Mengenal Teknologi Simbiotik: Senjata Unmul untuk Selamatkan Kolam Ikan Samarinda

Ringkasan Berita: Tim Fakultas Perikanan Unmul menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di Pokdakan Riski Mina Barokah, Samarinda Utara, guna menangani masalah…
1 Min Read 0 3
Ringkasan Berita:
  • Tim Fakultas Perikanan Unmul menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di Pokdakan Riski Mina Barokah, Samarinda Utara, guna menangani masalah tingginya angka kematian ikan yang merugikan perekonomian warga.
  • Unmul mengadopsi inovasi simbiotik guna meningkatkan kualitas air dan pakan, serta bekerja sama dengan ahli akuntansi untuk memperbaiki pengelolaan keuangan dan pemasaran kelompok tani.
  • Untuk memastikan kelangsungan program, tim Unmul menyumbangkan alat pengukur kualitas air digital yang didanai oleh Kemendiktisaintek.

KPA BERITA -, SAMARINDA –Menurunnya tingkat produksi dan angka kematian ikan yang tinggi menjadi ancaman menakutkan bagi Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Riski Mina Barokah di Jalan Meranti Talangsari, Kelurahan Tanah Merah, Samarinda Utara.

Menghadapi permasalahan ekonomi yang mengkhawatirkan bagi masyarakat, tim dosen dan mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman (Unmul) turun tangan dengan memperkenalkan “senjata rahasia” berupa teknologi simbiotik.

Melalui program pelayanan masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (BIMA) pada hari Sabtu (27/6/2026), tim Unmul memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemantauan kualitas air serta penerapan simbiotikβ€”gabungan antara probiotik dan prebiotikβ€”untuk meningkatkan kembali produksi benih ikan lokal.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Putri Anugerah, menyampaikan bahwa buruknya pengelolaan air menjadi penyebab utama menurunnya kesehatan ikan di wilayah tersebut.

“Kegiatan pengabdian masyarakat dimulai dari permasalahan yang ada, yaitu pertama adalah tingkat kematian ikan yang cukup besar. Dan hal ini menjadi salah satu penyebab menurunnya perekonomian, karena semakin banyak [ikan yang mati]. Oleh karena itu, kami hadir dengan menawarkan solusi berupa pemantauan kualitas air, karena salah satu penyebab penyakit adalah kualitas air yang tidak baik,” kata Putri.

Bagaimana Teknologi Simbiotik Bekerja?

Putri, yang juga menjadi Dosen Fakultas Perikanan Unmul, menyampaikan bahwa agenda utama mereka adalah memperkenalkan konsep simbiosis yang berkelanjutan.

Teknologi ini menggabungkan bakteri baik (probiotik) bersama dengan sumber makanannya (prebiotik).

Probiotik merupakan bakteri bermanfaat bagi ikan serta lingkungan air, sedangkan prebiotik adalah makanan yang diperlukan oleh bakteri baik tersebut. Dengan demikian, sudah tersedia sumber makanan untuk bakteri tersebut. Harapannya adalah sistem ini dapat berlangsung secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kita tidak perlu menambahkan bakteri tambahan di sana, karena bakteri tersebut sudah tersedia karena adanya makanan di dalam biotik tersebut,” tambah Putri.

Selanjutnya, ia menjelaskan fungsi nyata bakteri baik ini pada komoditas budidaya masyarakat:

Bakteri baik yang bermanfaat berarti ketika kita campurkan ke dalam pakan, yaitu mempercepat proses penyerapan makanan. Artinya nutrisi dalam pakan dapat diserap secara optimal, bukan hanya dikeluarkan melalui feses, tetapi benar-benar terserap untuk mendukung pertumbuhan. Selanjutnya, probiotik dan prebiotik ini tidak hanya digunakan sebagai pakan tetapi juga bisa diberikan ke air, sehingga diharapkan kualitas air menjadi lebih baik dengan pemberian simbiotik yang terus-menerus,” kata Putri.

Uji Lapangan dan Kerja Sama Antar Disiplin Ilmu

Untuk membuktikan keefektifan teknologi ini secara langsung di hadapan peternak, tim Unmul menyediakan demplot atau kolam uji coba khusus di wilayah kelurahan Tanah Merah.

“Untuk program ini, kita memiliki empat kolam percobaan. Dua kolam nantinya tidak diberi simbiotik, sedangkan dua lainnya akan diberi biotik, dengan harapan hasilnya lebih baik. Kami berharap demikian karena beberapa kali penelitian mengenai simbiotik ini telah dilakukan oleh dosen-dosen dan terbukti menguntungkan, tetapi apakah hasilnya sama di lapangan seperti di laboratorium? Hal itu belum pernah kita lakukan. Oleh karena itu, ini sekaligus menjadi kegiatan pengabdian dan uji lapangan,” jelasnya.

Menariknya, kegiatan pemberdayaan ini tidak hanya melibatkan ahli budidaya air (aquaculture), tetapi juga menggandeng ilmu akuntansi untuk meningkatkan pengelolaan bisnis pokdakan.

Total terdapat 6 anggota Unmul yang ditugaskan, yaitu 3 dosen dan 3 mahasiswa.

Saya sendiri, termasuk dengan anggota saya yaitu Ibu Nurhaliza dan satu anggota dari bagian akuntansi. Maka dari itu, diharapkan dari Fakultas Ekonomi ini dapat mengatur strategi di Pokdakan Riski Mina Barokah agar pemasaran dan keuangan semakin meningkat,” tambah Putri.

Bantuan Alat Pengukur Kualitas Air bagi Masyarakat

Sebagai wujud dukungan yang nyata dan berkelanjutan, pihak Unmul memberikan beberapa fasilitas pemantauan darurat dari anggaran Kemendiktisaintek (BIMA).

Alat-alat tersebut termasuk alat pengukur Total Dissolved Solid (TDS) yang digunakan untuk mengawasi partikel mineral yang larut (garam dan logam), serta alat pengukur tingkat keasaman air (pH meter).

Mengenai kekeringan air di kolam, Putri memberikan panduan praktis yang langsung diterapkan oleh warga:

“Karena kualitas air belum optimal, maka kita sediakan oksigen terlarutnya, berapa nilainya, berapa angka implementasinya, kemudian bagaimana cara mengatasi angka yang darurat. Apakah dengan mengganti air atau menggunakan air asin dan lain sebagainya, apa yang kita tawarkan kepada masyarakat hari ini. Sebanyak 25 persen kita hibahkan beberapa alat, seluruhnya kami [berkerjasama] dengan Kemendiktisaintek (BIMA),” ujar Putri.

Melalui kegiatan ini, tim Unmul berharap komunitas Pokdakan Riski Mina Barokah mampu menjadi mandiri dan pulih secara ekonomi.

Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah sehingga kisah sukses dan metode yang digunakan bisa diulang oleh kelompok budidaya ikan lainnya di Indonesia. (*)

635SHARES7.3kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia