RUBLIK DEPOK– Gunung Buleud merupakan salah satu tempat wisata alam yang memiliki nilai sejarah dan kekayaan lingkungan di perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Gunung yang memiliki ketinggian 1.182 meter di atas permukaan laut ini tidak hanya menawarkan pemandangan pegunungan yang segar, tetapi juga pernah menjadi lokasi penelitian ilmiah dalam ekspedisi ilmu pengetahuan dunia pada abad ke-19.
Gunung yang terletak di batas wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat
Gunung Buleud adalah salah satu rangkaian pegunungan ketiga yang terletak di Pulau Jawa. Keistimewaan gunung ini berada pada posisi puncaknya yang berada persis di batas wilayah antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Kondisi ini membuat Gunung Buleud memiliki dua jalur utama yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung.
Bagian selatan Gunung Buleud terletak di Desa Cibodas, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Di sisi utara gunung tersebut berada di Kampung Bahubang, Desa Situwangi, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.
Akses menuju kawasan wisata ini bisa ditempuh melalui dua jalur yang tersedia. Baik jalur Desa Cibodas maupun Desa Situwangi sama-sama terhubung dengan Jalan Raya Soreang–Cipatik. Kondisi jalan secara keseluruhan sudah dilapisi aspal sehingga nyaman digunakan oleh kendaraan bermotor dua maupun empat roda.
Meski begitu, ciri khas wilayah Soreang yang dikelilingi oleh daerah pegunungan dan bukit menyebabkan perjalanan menuju Gunung Buleud penuh dengan kemiringan dan turunan yang cukup tajam. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk memastikan kendaraannya dalam keadaan baik sebelum memulai perjalanan ke lokasi tersebut.
Pernah Jadi Tempat Penelitian Ilmiah Kualitas Global
Salah satu fakta menarik yang membedakan Gunung Buleud dari gunung lainnya adalah hubungannya dengan sejarah penelitian ilmiah internasional. Dalam catatan sejarah, wilayah ini pernah menjadi salah satu tempat penelitian dalam Ekspedisi Novara, sebuah misi ilmiah yang diinisiasi oleh Kerajaan Austria pada abad ke-19.
Pada tanggal 19 Mei 1858, dua ilmuwan bernama Dr. Höchstetter dan Dr. Eliza de Vrij mendatangi Gunung Buleud guna mengamati formasi batuan yang terletak di tepi jurang dengan struktur yang tinggi dan menjulang. Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan ilmiah yang dilakukan selama ekspedisi berlangsung.
Ekspedisi Novara menggunakan kapal fregat yang diberi nama SMS Novara dan berlangsung dari 30 April 1857 hingga 26 Agustus 1859. Selama perjalanan mengelilingi dunia, para ilmuwan melakukan sekitar 30 kali pemberhentian di berbagai daerah, termasuk Nusantara.
Selain Gunung Buleud, penelitian juga dilakukan di beberapa lokasi lain seperti Gunung Gede, Gunung Tangkubanparahu, Curug Halimun, Curug Jompong, serta daerah perbatasan Distrik Rongga yang kini termasuk dalam wilayah Cililin dan Cianjur. Berdasarkan catatan yang tercantum dalam bukuNaturalis Jerman di Wilayah Priangankarya Muhammad Malik Ar Rahiem, hasil ekspedisi tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Hutan Pinus, Batu Nini, dan Pemandangan Alam yang Menarik
Selain memiliki riwayat yang panjang, Gunung Buleud juga menyajikan kekayaan alam yang menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Salah satu tempat yang cukup terkenal adalah Batu Susun yang kini lebih dikenal dengan sebutan Batu Nini.
Di sekitar wilayah tersebut terdapat hamparan hutan pinus yang masih cukup lebat. Hutan ini bisa ditemukan saat perjalanan menuju puncak setelah melewati kawasan Batu Nini. Ketenangan dan rindangnya pepohonan membuat perjalanan mendaki terasa lebih menyenangkan bagi para pengunjung.
Beberapa area di sepanjang jalur menuju puncak sedang dalam proses pengembangan sebagai kawasan bumi perkemahan. Lokasi ini memiliki potensi wisata yang signifikan karena menawarkan pemandangan alam yang luas. Pada hari yang cerah, pengunjung bisa melihat hamparan lampu kota atau citylight yang terbentang di kawasan Bandung dan Bandung Barat saat malam tiba.
Selain itu, area ini juga merupakan salah satu lokasi yang menarik untuk menyaksikan matahari terbit. Pemandangan pegunungan yang luas memberikan pengalaman unik bagi para pengunjung yang ingin melihat perubahan dari malam ke pagi dari ketinggian.
Habitat Hewan dan Asal Usul Nama Gunung Buleud
Gunung Buleud juga dikenal sebagai salah satu wilayah yang menjadi tempat tinggal berbagai jenis hewan liar. Salah satu contohnya adalah burung elang yang sering terlihat berburu mangsa di kawasan pegunungan ini. Keberadaan hewan predator tersebut menunjukkan bahwa ekosistem Gunung Buleud masih mampu mendukung kehidupan berbagai spesies hewan.
Di tengah semak-semak yang tumbuh di wilayah pegunungan, pengunjung juga bisa menemukan sarang burung lokal. Beberapa sarang sudah tidak berpenghuni, sedangkan beberapa lainnya masih menyimpan telur. Salah satu jenis burung yang ditemukan di kawasan ini adalah merbah cerukcuk atau trucukan dengan nama ilmiah Picnonotus goiavier.
Nama Gunung Buleud berasal dari bahasa Sunda. Kata “buleud” berarti bulat. Nama ini diduga terkait dengan bentuk gunung yang tampak bulat ketika dilihat dari jauh.
Sementara itu, Batu Nini dinamakan demikian karena dari sudut pandang tertentu, batu tersebut tampak mirip dengan sosok seorang nenek atau nini dalam bahasa Sunda. Untuk sampai ke puncak, pengunjung bisa memilih berjalan kaki melalui jalur pendakian atau menggunakan kendaraan roda dua. Bahkan lewat jalur Desa Cibodas, sepeda motor bisa mencapai area yang sangat dekat dengan puncak. Namun bagi para penggemar hiking, menjelajahi perjalanan secara perlahan sambil menikmati keindahan alam Gunung Buleud tetap menjadi pilihan utama.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang