Jurnalis KOMPASIA.COM, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Permintaan untuk donor darah sering kali muncul dan terasa sulit dipenuhi saat kondisi darurat.
- Sebenarnya, jumlah pendonor darah di seluruh dunia terus mengalami peningkatan.
- Namun mengapa kenaikan tersebut tidak secara otomatis mempermudah semua pasien dalam mendapatkan darah ketika diperlukan?
KOMPASIA.COM, JAKARTA– Permintaan donor darah masih sering terlihat di media sosial.
Beberapa keluarga pasien mencari golongan darah tertentu sebelum operasi. Atau ibu yang memerlukan transfusi darah setelah melahirkan.
Terdapat juga anak yang menderita penyakit darah dan memerlukan transfusi secara rutin agar dapat bertahan hidup.
Sebenarnya, jumlah pendonor darah di seluruh dunia terus mengalami peningkatan.
Data terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan peningkatan pengumpulan darah secara global sebesar hampir 19 persen selama periode 2013 hingga 2023.
Pada tahun 2023, dunia berhasil mengumpulkan sekitar 120 juta kantong darah yang didonasikan. Lebih dari 85 persen berasal dari para pendonor sukarela yang tidak menerima imbalan.
Namun peningkatan tersebut ternyata tidak secara otomatis mempermudah semua pasien dalam mendapatkan darah ketika dibutuhkan.
WHO menekankan bahwa akses terhadap darah yang aman masih menjadi isu besar di berbagai negara.
Darah Diperlukan dalam Kondisi yang Menentukan Hidup dan Mati
Beberapa orang mungkin hanya melakukan donor darah beberapa kali sepanjang hidup mereka.
Namun, bagi beberapa pasien, darah merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk menjaga keselamatan mereka.
WHO mengacu pada kelompok yang paling memerlukan transfusi darah, seperti perempuan yang mengalami perdarahan berbahaya saat melahirkan, anak-anak dengan anemia parah, korban kecelakaan dan luka bakar, pasien yang menjalani operasi, serta penderita talasemia, hemofilia, penyakit sel sabit, gangguan imun, dan beberapa jenis kanker.
Jika darah tidak tersedia secara tepat, maka risiko yang dihadapi pasien bisa meningkat signifikan.
“Tiada seorang pun boleh meninggal akibat ketidaktersediaan darah yang aman saat dibutuhkan,” ujar Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir dari situs resmi.
Mengapa Darah Masih Sulit Diperoleh?
WHO menemukan permasalahan utama bukan hanya jumlah pendonor.
Masalah juga muncul dalam sistem pendistribusian darah di berbagai negara.
Negara-negara dengan pendapatan tinggi yang hanya memiliki sekitar 15 persen dari jumlah penduduk dunia ternyata mengumpulkan 36 persen dari total sumbangan darah global.
Sebaliknya, banyak negara dengan pendapatan rendah masih mengalami keterbatasan pasokan. Penyebabnya beragam.
Mulai dari keterbatasan dana, infrastruktur yang belum memadai, hambatan pengiriman, hingga jumlah pendonor yang masih kurang.
Akibatnya, persediaan darah yang ada tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Donor Darah Sukarela Jadi Tulang Punggung
ORGANISASI Kesehatan Dunia menyebut donor sukarela tanpa bayaran merupakan fondasi utama pasokan darah yang aman.
Berita baiknya, sumbangan para donatur sukarela terus meningkat dalam sepuluh tahun terakhir.
Dari keseluruhan sekitar 120 juta kantong darah yang terkumpul pada tahun 2023, lebih dari 85 persen berasal dari para pendonor sukarela.
“Data ini menunjukkan perkembangan yang memuaskan, khususnya dalam peningkatan partisipasi donatur darah sukarela tanpa imbalan di seluruh dunia – dasar dari pasokan darah yang aman dan berkelanjutan,” kata Tedros.
Namun, WHO juga mencatat masih terdapat perbedaan yang besar antar negara.
Di negara dengan pendapatan tinggi, pendonor sukarela menyumbang 98,4 persen dari seluruh pengumpulan darah.
Sementara di negara dengan pendapatan rendah, proporsinya masih sekitar 63,4 persen.
Masalah Bukan Hanya Terletak pada Penderma
WHO menganggap keamanan pasokan darah memerlukan lebih dari sekadar jumlah pendonor.
Sistem layanan darah yang baik juga sangat berpengaruh.
Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa hampir sepertiga negara belum memiliki peraturan undang-undang khusus mengenai keselamatan dan mutu darah.
Hanya 64 persen dari negara-negara yang memiliki sistem pemeriksaan rutin layanan darah.
Sebanyak 62 persen memiliki mekanisme izin.
Sementara hanya 40 persen yang menyatakan bahwa sebagian layanan transfusi darah mereka telah terakreditasi.
Situasi ini menggambarkan masih adanya tantangan besar dalam mempertahankan kualitas dan keamanan darah.
WHO mengeluarkan data tersebut menjelang Peringatan Hari Donor Darah Dunia yang dirayakan setiap 14 Juni.
Tema kampanye tahun ini adalah “Satu Tetes Kemanusiaan. Berikan Darah. Selamatkan Nyawa.”
Topik tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kantong darah yang diberikan bisa membantu pasien yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Di balik angka 120 juta sumbangan darah global, masih banyak pasien yang menantikan darah tersedia secara tepat waktu.
Oleh karena itu, sesuai dengan WHO, memperkuat budaya donor sukarela serta menciptakan sistem layanan darah yang tangguh menjadi kunci untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang