Kepri KPA BERITA – CO.ID – JAKARTA.Pemadaman listrik yang meluas (blackout) di Pulau Sumatra serta pemadaman bergilir di Pulau Jawa menjadi tanda peringatan terhadap keandalan pasokan listrik di Indonesia. Salah satu yang mendapat perhatian adalah ketersediaan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk dari segi jaringan transmisi.
Karena realisasi penambahan jaringan transmisi masih tergolong kecil atau jauh dari target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero). Direktorat Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat proyek penambahan jaringan transmisi pada tahun 2025 hanya mencapai sekitar 37% dari target RUPTL.
Koordinator Pelaksana Perencanaan dan Kebijakan Ketenagalistrikan Nasional di Direktorat Jenderal Gatrik Kementerian ESDM, Rahadian Wahyu Pradipta menyampaikan bahwa proyek transmisi yang selesai pada 2025 hanya mencapai 3.241 kilometer sirkuit (kms) dari target yang mendekati 9.000 kms. Padahal, penambahan jaringan transmisi tidak hanya diperlukan sebagai evakuasi daya dan pemenuhan beban, tetapi juga untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan PLN.
Tantangan yang sedang dihadapi saat ini adalah pelaksanaan proyek-proyek yang telah direncanakan dalam RUPTL. Bagaimana cara mempercepat pengembangan transmisi sesuai target, mengingat dalam target RUPTL telah ditetapkan kriteria-kriteria keandalan,first line of defense untuk mencegah gangguan,” kata Rahadian dalam diskusi Reformasi Jaringan Listrik Indonesia, Selasa (7/7/2026).
Rahadian menjelaskan, terdapat beberapa hambatan teknis dan non-teknis di lapangan yang menghambat penambahan jaringan transmisi listrik, antara lain terkait pengadaan lahan dan perizinan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pembangunan jaringan transmisi melalui berbagai jenis wilayah geografis, termasuk hutan lindung yang memerlukan izin khusus seperti izin penggunaan kawasan.
Ada tantangan-tantangan di lapangan yang sebelumnya saat perencanaan mungkin belum teridentifikasi. Di beberapa lokasi mengalami hambatan terkait masalah izin. Perlu hati-hati dalam menyelesaikannya, agar transmisi-transmisi dapat segera dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan dalam RUPTL,” ujar Rahadian.
Dalam keterangannya terpisah, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yang merupakan perwakilan dari kalangan konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi menegaskan bahwa jaringan transmisi bukan hanya sebagai infrastruktur pendukung, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam transformasi sistem kelistrikan nasional. Sayangnya, realisasi pembangunan jaringan transmisi tertinggal dibanding dengan peningkatan pembangkit listrik.
Kholid menyampaikan catatan, selama lima tahun terakhir (2021-2025), rata-rata pencapaian penambahan jaringan transmisi hanya sebesar 42,3% dibandingkan RUPTL. Sementara untuk tahun 2025, pencapaiannya hanya 37%. Padahal, jaringan transmisi seperti jalan tol dalam distribusi pasokan listrik.
Meskipun memiliki kapasitas pembangkit listrik yang besar, tanpa adanya jalan tol, pasokan listrik tidak akan bisa sampai ke pusat-pusat konsumsi. Pembangunan jaringan transmisi sangat penting untuk memastikan keandalan pasokan listrik, termasuk dalam rangka proses transisi energi,” ujar Kholid saat dihubungi Kepri KPA NEWS -.co.id, Selasa (7/7/2026).
Kholid juga menyoroti pembebasan lahan dan penggantian serta proses izin yang rumit menjadi hambatan utama yang tidak teknis. Secara teknis, kondisi geografis yang sulit dan keterbatasan akses terhadap lahan sertaright-of-way menghambat laju perkembangan jaringan transmisi. Selain itu, keterbatasan dana juga dapat menjadi penghalang dalam pelaksanaan proyek jaringan transmisi.
“Masalah lingkungan dan kehutanan, koordinasi dengan pemerintah daerah yang rumit, serta kondisi geografis kepulauan yang sulit menyebabkan biaya investasi infrastruktur kelistrikan di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara yang wilayahnya terhubung secara daratan,” kata Kholid.
Berdasarkan pendapat Kholid, terdapat empat hal yang harus diperhatikan agar pengembangan jaringan transmisi dapat berjalan lebih cepat.Pertama,perencanaan pembangkit tenaga dan sistem transmisi perlu dilakukan secara menyeluruh.Kedua, pentingnya penyederhanaan proses izin dan pengadaan lahan tanpa mengabaikan hak masyarakat serta perlindungan lingkungan.
Ketiga,perlu dijamin cukupnya investasi, baik melalui pendanaan PLN maupun skema pembiayaan alternatif yang tetap menjaga kepentingan nasional. Keempat, pengembangan transmisi harus difokuskan untuk memperkuat koneksi antar sistem agar lebih handal, fleksibel, dan mampu menyerap penetrasi energi terbarukan yang lebih tinggi.
Realisasi Proyek RUPTL 2025-2034
Sebelumnya, PLN mengungkapkan perkembangan proyek pembangkit dan infrastruktur ketenagalistrikan dalam RUPTL 2025-2034. Secara keseluruhan, terdapat 4.118 proyek yang mencakup pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan gardu induk. Khusus untuk jaringan transmisi, terdapat 1.240 proyek dengan rencana penambahan sepanjang 47.759 km.
Kepala PLN Darmawan Prasodjo mengatakan bahwa Kementerian ESDM telah menetapkan targetdeliveryRUPTL 2025-2034 berdasarkan kontrak kinerja yang disusun dengan mempertimbangkan perkiraan permintaan dan kebutuhan sistem ketenagalistrikan nasional. Dengan demikian, pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat lebih terarah dan sejalan.
“Kami juga melakukan percepatan, bagaimana pembangunan ini mampu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan permintaan listrik yang meningkat. Kami telah menetapkan target tahunan baik untuk transmisi, kapasitas gardu induk maupun pembangkit,” ujar Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis (2/7/2026).
Dalam jangka waktu satu tahun sejak peluncuran RUPTL 2025-2034, terdapat 1.646 proyek, atau sekitar 40%, yang telah memasuki tahap pelaksanaan. Rincianya, 1.083 proyek listrik sedang dalam proses pemilihan, 420 proyek berada di tahap konstruksi, dan 143 proyek sudah beroperasi secara komersial atauCommercial Operation Date (COD).
Dari segi penambahan jaringan transmisi, pencapaian hingga Juni 2026 tercatat sebesar 3.694 km, yang merupakan perkembangan kumulatif antara tahun 2025 dan 2026. Perkiraan hingga akhir tahun 2026, penambahan panjang transmisi bisa mencapai 4.138 km, dengan rencana penambahan sepanjang 444 km pada semester kedua ini. Jika berjalan sesuai rencana, maka realisasi penambahan transmisi akan melebihi target kumulatif, yaitu sebesar 4.051 km.
PLN telah menyusun peta jalan lelang proyek pembangkit, transmisi, dan gardu induk untuk masa 2025 hingga 2031. Pada tahun 2025, PLN telah mengadakan lelang proyek pembangkit sebesar 2,46 GW, jaringan transmisi sepanjang 2.070 km, serta gardu induk dengan kapasitas 2.190 MVA.
Pada tahun 2026, PLN baru menyelesaikan lelang sebesar 5 GW dari target yang ditetapkan sebesar 19,62 GW. Sementara itu, pelaksanaan lelang untuk transmisi telah mencapai 7.022 km dari target 9.219 km, dan pelaksanaan lelang untuk gardu induk telah mencapai 11.910 MVA dari target lelang sebesar 17.790 MVA.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Kunjungan Kerja PT MSM Tiga Matra Satria Bersama Pemda Bali, BPD Bali, dan Dishub Bali: Transformasi Pengelolaan Parkir di Pantai Kuta
- 7 Perusahaan Parkir Terbaik di Indonesia
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang