Diaz, Korban ke-4 dari Jakarta di Gunung Semeru

Ini adalah kisah mengenai Diaz, pendaki Jakarta keempat yang meninggal di Gunung Semeru. Diceritakan oleh Djoko, rekan pendakinya kepada MajalahHAI.…
1 Min Read 0 6

Ini adalah kisah mengenai Diaz, pendaki Jakarta keempat yang meninggal di Gunung Semeru. Diceritakan oleh Djoko, rekan pendakinya kepada MajalahHAI.

Penulis: Djoko, tayang di Majalah HAI edisi Maret 1983 dengan judul “Kabar Duka dari Puncak Semeru”

Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini.

Intisari-Online.com – Cuaca cerah di pagi hari mengelilingi Puncak Mahameru (3676 m). Puncak Gunung Semeru merupakan puncak yang mendominasi gunung-gunung di Pulau Jawa.

Diaz, Korban ke-4 dari Jakarta di Gunung Semeru

Tidak ada kabut yang mengganggu ketenangan pagi itu. Cahaya matahari menembus puncak pohon pinus. Sementara angin menggerakkan daunnya, hewan-hewan di hutan menyambutnya dengan penuh harapan.

Namun keheningan pagi berubah menjadi gelap. Di kawasan kerucut Mahameru, seorang pendaki sedang menikmati momen terakhir dalam hidupnya.

Ia tidak kehilangan arah, juga tidak terjebak oleh gas beracun, atau jatuh ke dalam jurang. Sebuah batu yang ukurannya lebih besar dari kepalanya menabrak tepat di sisi telinga kanannya. Darah mengalir deras dari mulut, hidung, dan telinganya.

Luka parah di kepalanya menyebabkan dia kehilangan kesadaran. Beberapa pendaki dengan air mata yang deras berusaha melakukan apa saja untuk membantu pendaki yang terluka parah, meskipun tampaknya sudah terlalu terlambat.

Peristiwa tersebut dimulai dari keinginan kami untuk mendaki Mahameru, sebuah pencapaian pendakian yang telah lama menjadi impian kami. Setelah kami berhasil sampai di puncak Gunung Slamet (3474 m), yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah, kami merasa percaya diri untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Dengan persiapan pendakian yang telah kami lakukan, kami melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Doa dan dukungan dari orang tua serta teman-teman memperkuat bekal perjalanan kami.

Akhirnya di pertengahan tahun 1982, kami meninggalkan Jakarta. Kereta api pagi yang berangkat dari Stasiun Balapan, Solo, Jawa Tengah, membawa kami. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Blitar, dan dari Blitar kami melanjutkan perjalanan ke Malang dengan kereta api juga.

Setelah melewati sehari perjalanan menggunakan kereta, kami akhirnya sampai di Malang.Coltmembawa kami ke Gubuk Klakah melalui Tumpang.

Saat sore tiba, kami sampai di rumah Pak Tugas, petunjuk jalan yang akan membawa kami. Malam itu kami menginap di sana.

Pukul 5.00 kami berangkat dari Gubuk Klakah menuju Desa Ranupane, desa terakhir yang berada di kaki Gunung Semeru. Pukul 7.30, kami tiba di Pondok Pecinta Alam Ranupane.

Setelah sarapan pagi dan beristirahat, pada pukul 11.05 WIB, kami berangkat dari desa Ranupane menuju Arcapada (camp site) menuju Mahameru. Setelah melewati area permukiman, semak belukar, dan hutan alami, pada pukul 14.00 kami tiba di sebuah bukit yang dikenal sebagai Bukit Ayek Ayek.

Gunung ini adalah wilayah yang paling berbahaya di Semeru. Di sini kami berhenti beristirahat dekat Monumen Young Pioneer, tempat dua pendaki asal Malang meninggal saat melakukan pendakian pada musim hujan.

Di sini kita bertemu dengan tiga pendaki dari Lumajang yang telah tiba di Mahameru kemarin sore. Setelah cukup lama beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.

Pukul 16.00 kami tiba di Danau Ranu Kumbolo (ranu= danau. Danau yang terletak di kaki Gunung Semeru yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Kami mengisi ember dan botol dengan air sebanyak mungkin, karena Ranu Kumbolo merupakan sumber air terakhir.

Pukul 19.15, setelah selesai beristirahat dan makan, kami berangkat dari Ranu Kumbolo. Menggunakan sebuah lentera dan senter, kami melewati gelapnya malam dengan harapan tiba di Arcapada pada malam ini juga.

Pukul 00.20 kami tiba di Gubug Seng (di Kalimati). Di tempat tersebut sudah ada beberapa kelompok pendaki, termasuk rombongan Sispena dan kelompok Pecinta Alam dari SMA I Jember. Akhirnya pada pukul 02.00 kami sampai di Arcapada.

Kami membangun tenda dan menyalakan api unggun. Karena kelelahan, akhirnya kami tertidur meskipun suhu di luar sangat rendah (4ºC).

Pukul 05.30, kami mulai bersiap-siap untuk berangkat ke puncak. Saat akan berdoa bersama, ternyata salah satu dari kami, bernama Diaz, tidak ada.

Kami mengira dia masih tertidur di dalam tenda. Ternyata tidak ada orang di dalam tenda. Mungkin dia sudah berjalan lebih dulu bersama rombongan yang berangkat lebih awal, yaitu Sispena. Setelah selesai berdoa, kami melanjutkan pendakian, namun petunjuk jalan hanya bisa membawa kami sampai ke sini.

Kami sampai di kawasan berbatu yang menjadi batas hutan. Di depan kami berdiri tegak Bukit Gundul Mahameru yang menyerupai kerucut.

Di sini kita bertemu dengan Diaz, benar saja dugaan kita, ternyata dia telah berjalan lebih dulu. Kita mengutuk tindakannya yang ceroboh itu. Setelah foto bersama pendakian dilanjutkan, sementara Diaz tetap berada di depan.

Satu jam dalam perjalanan mendaki masih melewati area berpasir dan berbatu, sementara Diaz semakin menjauh dari kami, ikut serta dengan kelompok pendaki lain di puncak. Aku kagum pada kekuatannya, ambisinya yang besar memberinya semangat untuk terus melangkah. Aku yakin dia akan menjadi orang pertama dari kami yang tiba di Puncak Mahameru.

Sementara Diaz berada paling atas di bawah Hadi, Budi, Toto, aku, dan Ruby (satu-satunya perempuan yang ikut dalam pendakian ini). Ruby tampak sangat antusias ingin mencapai puncak, meskipun saya melihat kondisinya tidak terlalu meyakinkan, dia beberapa kali berjalan lalu berhenti dan beristirahat.

Kami memahami dan dengan sabar menantinya. Terkadang kami menggodanya, dengan mengibas-ngibaskan roti di depannya, agar dia kembali berjalan. Jika dia bangkit dan mencoba mengambil roti itu, kami pun menjauh. Ketika hal ini terjadi, wajahnya akan menyeringai dan kami tertawa keras.

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa ingin berlari lebih cepat. Aku bangun dan mulai berjalan, Toto dan Budi berhasil kusempatkan. Hadi juga demikian.

Bendera yang telah kubawa sejak awal perjalanan, kubentangkan untuk memberi semangat kepada teman-temanku yang berada di bawah. Ketika aku melewati batu besar, kulihat seseorang berkaos biru dan berjaket hijau tertidur di atasnya. Mungkin dia terlalu lelah.

Tampaknya mirip dengan Diaz. Namun aku meragukan hal tersebut, karena sejak awal perjalanan dia tidak mengenakan baju biru. Keraguan saya semakin bertambah karena saya pikir dia sudah sampai di puncak. Saya pun tidak memanggilnya dan membiarkannya tertidur.

Aku melanjutkan perjalanan pendakian, karena wilayah yang kujalani semakin berpasir. Aku mengambil jalur lain, melewati aliran air yang sedikit berbatu.

Aku berpikir dengan jalan ini, pendakian akan lebih cepat. Jarak antaraku dengan teman-temanku semakin menjauh. Di atas sebuah batu besar aku berhenti beristirahat, mungkin karena lelah hingga sempat tertidur. Tiba-tiba aku terbangun setelah mendengar teriakan dari atas.

Aku melihat ke atas, beberapa batu bergerak saling bersaing. Debuan tebal mengikuti di belakangnya, membuatku terkejut sejenak.

Segera aku menyadari, aku mengibarkan bendera untuk memberi tahu teman-temanku di bawah sambil berteriak, “Batu runtuh! Batu runtuh!”

Mendengar teriakanku, mereka mulai bersiap menghindar. Namun, pendaki yang sebelumnya tertidur masih tetap tertidur. Batu-batu yang jatuh semakin mendekat, kini batu tersebut telah melewatiku sekitar delapan meter di sampingku.

Batu-batu yang jatuh semakin deras mengalir. Aku melihat Toto berada paling dekat dengan pendaki yang tertidur, aku berharap dia membangunkan pendaki tersebut dan memberi peringatan tentang bahaya yang ada.

Aku melihat ke atas, ternyata situasinya sudah aman, tidak ada lagi batu yang jatuh. Hatiku menjadi tenang. Aku memandang ke bawah, apakah kondisinya juga aman sekarang. Kulihat Toto memeluk pendaki yang sedang tidur, apa yang terjadi dengannya?

Aku kaget. Masih ada rasa keterkejutan dalam diriku, tiba-tiba terdengar teriakan Toto.

“Djoko turun!”

Semakin bertambah rasa kecewaku, sehingga aku mendekatinya. Setelah berada dekat, kudapati Toto sedang menangis dan berteriak:

Djoko, lihat Diaz! Kepalanya sedang berdarah!

Seperti terkena sambaran petir, aku mendengarnya, ternyata pendaki yang tertidur adalah Diaz yang kuduga telah sampai di puncak. Sekarang dia berbaring tak berdaya di pangkuan Toto.

Salah satu batu yang jatuh mengenai tepat di bagian samping kepalanya. Darah mengalir dari luka di kepala, hidung, mulut, dan telinganya, membuat jaketnya basah.

Toto yang memeluknya juga terkena darah. Aku mencoba mengangkat bendera yang kubawa lalu melilitkannya di kepala Diaz. Kami berdua berusaha membuatnya sadar, tetapi dia tetap tidak sadar.

Ternyata benturan batu tersebut sangat kuat. Kami semakin takut karena setiap napasnya diiringi suara menggerogoti (ternyata darah dari hidung dan mulut menghalangi pernapasannya). Sementara Budi, Ruby, dan Hadi yang berhasil menghindar berlari menuju kami.

Mereka akhirnya menangis. Dan kami juga larut dalam air mata yang menyentuh hati. Budi kemudian menyentuh luka di kepala Diaz, Budi merasakan kepala Diaz terasa lunak (namun dia tidak memberitahu kami).

Budi kemudian berdoa setiap kali Diaz melakukan gerakan. Ternyata Budi mengetahui bahwa Diaz tidak memiliki harapan lagi untuk bertahan hidup.

Budi selaku pemimpin berusaha menenangkan kami, kemudian memintaku turun ke Arcapada untuk menyampaikan peristiwa ini kepada Pak Tugas. Selanjutnya aku berlari turun, beberapa kali terjatuh dan bangun kembali. Tiga pendaki di bawah yang melihatku seperti orang gila berusaha menghentikan dan menenangkanku.

Kemudian mereka bertanya kepadaku apa yang terjadi. Dengan suara yang tergagap-gagap, aku menceritakan peristiwa sebelumnya.

Dua orang di antara mereka kemudian berlari ke atas, sedangkan yang satu lainnya tetap bersamaku saat turun. Saat aku turun, Diaz dibawa oleh teman-temanku ke lokasi yang lebih aman.

Karena medan yang berat, Diaz dibawa dengan cara diletakkan di atas tubuh Toto dan Budi, kemudian Ruby serta Hadi menarik kaki mereka berdua. Akibatnya, celana mereka rusak parah, bokong mereka memerah dan terasa sakit.

Sampai ke wilayah hutan dan daerah berbatu, Diaz ditempatkan di tanah. Kembali teman-temanku bingung. Apa yang harus mereka lakukan?

Kemudian, pendaki-pendaki lain datang untuk membantu. Teman-teman dari Sispena yang sebagian anggotanya telah sampai di puncak juga turut serta membantu.

Benar-benar terasa kehadiran mereka bagi kami pada saat itu. Teguh, seorang Sispena, mengikat kepala Diaz dengan syal agar mengurangi goyangannya di kepala.

Obat-obatan yang kami bawa pada saat itu memang tidak memiliki arti apa pun untuk luka yang begitu parah. Teguh, yang ternyata merupakan ketua Sispena yang lebih paham tentang hal-hal semacam ini, berusaha memberikan bantuan sebaik mungkin kepada Diaz.

Dari sana kami mengetahui bahwa tengkorak Diaz mengalami retak. Akibatnya dia mengalami cedera otak yang berat.

Sampai di Arcapada, aku segera memberitahu Pak Tugas tentang kejadian buruk ini. Kemudian dia pergi ke lokasi kejadian. Tidak lama setelah itu, dia turun.

Tuan Sujai, seorang pembina Sispena, kemudian menulis surat permohonan bantuan kepada Tim SAR. Aku bersama beberapa pendaki kemudian membongkar tenda dan mengemas barang-barang untuk dibawa ke atas. Pendaki-pendaki Sispena yang lain diperintahkan untuk turun.

Saat sore, aku pergi ke tempat teman-temanku yang sedang menjaga Diaz, sambil membawa perlengkapan yang kami butuhkan. Mendekati waktu maghrib, aku tiba di sana.

Aku bertanya apakah mereka sudah makan? Kemudian aku berikan beberapa bungkus roti. Aku melihat mereka memakan dengan lahap, ternyata sejak peristiwa terjadi (peristiwa terjadi pukul 09.00) hingga aku tiba mereka belum menyentuh makanan, wajar saja mereka lapar.

Diaz saat itu masih belum sadar, pernapasannya tetap mengeluarkan suara mendengkur. Dan sekarang terlihat lebih buruk, tubuhnya mengalami kaku dan gemetar.

Untuk menghindari terjadinya luka pada lidah saat mengalami kejang, maka di antara gigi-gigi rahang ditempatkan sehelai kain yang telah dibungkus dengan selimut.

Maria, seorang pendaki asal Sispena yang sejak awal membantu kami dengan sabar merawat Diaz, membersihkan darah yang mengalir tanpa sedikit pun rasa takut atau khawatir. Ia berada di sisi kanan Diaz, sedangkan aku berada di sisi kirinya.

“Lho, napase wis entek,” napas Maria dalam bahasa Jawa, yang artinya napasnya telah habis.

Aku yang memahami perkataan itu kaget. Aku mendekatkan telingaku ke dada Diaz. Rekan Sispena yang lain memeriksa pergelangan tangannya, ternyata Diaz telah meninggal dunia, tepat pada pukul 19.10.

Setelah berada dalam kondisi koma selama 10 jam, aku yang lebih dulu mengetahui hal tersebut tidak mampu menahan air mata. Teman-temanku juga ikut menangis setelah mengetahui informasi itu.

Selamat jalan Diaz, tampaknya Tuhan telah memanggilmu di puncak tertinggi pulau Jawa ini. Diaz menjadi korban keempat dari Jakarta yang meninggal di Gunung Semeru setelah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (keduanya adalah mahasiswa UL) serta Indrianto (mahasiswa Universitas Trisakti).

Saat malam semakin gelap, angin kencang berhembus menggoyang pohon-pohon pinus, menghasilkan suara yang keras dan menggelegar. Kami menggunakan alas tenda untuk melindungi diri dari serangan angin, namun api unggun yang kami nyalakan tidak cukup untuk menghangatkan tubuh kami, sehingga kami tetap merasa kedinginan dan gemetar.

Malam itu kami benar-benar tidak bisa tidur.

Keesokan harinya setelah bencana tersebut, bantuan yang diharapkan belum juga tiba. Persediaan makanan semakin berkurang, kondisi kami semakin memburuk.

Pagi ini rekan Sispena berpamitan kepada kami karena harus turun ke Ranupane, Hadi ikut bersama mereka. Mereka meninggalkan beberapa liter air dan makanan. Terima kasih, teman, betapa besar rasa solidaritasmu.

Sekarang aku, Budi, Toto, dan Ruby sedang menunggu Diaz sampai bantuan tiba. Tidak lama kemudian mereka turun datang rombongan pendaki dari Jepara, Malang, dan Surabaya.

Kepada mereka kami memohon agar bersedia turun bersama kami sambil membawa jenazah. Bantuan yang diharapkan tidak datang juga, sehingga kami memutuskan untuk turun.

Pukul 10.00, kami terkejut oleh asap yang muncul dari kawah dan bergerak mengarah ke kami. Ternyata benar apa yang pernah diungkapkan oleh pendaki Gunung Semeru, bahwa setelah pukul 10.00, angin akan berubah arah dan membawa asap beracun.

Kami segera mempersiapkan diri untuk turun. Batang-batang pohon pinus yang diikat-ikat lalu diberi alas tenda, kami gunakan sebagai alat bawa untuk membawa jenazah.

Namun kami mengalami kesulitan saat menuruni medan karena kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan. Pohon-pohon yang tumbuh berdekatan menghalangi upaya penurunan.

Dan lagi, kami yang saat ini berjumlah lebih dari sepuluh orang benar-benar tidak mampu membawanya, karena kondisi tubuh kami yang sangat lemah. Akhirnya, di tempat yang agak terbuka kami berhenti sejenak untuk beristirahat.

Desa Ranupane masih membutuhkan setengah hari perjalanan. Mengingat kondisi kami yang semakin buruk, kami memutuskan untuk meninggalkan jenazah Diaz, tindakan ini kami lakukan agar kami bisa tiba lebih cepat di Ranupane untuk memberikan keyakinan kepada tim penyelamat (Tim SAR), bahwa kami benar-benar mengalami kecelakaan.

Beberapa dari kami tidak sependapat, dan dia ingin tetap berada di sini untuk menjaga jenazah. Budi kemudian menjelaskan bahwa kita juga akan mengalami nasib yang sama jika kita terus bertahan dalam kondisi seperti ini. Ia pun memahami. Kami berkumpul di sekitar jenazah untuk berdoa bersama sebelum kami berangkat.

Dengan langkah yang sangat berat, kami turun sambil meninggalkan jenazah. Kami tidak meninggalkanmu karena ingin melepaskan tanggung jawab, tetapi situasi yang memaksa kami untuk bertindak demikian, namun kami akan mencari bantuan.

Pukul 13.00, sebelum tiba di kawasan Ranu Kumbolo, kami bertemu dengan Pak Tugas dan empat warga setempat. Mereka menyampaikan bahwa mereka yang akan mengantar Diaz ke Ranupane, karena proses bantuan dari Tim SAR yang diminta terlalu rumit dan memakan waktu.

Hal ini terjadi karena tidak ada laporan bahwa kami sedang melakukan pendakian. Memang kami tidak membawa surat izin yang ternyata menjadi hal yang sangat penting pada momen seperti ini.

Pak Tugas menyampaikan bahwa mereka meminta imbalan sebesar Rp100 ribu. Kami merasa kaget mendengarnya, dari mana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu, padahal untuk pergi saja masing-masing hanya membawa uang sebesar Rp15 ribu.

Berdasarkan saran seorang teman, akhirnya kami menyetujui hal tersebut. Ia mengatakan bahwa masalah biaya nanti bisa dibicarakan dengan Kamituwo. Yang terpenting adalah jenazah tiba dengan selamat di Ranupane.

Setelah urusan selesai, keempat penduduk bersama Pak Tugas berangkat menuju tempat Diaz. Sementara itu, kami pergi ke Ranupane.

Setelah melewati area padang rumput, Bukit Ayek Ayek, serta hutan alami, kami tiba di pondok Ranupane pukul 24.00 setelah sempat tersesat selama dua jam. Satu jam kemudian, petugas pondok memberi tahu bahwa jenazah telah tiba di rumah Kamituwo.

Kami diminta datang ke sana, karena jenazah akan segera diberangkatkan malam itu juga ke Malang. Di rumahkamituwoTernyata telah ada beberapa petugas kepolisian, kemudian mereka memanggil kami untuk diperiksa.

Setelah selesai, kami semua diminta untuk ikut mengantarkan jenazah ke Malang dengan berjalan kaki. Karena kondisi kami yang sudah lemah, hanya Budi yang sedikit lebih baik kondisinya yang ikut mengantar. Aku, Toto, dan Ruby kembali ke pondok.

Keesokan harinya, pukul 08.00 kami bertiga turun ke Malang dengan membawa ransel. Teman-teman pendaki dari Jepara dan Tumpang ikut serta bersama kami dan membantu mengangkat barang bawaan kami.

Kami berjalan kaki menuju Malang melewati lereng-lereng bukit. Pukul 16.00 kami sampai di Desa Gubuk Klakah.

Dengan kendaraan coltkami melanjutkan perjalanan. Mendekati waktu Maghrib, kami tiba di Tumpang, tempat kami kembali bertemu dengan Budi dan Hadi.

Ceritanya, mereka kini tinggal di rumah Pak Guntur (kepala kepolisian 1022-20 Tumpang, Malang). Hadi ternyata kehilangan dompetnya dan Budi sudah habis uangnya. Selanjutnya kami juga ikut tinggal bersama mereka sambil menunggu kedatangan orang tua Diaz yang telah dihubungi oleh pihak kepolisian.

Jenazah Diaz disimpan di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Malam itu Pak Guntur memanggil para wartawan.Suara Indonesia untuk mewawancarai kami.

Kami semua diundang oleh pihak kepolisian untuk diberikan keterangan tambahan dan pada hari itu surat kabarSuara Indonesiasudah menyajikan berita tentang kecelakaan di Mahameru tersebut.

Pagi hari, Pak Judin, saudara Diaz dari Malang yang sudah diberitahu datang untuk menyelesaikan pembayaran pengangkutan jenazah. Setelah dilakukan negosiasi akhirnya disepakati sebesar Rp40 ribu sebagai pembayaran atas bantuan mereka.

Tidak lama setelah itu, orang tua Diaz tiba. Aku melihat rasa sedih yang mendalam di balik kerutan wajahnya yang terlihat tua. Sedihnya seorang Ayah yang kehilangan anaknya. Kami menceritakan segala sesuatu yang terjadi, dan dia pun menangis ketika mendengarnya.

Namun terlihat kekuatan yang muncul dari matanya. Selanjutnya dia memberi nasihat, peristiwa ini adalah takdir Tuhan.

Kita tidak bisa menghentikannya atau menunda waktu kejadian, dan kita pasti akan mengalaminya. Baik di rumah, di jalan, maupun di pegunungan, yang terpenting adalah persiapan kita dalam menghadapinya, yaitu Iman dan Takwa. Pada siang hari, kami semua berangkat ke Malang menuju rumah Pak Judin.

Pukul 02.00 malam, jenazah dibawa ke Jakarta menggunakan kendaraan Luv. Diantarkan oleh orang tua Diaz dan Pak Judin. Pukul 07.00 kami melanjutkan perjalanan dengan kereta api. Kami berharap bisa hadir dalam prosesi pemakamannya.

Keesokan harinya pukul 05.00, jenazah Diaz tiba di Jakarta. Kami masih dalam perjalanan kereta api menuju Jakarta. Baru pukul 12.00 kami sampai di stasiun Gambir.

Dari tempat kami langsung berangkat ke rumah Diaz untuk menghadiri pemakamannya. Namun, terlambat, karena dia telah dikuburkan pukul 11.00, satu jam sebelum kami tiba di Jakarta.

Beberapa hari setelah tiba di Jakarta, kami mengunjungi makamnya yang diantar oleh adik almarhum. Di makam tersebut, aku kembali teringat pada tingkah lakunya yang sedikit tidak biasa pada hari-hari terakhirnya.

Ia sangat rajin melakukan salat Tahajud, hingga ibunya merasa kagum. Saat bepergian, ia selalu yang tercepat dalam melaksanakan salatnya. Ketika di Arcapada, saat salat Subuh, teman-temannya yang salat bersamanya telah selesai, namun ia masih terus-menerus melanjutkan salatnya, tidak tahu berapa jumlah rakaat yang ia lakukan.

Setelah selesai berziarah, kami meninggalkan tempat pemakaman tersebut. Sebuah bunga edelweis kami letakkan di atas makamnya sebagai wujud rasa duka dari Gunung Semeru. (Djoko)

971SHARES1kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia