Kisah Harjo Suseno Jatuh di Gunung Semeru Sebelum Tragedi Soe Hok Gie

Ini adalah kisah Harjo Suseno yang jatuh dari Gunung Semeru beberapa minggu sebelum kejadian yang menimpa aktivis Soe Hok Gie.…
1 Min Read 0 3

Ini adalah kisah Harjo Suseno yang jatuh dari Gunung Semeru beberapa minggu sebelum kejadian yang menimpa aktivis Soe Hok Gie.

Penulis: Harjo Suseno, tayang dalam Majalah Intisari edisi Juni 1970 dengan judul “Saja Djatuh Dilereng Gunung Semeru”

Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini.

Intisari-Online.com – Kematian aktivis Soe Hok Gie di Gunung Semeru menjadi salah satu momen kelam dalam sejarah pendakian di gunung tertinggi di Pulau Jawa. Beberapa minggu sebelum peristiwa tersebut, terjadi kejadian serupa yang menimpa Harjo Suseno. Berikut kisahnya:

***

Kami hanya berangkat berdua, saya dan seorang teman yang hobi mendaki. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada teman-teman lain bahwa kami sebagai pemuda pendaki sudah pantas menggunakan alat seperti kompas, peta, menentukan tindakan, serta siap menghadapi akibat dan bertanggung jawab dalam sebuah rencana pendakian.

Tidak hanya menyerahkan perjalanan kepada seorang pemandu atau pihak lain yang biasanya membuat sebuah tim hanya mengikuti “jalan besar” yang sudah ada.

Saya berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 25/7-69 (25 Juli 1969) bersama seorang teman: Pung.

Seperti pendakian-pendakian lainnya, kami membawa peralatan berkemah, alat memasak, peralatan dokumentasi yang diperlukan, peta, kompas, teropong, pisau, perlengkapan pertolongan pertama, serta peralatan-peralatan lainnya.mountaineeringSesederhananya. Saya menyebutnya sesederhana ini karena kami hanya mampu membawa apa yang kami miliki, yang sebenarnya jauh dari lengkap.

Sepatu yang saya kenakan hanyalah sepatu dengan sol karet bertekstur yang seharusnya digunakan sebagai sepatu kerja di lantai kasar atau tanah biasa.

Perjalanan secara singkat adalah sebagai berikut:

Tanggal 25/7-’69

Rencana utama pendakian, perlengkapan. Sekitar pukul 23.00 tiba di Surabaya dengan kereta api dari Jogja. Dengan taksi kami sampai di Malang sekitar pukul 01.00.

Tanggal 26/7-’69

Di sini kami bertanya kepada orang-orang yang kami anggap berasal dari desa mengenai jalur menuju Semeru berdasarkan pengetahuan mereka. Beberapa orang memberikan informasi, menyarankan beberapa desa sebagai titik awal pendakian.

Tidak ada yang sesuai dengan rencana kami. Kami tetap memutuskan untuk melewati wilayah Selatan: Turen.

Ternyata kondisi yang sangat menghambat perjalanan kami ketika melewati Turen menuju Semeru. Kami memutuskan untuk berpindah ke arah Timur, yaitu Dampit.

Masih menuju wilayah alur lava dan kawah Semeru. Berpindah ke arah Timur lagi yaitu Kalibening. Kami melaporkan ke kecamatan dan Koramil. Mendapatkan penjelasan bahwa lava mengarah ke Selatan, sedangkan kami berada tepat di sebelah Selatan puncak Semeru. Saat itu hari Sabtu pukul 07.30 pagi.

Malam ini menginap di desa Rawabawang yang berada di utara Kalibening untuk mengamati kondisi aliran lava pada malam hari. Kesimpulan: aliran lava bergerak ke arah Barat Daya hingga Selatan, menyebar dan melewati batas hutan. Kecepatan aliran lava sangat mengagumkan.

Tanggal 27/7-’69, Minggu

Saya pernah mengunjungi gereja di Kalibening, di mana sebagian penduduknya beragama Kristen. Dari berbagai percakapan dengan orang-orang, kami memperoleh informasi yang cukup tentangroute yang akan kami tempuh.

Keputusan: Akan berpindah ke arah Tenggara terlebih dahulu sebelum mulai mendaki. Pagi hari dimulai dengan berjalan menuju desa Kamar A di Tenggara Semeru. Beban pertama berupa persediaan makanan untuk 10 hari, masing-masing beratnya 25 Kg (tidak termasuk berat air).

Sering beristirahat. Pukul 06.00 tiba di desa Kamar A—Kebon Tawang. Pukul sembilan malam mendirikan tenda—beristirahat.

Tanggal 28/7-’69, Senin

Mengisi masing-masing 7 liter air, mulai melakukan pendakian. Pukul 11.00 tiba di batas perkebunan dan hutan, memasak nasi di sebuah keluarga kecil, hanya dengan dua buah pondok kecil di tepi hutan tersebut. Sangat terpencil.

Nama kepala keluarganya adalah Pak Djaet. Bagaimana hubungan masyarakat kecil ini dengan dokter, pasar, dan lainnya, kami hanya menghela napas saja.

Pukul 14.00 siang kami memasuki hutan. Mulai menggunakan kompas serta mengandalkan insting dalam menembus area yang sebelumnya belum pernah ada jalur yang dibuat.

Rumput liar tumbuh sangat lebat. Pohon-pohon mencapai ketinggian sekitar 10-12 meter.

Pukul 16.30 kami berhenti berjalan, telah menempuh sekitar 800 meter dengan sedikit demi sedikit bergerak ke arah Timur, kami mendirikan tenda, memasak dan sebagainya—istirahat.

Tanggal 29/7-’69, Selasa

Pukul 08.00 dimulai perjalanan. Semangat penuh, kondisi dalam keadaan baik.

Mengarungi hutan yang semakin rapat. Pohon-pohon tinggi dan lurus dengan daun-daun yang menjulang di atas. Sinar matahari sangat terbatas, semak-semak tumbuh lebat. Berjalan hingga pukul 16.00 sore, lalu membangun tenda. Udara sangat basah.

Tanggal 30/7-’69, Rabu

Pukul 08.00 kembali berjalan. Kondisi yang serupa, menemukan sungai batu dengan pasir-pasir yang basah. Mengisi ulang persediaan air minum. Berkemah di hutan kembali. Kondisi yang menyenangkan. Banyak kayu kering. Pohon-pohon sekitar 20 meter tingginya.

Tanggal 31/7-’69, Kamis

Berangkat seperti biasa. Semak-semak semakin tebal. Kami terus berjalan menuju sisi lereng Timur untuk mencari jalur pasir dari puncak.

Kali ini sangat sulit. Satu jam hanya sekitar 30/50 meter saja. Benar-benar membangun jalan dengan memotong semak-semak yang sangat lebat dan saling berkelindan tingginya sekitar dua meter.

Pohon-pohon mulai berukuran kecil, sekitar tiga hingga lima meter, cahaya masuk seperti biasanya. Lokasi yang telah kami bersihkan (semak) sebagai jalur, langsung terlihat terang.

Kira-kira pukul 14.00 kami menemukan celah sempit yang agak terbuka dari semak-semak. Kami mengikuti celah tersebut, naik dengan cepat, lalu berbelok ke kanan.

Kira-kira pukul 16.30 tiba di batas hutan dan pasir. Berhenti sejenak untuk menyiapkan makanan dan pakaian yang hangat.

±Pukul 20.00 malam bulan terlihat. Medan pasir jelas terlihat, kemiringannya antara 30 hingga 40 derajat. Sampai di lereng dengan batu besar, bermalam tanpa tenda. (melihat ke utara, menyeberangi lereng sekitar 200 meter) buka.

Tanggal 1/8-’69, Jum’at

Melintasi jalur pasir dan hujan batu selama sekitar 5 jam, akhirnya tiba di lereng Timur (batu-batu lebih stabil) dengan selamat meskipun kondisi sangat melelahkan. Beristirahat selama satu jam, lalu melanjutkan perjalanan langsung menuju puncak. Kami datang dari arah 90 derajat Timur.

Pukul 16.30 berhenti, udara sangat dingin, 4 derajat Celsius. Kami tidur dengan beberapa lapis pakaian di celah-celah batu besar yang kami temui. Tidak mungkin memasang tenda. Ketinggian sekitar 3000 meter.

Tanggal 8 Februari 1969, Sabtu. Mencapai puncak

Kami sampai di puncak (±3676 m) pada pukul 12 siang. Pukul 14 siang mulai turun ke arah utara. Beristirahat di hutan. Rumput yang tinggi, pohon-pohon pinus.mercusyrendah dan jarang, air habis.

Tanggal 3/8-’69. Minggu

Melanjutkan perjalanan melewati hutan lebat ke arah utara hingga tiba di lembah yang sempit. Mulut dan tenggorokan terasa sangat kering.

Pukul 15.00, kami mulai berjalan di sepanjang hulu sungai Aran-aran, langsung berbelok ke arah Barat (270 meter), melewati lembah sungai Aran-aran yang masih memiliki dasar pasir kering. Ketinggian sekitar 2350 M.

Pukul 16.00 menemukan lapisan lumut di sebuah tebing batu yangporeus, kami mampu menyaring air di sini. Malam terus berlangsung selama jalan masih bisa dilalui. Sungai mulai mengalir (kami tiba pukul 21.00 malam). Pukul 22.00 malam, kami turun ke air terjun pertama (sangat kecil) yang dikelilingi dinding batu tegak setinggi 6 meter. Beristirahat di tepi sungai.

Tanggal 4/8-’69, Senin

Melewati beberapa air terjun yang tingginya sekitar 5 hingga 15 meter. Kami menggunakan tali-tali ketika diperlukan. Malam itu kami tidur sangat nyenyak karena sudah sangat lelah.

Tanggal 5 Agustus 1969, Selasa. Hari jatuh

Sampai pada sebuah air terjun yang dindingnya miring tajam dan di bawahnya tegak lurus. Tali kami yang berpanjang 26 meter tidak mampu mencapai dasar air terjun tersebut.

Kami memutuskan untuk merangkak di atas dinding curam itu, menuju lokasi yang lebih cocok untuk turun. Saya berada di depan.

Saat meluncur, terpeleset dan mengalami longsoran kecil yang jatuh ke bawah, setelah melewati lereng kemudian jatuh bebas sejauh sekitar 15 meter, lalu pingsan. Pung akhirnya selamat dan memberikan pertolongan yang diperlukan. Tulang paha kanannya patah hancur, untungnya tidak ada luka pada permukaan kulit. Tenda didirikan di tepi sungai.

Tanggal 6/8-’69, Rabu

Pung berangkat mencari bantuan, saya ditinggalkan di tempat dalam keadaan sangat pusing, tidak mampu bergerak bebas karena tulang patah pada paha kanan tertimpa batang pohon cemara yang roboh saat jatuh.

Makanan yang tersisa cukup untuk satu hari ditinggalkan sepenuhnya dengan pesan agar dihemat dan diperpanjang hingga paling tidak tiga hari; sedangkan Pung tidak membawa makanan, hanya perlengkapan darurat, peta atau kompas, serta tali-tali. Saya sendiri terus tidur nyenyak hingga pagi.

Tanggal 7/8-’69, Kamis

Bangkit, merasa bimbang, pusing, kembali tidur.

Tanggal 7/8-’69, Jum’at

Makanan pertama setelah 2 hari tidak makan atau minum. 1/3 dari porsi makanan ditambah air mentah secukupnya.

Tanggal 9/8-’69, Sabtu

Makanan kedua, lagi-lagi minum air sungai sepuasnya.

Tanggal l0/8-’69, Minggu

Makan sisa makanan, mata kembali normal, tetapi masih merasa pusing, sering tidur.

Tanggal 11/8-’69, Senin

Mengukus daun-daun yang bisa dimakan yang bisa dijangkau dengan tangan dan tongkat.

Tanggal l2/8-’69, Selasa

Hanya mengonsumsi air, dengan perhitungan penghematan daun-daun yang dapat dimakan.

Tanggal 13/8-’69, Rabu

Memasak sayuran tanpa garam atau bahan rempah lainnya. Semua dalam keadaan biasa. Mata terlihat jernih, tidak merasa pusing, berpikir normal.

Tanggal 14/8-’69, Kamis

Sudah melewati waktu yang telah Pung tetapkan sendiri. Sedang menghemat daun-daunan lagi. Mulai meragukan apakah Pung berhasil atau justru mengalami kecelakaan.

Tanggal 15 Agustus 1969, Jumat. Ditemukan kembali

Merasa sangat cemas, akhirnya memutuskan untuk mencoba bergerak sendiri. Ini hari ke-10 saya ditinggalkan di air terjun tersebut. Namun ternyata setelah semua siap, kaki sangat nyeri sehingga sulit untuk digerakkan. Hanya mampu menggeser beberapa meter dari tenda. Kembali lagi, rencana awal gagal dan tetap menunggu di dalam tenda.

Pukul 17.30 sore, tiga orang membuka tenda, kemudian muncul enam orang lainnya termasuk rekan saya sendiri: Pung. Tambah lagi satu anggota Kopasgat dan seorang anggota Polisi Kehutanan. Bayangkan bagaimana perasaan saya setelah sembilan hari kelaparan dan sendirian.

Tanggal 16 Agustus 1969, Sabtu. Berangkat kembali ke rumah

Kaki yang patah diikat dengan papan kayu cemara yang dibuat secara darurat, dibungkus dengan kain-kain, lapisan terluarnya adalah kain tenda, kemudian dibawa menggunakan batang kayu cemara juga.

Setiap air terjun diturunkan menggunakan tali. Sedikit menakutkan juga. Terlebih saya sekarang dalam keadaan yang sama sekali tidak bisa bergerak.

Saat ini malam belum mampu mencapai desa. Masih sepertiga perjalanan karena beratnya medan. Rencananya besok akan menyelesaikan seluruhnya.

Saya bersama Pung dan enam orang lainnya menginap di sebuah dataran yang indah di sekitar air terjun, sisi kiri dan kanan tebing ditumbuhi pohon-pohon serta semak-semak yang menyerupai anggrek tanah. Kopasgat, Polisi Kehutanan, dan yang lainnya telah berangkat lebih dulu untuk memberi tahu mereka yang tertinggal yang menunggu di desa Magersari.

Tanggal 17 Agustus 1969, Minggu. Kembali ke peradaban

Pagi hari sekitar pukul sepuluh, dua orang dari Kopasgat datang. Setelah itu mereka pergi kembali. Kali ini banyak orang yang membantu.

Beberapa orang lainnya serta Pasgat yang dikirim terlihat. Sampai di Magersari sore hari, kemudian dilanjutkan ke Pandansari. Di lokasi yang cocok untuk kendaraan, sebuah ambulans menjemput dan langsung menuju rumah sakit (masuk ke Malang pukul 23.30 malam).

Ini adalah perjalanan pendakian terpanjang yang pernah kami lakukan. Saya sendiri awalnya memperkirakan seluruh perjalanan hanya membutuhkan tujuh hari, ternyata untuk sampai ke puncak justru memakan hari kesembilan. Dan dari tanggal 25 Juli hingga tanggal 17 Agustus tahun 1969 berlangsung selama 24 hari.

679SHARES6.5kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia