Minggu, 13 September 2026Indonesia
Kompasia
Trending

Kisah Tas Anyaman Emak-emak Desa Sepat Sragen Tembus Pasar Dunia

Oleh Pimpinan Redaksi Β· Januari 4, 2026 Β· 3 menit baca Penulis Terverifikasi
βœ“ Penulis Verified

Perajin Tas Anyaman Asal Sragen yang Sukses Menembus Pasar Internasional

Nur Handayani, seorang perajin tas anyaman dari Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, telah menjalani usaha ini sejak tahun 2000. Awalnya, ia menggunakan bahan tali strapping sebagai dasar pembuatan produk kerajinan. Kini, karyanya tidak hanya diminati di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke berbagai negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Belanda, Australia, dan Singapura.

Di rumah produksinya, Nur duduk dengan tenang sambil menganyam sebuah tas berwarna biru. Tumpukan tali strapping berada di dekatnya, menjadi bahan utama dalam proses pembuatan tas. Tangannya sangat terampil dalam menganyam, sehingga dalam waktu singkat, tas kecil tersebut hampir selesai. Di sampingnya, dua karyawan juga sedang bekerja. Salah satu dari mereka memotong tali strapping, sementara yang lain sedang memilah-milah bahan tersebut.

Ruangan itu penuh dengan berbagai jenis tas anyaman yang siap dikirim. Di ruang sebelah, tiga karyawan sedang membuat tiga model tas yang berbeda. Nur menunjukkan koleksi tas anyamannya yang beragam, baik dalam bentuk maupun warna. Beberapa tas menggunakan kombinasi tali strapping dengan bahan kulit, ada juga yang berwarna hitam putih dengan desain seperti rajutan. Tas dengan perpaduan coklat dan hitam memiliki motif persegi panjang, yang merupakan pesanan dari Australia.

Tidak hanya tas, Nur juga menciptakan sepatu dan sandal yang dipadukan dengan anyaman tali strapping. Produk-produk ini sangat unik dan menarik minat pasar ekspor.

Ekspor ke Tujuh Negara

Usaha Nur dimulai sejak tahun 2000 dengan nama merek Azalea. Awalnya, ia hanya menjual produk lokal, tetapi kemudian berkembang hingga menembus pasar internasional. Saat ini, kerajinan yang dibuat oleh emak-emak ini telah masuk ke tujuh negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Belanda, Australia, Singapura, dan Turki.

Menurut Nur, awalnya ia tidak terlalu memikirkan ekspor. Namun, setelah didatangi temannya yang menawarkan peluang untuk mengekspor hasil karyanya, ia mulai mempertimbangkan hal tersebut. Awalnya, ekspor ke Belanda tidak mudah karena masalah limbah. Akhirnya, produknya diekspor bersama produk rotan agar bisa memenuhi kuota. Pada akhirnya, tas anyaman Nur berhasil diterima di pasar luar negeri.

Ekspor pertama dilakukan ke Belanda pada tahun 2016 atau 2017. Meskipun saat ini permintaan dari Belanda tidak sebesar dulu, ekspor ke Jepang terus berjalan. Bahkan, beberapa produk khusus seperti tas belanja dan barang custom banyak diminati.

Nur juga menyebutkan bahwa di Tokyo, ada aktivis perlindungan orang utan yang membeli tasnya. Setiap pembelian satu tas, ia akan menanam satu pohon untuk reboisasi. Hal ini memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Pasar Ekspor yang Stabil

Produk yang paling diminati di pasar Korea Selatan adalah tas jali-jali. Setiap bulan, Nur menerima minimal 300 pesanan tas jali-jali ke Korea, sedangkan ke Nagoya, Jepang, jumlahnya mencapai minimal 4.000 tas per bulan.

Ekspor ke Jepang sudah berlangsung sejak sebelum pandemi pada tahun 2019. Meskipun pernah mencoba mengekspor ke Turki, permintaan tidak stabil, sehingga usaha tersebut dihentikan. Saat ini, pasar ekspor yang paling rutin adalah Jepang, Korea Selatan, dan Hongkong, dengan pengiriman dilakukan setiap minggu.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama β€œKompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

πŸ’¬ Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

β˜• Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia