Minggu, 13 September 2026Indonesia
Kompasia
Trending

Gedung DPR Disebut Mirip Kepak Sayap Garuda oleh AMI DKI Jakarta

Oleh Pimpinan Redaksi Β· November 26, 2025 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
βœ“ Penulis Verified

Filosofi dan Sejarah Gedung Nusantara DPR RI

Gedung Nusantara, yang kini menjadi bagian dari kompleks DPR RI, memiliki makna filosofis yang mendalam. Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta, Yiyok T. Herlambang, menjelaskan bahwa gedung ini melambangkan kepak sayap burung Garuda yang menaungi Nusantara. Hal ini mencerminkan semangat persatuan dan kekuatan bangsa Indonesia.

Gedung Nusantara sebelumnya dikenal sebagai Gedung Conefo, sebuah proyek yang diinisiasi oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Tujuan awal pembangunan gedung ini adalah untuk menjadi sekretariat dari Conference of the Emerging Forces (Conefo), sebuah organisasi yang terdiri dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Conefo dibentuk sebagai alternatif bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada masa itu.

Gedung ini dirancang oleh arsitek ternama, Soejoedi Wirjoatmodjo, dan disahkan oleh Presiden Soekarno pada 22 Februari 1965. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting di Indonesia, termasuk akhir masa pemerintahan Orde Baru dan lahirnya era reformasi pada Mei 1998. Saat itu, ribuan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa dan menduduki atap gedung berwarna hijau tersebut, menuntut mundurnya Presiden Soeharto.

Selain sejarahnya, Gedung Nusantara juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Menurut Yiyok, bentuk atap gedung yang menyerupai kura-kura sebenarnya memiliki makna filosofis lain, yaitu kepak sayap burung Garuda. Hal ini menunjukkan bahwa desain bangunan tidak hanya estetis, tetapi juga bermakna dalam konteks budaya dan simbolisme nasional.

Fungsi dan Keunikan Gedung Nusantara

Gedung Nusantara bukan hanya tempat representasi lembaga legislatif, tetapi juga menjadi tempat wisata studi tour dan penelitian. Masyarakat umum dapat mengunjungi gedung ini untuk mempelajari sejarah, arsitektur, dan peran pentingnya dalam kehidupan politik Indonesia.

Sekretaris Jenderal DPR RI, Indra Iskandar, menambahkan bahwa gedung Conefo, yang digagas oleh Soekarno, merupakan simbol kekuatan Indonesia di mata dunia. Ia menilai bahwa desain arsitektur Gedung Nusantara sangat unik dan megah, dengan konstruksi yang rumit dan teknik yang melampaui zamannya.

Dari segi arsitektur, banyak ahli menyebut bahwa teknik yang digunakan dalam pembangunan gedung ini sangat luar biasa. Bahkan hingga saat ini, beberapa arsitek masih mengagumi desain dan struktur bangunan yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Status Cagar Budaya

Ketetapan Gedung Nusantara DPR RI sebagai cagar budaya tingkat provinsi masih menunggu tanda tangan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Proses ini menjadi langkah awal untuk menjadikan gedung ini sebagai cagar budaya nasional.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Ar. Endy Subijono, menjelaskan bahwa dari semua gedung di Kompleks Parlemen RI, hanya Gedung Nusantara yang diajukan sebagai cagar budaya nasional. Sementara itu, lingkungan dan bangunan lain belum diusulkan.

Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, penilaian dan penetapan cagar budaya dilakukan secara berjenjang. Awalnya, penilaian dilakukan di tingkat provinsi, kemudian naik ke tingkat nasional. Untuk di tingkat Jakarta, kajiannya sudah selesai dan memenuhi syarat. Tinggal menunggu tanda tangan gubernur sebagai legalitas penempatan di level provinsi.

Di sisi lain, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB Nasional) juga sedang mengkaji untuk menetapkan Gedung Nusantara sebagai cagar budaya nasional. Langkah ini dilakukan agar proses penetapan bisa lebih cepat.

Endy menilai bahwa Gedung Nusantara layak menjadi cagar budaya nasional karena memenuhi kriteria yang ditetapkan. Di antaranya, bangunan ini memiliki usia yang cukup tua, mewakili masa gaya tertentu, serta memiliki arti penting dalam sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Selain itu, Gedung Nusantara juga memiliki nilai budaya yang kuat, mencerminkan kekhasan kebudayaan Indonesia. Desainnya yang unik dan langka, serta narasi sejarah yang kaya, membuat bangunan ini layak diakui sebagai cagar budaya nasional.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia