumber daya energi seperti minyak. Negara-negara besar membangun armada militer, menciptakan aliansi global, dan bahkan menjatuhkan pemerintahan demi mendapatkan akses ke energi fosil. Minyak menjadi bagian dari geopolitik modern, di mana siapa yang menguasai minyak, memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia.

Ringkasan Cepat
  • perubahan peran air dalam peradaban modern di abad ke-20, dunia diguncang oleh persaingan untuk menguasai sumber daya energi seperti minyak.
  • negara-negara besar membangun armada militer, menciptakan aliansi global, dan bahkan menjatuhkan pemerintahan demi mendapatkan akses ke energi fosil.
  • minyak menjadi bagian dari geopolitik modern, di mana siapa yang menguasai minyak, memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia.
  • namun, masuknya abad ke-21 membawa pergeseran pandangan.
Daftar Isi
  1. Perubahan Peran Air dalam Peradaban Modern
  2. 🔥 Postingan Populer
  3. Artikel ini bermanfaat?
  4. AutoIndex: Portal Berita & Media Online

Namun, masuknya abad ke-21 membawa pergeseran pandangan. Banyak pemikir mulai menyadari bahwa sesuatu yang jauh lebih penting daripada minyak mungkin telah muncul. Sesuatu yang lebih mendasar daripada emas, saham, atau teknologi tinggi: air. Air adalah elemen yang selama ini diam-diam menopang seluruh peradaban manusia sejak awal sejarah.

Dulu, banyak orang menganggap air hanya sebagai isu lingkungan, seperti soal sungai, bendungan, irigasi, atau sanitasi. Namun, kini semakin banyak pemikir melihat bahwa air sedang bergerak menjadi pusat pertarungan ekonomi dan geopolitik dunia modern. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam diskusi ini adalah Ismail Serageldin, mantan Wakil Presiden Bank Dunia dan pendiri Bibliotheca Alexandria di Mesir. Ia pernah berkata:

“Perang-perang abad berikutnya akan terjadi karena air.”

Pernyataan ini muncul pada awal 1990-an, dan saat itu banyak orang menganggapnya terlalu dramatis. Dunia masih sibuk dengan globalisasi, liberalisasi perdagangan, dan euforia pasca-Perang Dingin. Tapi setelah tiga dekade, peringatan Serageldin terasa semakin nyata. Lihat saja peta dunia hari ini.

Mesir dan Ethiopia bersitegang karena pembangunan bendungan di Sungai Nil. India dan Pakistan memiliki ketegangan panjang terkait Sungai Indus. Turki mengontrol hulu Tigris dan Euphrates. Gaza mengalami krisis air berkepanjangan. Afrika menghadapi konflik akibat kekeringan. Bahkan negara-negara maju mulai mengalami tekanan serius terhadap cadangan air mereka. Dunia mulai sadar: air bukan sekadar kebutuhan biologis.

Air adalah kekuatan geopolitik. Pandangan ini diperkuat oleh Peter H. Gleick dalam artikelnya yang sangat berpengaruh, berjudul Water and Conflict: Fresh Water Resources and International Security. Ia menunjukkan bahwa air bisa menjadi pemicu konflik, alat perang, target perang, bahkan korban perang. Konsep ini sangat relevan dengan perang modern.

Hari ini kita melihat bagaimana infrastruktur air bisa dihancurkan dalam konflik. Bendungan dapat dijadikan alat tekanan politik. Pasokan air bisa diputus untuk melemahkan masyarakat sipil. Sungai lintas negara berubah menjadi sumber ketegangan geopolitik. Air perlahan berubah dari sumber kehidupan menjadi instrumen kekuasaan.

Leonardo da Vinci menyebut air sebagai penggerak seluruh alam, sementara W.H. Auden mengingatkan bahwa ribuan orang mungkin hidup tanpa cinta, tetapi tak satu pun dapat hidup tanpa air. Dalam nada yang lebih spiritual, Jalaludin Rumi melihat manusia bukan sekadar setetes air di lautan, melainkan keseluruhan samudera dalam setetes air.

Namun di era modern, nada reflektif itu berubah menjadi nada peringatan. Ismail Serageldin memperingatkan bahwa perang abad mendatang akan berkaitan dengan air, Peter H. Gleick menjelaskan bagaimana air dapat berubah menjadi alat konflik dan instrumen kekuasaan, sementara Willem Buiter melihat air sebagai aset fisik paling strategis masa depan. Di tengah semua itu, Vandana Shiva mengingatkan dunia bahwa air bukan sekadar komoditas, melainkan kehidupan itu sendiri.

Inilah ironi besar peradaban modern. Sesuatu yang seharusnya menjadi rahmat bersama justru mulai diperebutkan seperti senjata strategis. Namun cerita tentang air tidak berhenti pada geopolitik dan perang. Dunia finansial global juga mulai melihat air sebagai frontier ekonomi baru. Di sinilah muncul nama Willem Buiter. Pada 2011, ekonom top dari Citigroup itu membuat analisis yang mengejutkan banyak orang. Menurutnya: pasar air suatu hari akan melampaui minyak, pertanian, bahkan logam mulia.

Pernyataan itu terdengar ekstrem. Tetapi logikanya sebenarnya sederhana. Minyak masih punya alternatif: energi surya, angin, nuklir. Logam bisa didaur ulang. Tetapi air? Tidak ada pengganti biologis untuk air. Manusia bisa hidup tanpa smartphone. Manusia bisa hidup tanpa mobil. Manusia bahkan bisa hidup tanpa listrik modern. Tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa air. Karena itu Buiter melihat air sebagai: ultimate asset, aset pamungkas masa depan.

Dan mungkin inilah titik paling mengkhawatirkan dari peradaban modern. Ketika air mulai dipandang terutama sebagai aset ekonomi, maka logika pasar perlahan masuk ke fondasi kehidupan manusia. Air mulai diperdagangkan. Hak air mulai diperjualbelikan. Privatisasi air meluas. Perusahaan multinasional masuk ke sektor sumber air. Bahkan pasar futures air mulai muncul di dunia finansial.

Air perlahan bergerak dari hak hidup menjadi instrumen investasi. Di sinilah problem moral mulai muncul. Karena ketika air diperlakukan sepenuhnya sebagai komoditas, maka akses terhadap kehidupan pun perlahan tunduk pada kemampuan membeli. Yang kaya bisa mengakses air berkualitas. Yang miskin kesulitan mendapatkan air bersih. Krisis air akhirnya berubah menjadi krisis keadilan.

Dalam banyak kasus, lembaga-lembaga keuangan internasional bahkan mendorong privatisasi sektor air sebagai bagian dari reformasi ekonomi negara berkembang. Alasannya terdengar rasional: efisiensi, investasi, modernisasi infrastruktur. Tetapi realitas di lapangan sering jauh lebih rumit.

Kasus Cochabamba di Bolivia tahun 2000 menjadi simbol global perlawanan terhadap privatisasi air. Tarif naik drastis. Rakyat marah. Demonstrasi besar meledak. Dunia mulai bertanya: apakah air pantas diperlakukan seperti barang dagangan biasa?

Pertanyaan itu sesungguhnya sangat mendasar. Karena air berbeda dengan komoditas lain. Air adalah syarat keberadaan manusia itu sendiri. Dan mungkin karena itulah perebutan air di abad modern menjadi semakin sensitif. Sebab ketika air terganggu: pertanian-perikanan budidaya terganggu, pangan terganggu, kesehatan terganggu, ekonomi terganggu, stabilitas sosial pun ikut terganggu. Air berada di pusat kehidupan.

Kita sering lupa bahwa seluruh peradaban manusia tumbuh di sekitar air. Sungai Nil melahirkan Mesir kuno. Mesopotamia berkembang di antara Tigris dan Euphrates. Peradaban India lahir di sekitar Sungai Indus. Kota-kota besar dunia hampir selalu tumbuh di dekat sungai atau laut.

Sejak awal sejarah, manusia mencari air sebelum membangun peradaban. Karena air bukan sekadar unsur alam. Air adalah rahim kehidupan. Namun peradaban modern justru semakin jauh dari kesadaran itu. Sungai dipandang sebagai objek industri. Danau dianggap aset ekonomi. Hutan ditebang tanpa memikirkan siklus hidrologi. Kota dibeton tanpa ruang resapan. Pertanian industri menguras air tanah secara besar-besaran. Akibatnya, manusia modern menciptakan paradoksnya sendiri: teknologi semakin maju, tetapi krisis air semakin serius.

Di banyak kota besar, air tanah terus turun. Sungai tercemar limbah. Danau menyusut. Kekeringan semakin sering. Banjir semakin ekstrem. Lalu datang perang dan konflik yang semakin menghancurkan infrastruktur air.

Kasus Gaza memperlihatkan bagaimana air dapat berubah menjadi alat tekanan kemanusiaan. Sistem sanitasi rusak. Air bersih terbatas. Infrastruktur air hancur. Penyakit meningkat. Di tempat lain, bendungan menjadi alat tawar-menawar politik. Sungai lintas negara menjadi sumber ketegangan diplomatik.

Prediksi Serageldin perlahan seperti menemukan bentuk nyatanya. Tetapi mungkin persoalan terbesar bukan hanya soal kelangkaan air. Persoalan terbesar adalah cara pandang manusia terhadap air itu sendiri.

Peradaban modern terlalu lama melihat alam semata-mata sebagai objek eksploitasi. Air dianggap sumber daya ekonomi. Tanah dianggap aset pasar. Hutan dianggap cadangan komersial.

Padahal manusia sendiri hidup dari keseimbangan ekologi itu. Ketika sungai diracuni, manusia sedang meracuni dirinya sendiri. Ketika air diprivatisasi secara berlebihan, manusia sedang mengkomersialkan hak hidup. Dan ketika air dijadikan alat perang, manusia sedang menyerang fondasi kehidupan itu sendiri.

Dalam perspektif fitrah, air memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia daripada sekadar komoditas ekonomi. Al-Qur’an menyatakan: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS Al-Anbiya:30). Ayat ini bukan sekadar informasi biologis. Ia mengandung pandangan dunia yang sangat dalam: bahwa air adalah fondasi kehidupan yang diberikan Allah untuk seluruh mahluk. Bukan hanya untuk elite ekonomi. Bukan hanya untuk negara kuat. Bukan hanya untuk korporasi global. Tapi untuk kehidupan itu sendiri.

Karena itu dalam nilai-nilai fitrah, air tidak boleh ditempatkan semata-mata sebagai instrumen pasar atau alat dominasi geopolitik. Air harus diposisikan sebagai amanah bersama yang dijaga dengan: keadilan, tanggung jawab ekologis, keseimbangan, dan kasih sayang antar manusia. Air boleh dikelola secara profesional. Air boleh menggunakan teknologi modern. Air boleh menjadi bagian dari sistem ekonomi. Tetapi air tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaannya. Sebab ketika manusia mulai memperlakukan air hanya sebagai komoditas, maka sesungguhnya manusia sedang bergerak menjauh dari fitrah kehidupannya sendiri.

Dan mungkin disitulah pelajaran terbesar dari Serageldin, Gleick, Buiter, dan nilai-nilai fitrah: bahwa masa depan manusia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat menguasai air, tetapi oleh siapa yang paling bijak menjaga air sebagai rahmat kehidupan bersama.

794SHARES3.1kVIEWS
Rating Artikel: ★★★★★ (5/5 dari 1,655 ulasan)

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Share this content:

8af7c997b935b7c4511af7a8f293314c8b23370a9faab25876ea06c6dd15b252?s=96&d=mm&r=g Air dari Perspektif Serageldin, Gleick, Buiter, dan Fitrah
Author: Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Kata Kunci Terkait