Piala Dunia dan Budaya Basudara Memperkuat Persaudaraan di Ambon

Ringkasan Berita: Persaingan antar pendukung tim dalam Piala Dunia 2026 juga terlihat di Ambon, namun tetap diiringi suasana kekeluargaan. Fanatisme…
1 Min Read 0 2
Ringkasan Berita:
  • Persaingan antar pendukung tim dalam Piala Dunia 2026 juga terlihat di Ambon, namun tetap diiringi suasana kekeluargaan.
  • Fanatisme muncul melalui nonton bareng dan media sosial, namun tidak menimbulkan konflik akibat kekuatan nilai budaya setempat.
  • Filosofi masyarakat basudara dan pela gandong mempertahankan persaingan yang sehat serta menjadi pengikat kebersamaan.

Laporan Wartawan KOMPASIA.COM, Jenderal Louis

AMBON, KOMPASIA.COMPersaingan antara pendukung tim nasional dalam gelaran Piala Dunia 2026 tidak bisa dihindari.

Persaingan komentar di media sosial, saling meledek saat menonton bersama hingga perdebatan tentang tim terbaik menjadi pemandangan yang memperkaya perayaan sepak bola terbesar di dunia.

Namun, di Kota Ambon, sikap fanatik terhadap tim nasional dunia justru berjalan bersamaan dengan nilai-nilai persaudaraan yang sudah lama menjadi bagian dari masyarakat.

Itu disampaikan oleh Krisna Soselisa, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM),

Menurut Krisna, Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menjadi ajang pertandingan sepak bola, tetapi juga menjadi wadah sosial yang menunjukkan bagaimana masyarakat menciptakan identitas melalui tim yang mereka dukung.

“Pemilihan tim menjadi pilihan identitas yang bebas, bisa karena ketertarikan pada pemain, gaya permainan, atau romantisme sejarah. Justru karena bisa dipilih secara bebas, identitas tersebut menjadi penting untuk ditunjukkan. Ketika ada pertandingan bersama, garis ‘kami’ dan ‘mereka’ terbentuk, lengkap dengan sorakan, ejekan, dan canda yang saling membalas,” kata Krisna, Jumat (19/6/2026).

Ia menjelaskan, kejadian ini terlihat jelas di Ambon selama Piala Dunia 2026.

Meskipun diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai negara penyelenggara, antusiasme turnamen juga dirasakan hingga Maluku.

Ratusan penduduk Ambon memakai jersey dari berbagai negara seperti Belanda, Argentina, Brasil, Inggris, Jerman, Portugal hingga Spanyol saat mengikuti Ambon Color Fun Walk 2026 yang merupakan bagian dari perayaan HUT ke-451 Kota Ambon.

Di sisi lain, acara menonton bersama juga diselenggarakan di berbagai tempat, sementara pejabat setempat menunjukkan dukungan terhadap tim kesukaan mereka masing-masing.

Menurut Krisna, antusiasme menunjukkan bahwa dukungan terhadap tim nasional dunia tidak didasarkan pada kewarganegaraan, tetapi karena ikatan emosional terhadap pemain, gaya bermain, atau sejarah sebuah negara sepak bola.

Peristiwa tersebut akhirnya memicu perang penggemar, yaitu persaingan antarpendukung yang tidak hanya terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi juga berkembang pesat di media sosial.

“Perang penggemar pada akhirnya bukan tentang mencari kebenaran objektif di lapangan hijau, tetapi lebih pada menjaga harga diri bersama para pendukungnya,” tulisnya.

Krisna merujuk pada teori identitas sosial yang menyatakan bahwa ketika seseorang menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok pendukung suatu tim, secara alami muncul keinginan untuk menjaga citra baik kelompok tersebut, bahkan dengan menurunkan nilai kelompok lain.

Di era digital, selanjutnya, algoritma media sosial turut memperluas ketimpangan tersebut.

Konten yang berupa kritik, meme, maupun video yang bersifat provokatif lebih mampu menarik perhatian dibandingkan dengan konten yang bersifat netral, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya persaingan antar penggemar.

Namun, Krisna menganggap Ambon memiliki modal budaya yang mampu menjaga persaingan tetap berada dalam batas yang sehat.

“Inilah tempat di mana Ambon menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kota ini memiliki modal budaya yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yaitu pela gandong dan filsafat hidup orang basudara, keyakinan bahwa seluruh warga pada dasarnya merupakan satu keluarga besar,” tulisnya.

Menurutnya, nilai tersebut tetap bertahan selama Piala Dunia 2026.

Penggemar berbagai tim nasional bisa duduk bersama di satu tempat nonton bersama, saling melemparkan canda dan ejekan, namun tetap menjaga hubungan yang baik.

“Persaingan di Ambon dirayakan sebagai bagian dari keakraban, bukan alasan untuk saling menjauh. Di tempat lain, persaingan antar penggemar bisa berujung pada pembekuan akun atau permusuhan nyata, tetapi di Ambon lebih sering berakhir dengan duduk bersama di meja makan,” kata Krisna dalam tulisannya.

Ia menganggap tantangan terbesar di masa depan justru berasal dari derasnya arus media sosial.

Generasi muda yang terlibat dalam perang penggemar kebanyakan tidak mengalami langsung konflik sosial di Maluku, sehingga nilai kekeluargaan hanya mereka dapatkan melalui keluarga dan pendidikan.

Oleh karena itu, Krisna menekankan bahwa pengalaman Ambon selama Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa budaya populer global tidak selalu bertentangan dengan budaya setempat.

“Kisah Ambon selama Piala Dunia 2026 memberikan jawaban sementara yang menjanjikan. Budaya populer internasional dan budaya lokal ternyata tidak harus saling bertentangan. Persaingan bisa bersuara keras, tetapi persaudaraan tetap memiliki tempat yang utama dan hal itu pantas dipelihara, jauh setelah peluit akhir turnamen ini berakhir,” tutupnya.(*)

934SHARES7.8kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia