✓ Penulis Verified
KOMPASIA.COMSulit untuk membayangkan sebuah piring nasi goreng, bakso, sate, atau sambal tanpa adanya rasa manis dari kecap.
Bumbu berwarna gelap dengan rasa manis dan gurih ini telah menjadi “teman” berbagai hidangan khas Indonesia.
Namun, siapa menyangka di balik rasanya yang lezat, kecap manis menyimpan bahaya kesehatan yang sering terlewat dari perhatian.
Baru-baru ini, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengingatkan masyarakat melalui unggahan di akun TikTok resmi miliknya.
Di dalam video tersebut, ia menyoroti bahaya tersembunyi dari kecap manis yang ternyata bisa memengaruhi kenaikan tekanan darah secara tidak disadari.
Menurut Budi, banyak orang menganggap tekanan darah tinggi disebabkan hanya oleh makanan yang terasa asin. Padahal, bumbu tambahan seperti kecap manis memiliki kandungan natrium dan gula yang cukup besar.
Jika terus-menerus dijalani dengan berlebihan, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi “bom waktu” bagi kesehatan.
Apa yang Tersimpan di Balik Manisnya Kecap?
Saus manis dihasilkan melalui proses fermentasi kedelai hitam yang dicampur dengan berbagai bahan sehingga menghasilkan rasa khas yang sangat diminati oleh masyarakat.
Bahan-bahan utamanya meliputi:
- Kedelai hitam hasil fermentasi
- Gula pasir atau gula kelapa sebagai sumber rasa manis
- Garam
- Air
- Berbagai bumbu, seperti bawang putih, kayu manis, cengkih, dan adas yang digunakan untuk memperkaya aroma.
Kombinasi bahan-bahan tersebut menciptakan rasa yang unik. Namun, kadar gula dan natriumnya juga menjadi alasan mengapa kecap manis sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.
Mengapa Saus Manis Dapat Menyebabkan Tekanan Darah Tinggi?
Meskipun memiliki rasa manis, kecap manis ternyata mengandung jumlah natrium yang cukup besar. Ketika dicampur dengan makanan lain yang kaya akan garam, konsumsi natrium harian bisa meningkat tanpa disadari.
Kelebihan natrium menyebabkan tubuh menahan cairan lebih banyak, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah dan meningkatkan risiko mengalami hipertensi.
Di sisi lain, kadar gula yang tinggi juga bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta berbagai masalah metabolisme jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
Kolom Komentar Diisi Dengan Pengakuan “Anak Kecap”
Unggahan Budi Gunadi Sadikin langsung mendapat banyak respons dari netizen. Menariknya, banyak orang mengakui sulit untuk berhenti mengonsumsi kecap manis.
Salah satu contohnya berasal dari akun TikTok @bayam_tumis yang menulis, “aku anak kecap banget, sering melihat video-video kecap seperti ini yang tinggi natrium tapi tetap aku lakukan karena sudah kebiasaan. Makan sambal apa pun selalu pakai kecap, wah… benar-benar enak sampai tambah terus.”
Komentar tersebut memicu banyak tanggapan karena dianggap mencerminkan kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang mempergunakan kecap manis sebagai pelengkap hampir semua hidangan.
Namun, banyak netizen yang mengatakan sekarang mulai lebih waspada terhadap kadar gula dan natrium dalam kecap manis.
Beberapa orang memutuskan untuk mengurangi porsi makanan mereka, sementara yang lain mulai membatasi asupan makanan yang kaya akan garam agar tekanan darah tetap stabil.
Nikmat Boleh, Berlebihan Jangan
Saus manis bukanlah makanan yang harus sepenuhnya dihindari. Namun, sebagaimana halnya gula dan garam, penggunaannya tetap perlu diatur.
Menggunakan kecap secukupnya, mengurangi konsumsi makanan yang kaya gula dan garam, meningkatkan asupan sayuran dan buah-buahan, aktif secara fisik secara teratur, serta memeriksa tekanan darah secara rutin merupakan langkah sederhana dalam menjaga kesehatan.
Pada akhirnya, bukan saus manis yang menjadi lawan, tetapi kebiasaan mengonsumsinya secara berlebihan tanpa disadari. Oleh karena itu, menikmati makanan kesukaan tetap diperbolehkan, selama dilakukan dengan pola makan yang lebih bijaksana dan seimbang.
Bagikan Artikel & Dapat Reward
Share artikel ini ke media sosial. Setiap link/share valid bernilai Rp10.
Catatan: sistem mencatat 1 reward per platform, per artikel, per IP untuk mengurangi spam. Status awal pending dan dapat diverifikasi admin.
Jika Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan & Dukung Tim Penulis
Setiap dukungan membantu kami terus menghadirkan artikel informatif, edukatif, dan bermanfaat untuk pembaca.
Terima kasih sudah mendukung karya penulis independen.
Disclaimer & Kebijakan RedaksiKompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.
Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama “Kompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.
Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.
Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke
redaksi@kompasia.com
dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.
Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.
DUKUNG PENULIS VERIFIED☕ Traktir Kopi
Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.
Masuk untuk Berikan Kopi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.