Ringkasan Berita:
- Ketua BEM Fakultas Hukum UBK, Muhammad Abdi Mauludin, mengatakan telah menerima dana sebesar Rp20 juta dari seorang petugas kepolisian yang biasa disapa “Bang Aan”.
- Menurutnya, polisi meminta mahasiswa agar tidak melakukan demonstrasi di Istana.
- Polda Metro Jaya meminta agar identitas pihak yang bersangkutan diterangkan lebih jelas.
- UBK membentuk tim penyelidikan setelah uang tersebut dibagikan kepada beberapa mahasiswa.
- Sementara Abdi mengira ada keterlibatan pihak tertentu dari kalangan senior kampus dan adanya aliran dana dari pihak lain.
KPA BERITA -, JAKARTA –Aliran dana yang diduga sebagai suap terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) UBK, Muhammad Abdi Mauludin, mulai menunjukkan tanda-tanda kejelasan.
Saya sebelumnya mengakui menerima uang sebesar Rp 20 juta dari seorang petugas polisi.
“(Terima) Dari pihak kepolisian. Nama Bang Aan berasal dari pihak kepolisian. Tidak tahu nama lengkapnya,” kata Abdi dalam kutipan dari tayangan tersebut.YouTube KPA NEWS –, Selasa (23/6/2026).
Abdi menyatakan uang tersebut diberikan oleh Bang Aan agar tidak melakukan aksi unjuk rasa di Istana Kepresidenan RI.
“Tetapi, kami tetap turun (demo),” katanya.
Saya salah satu dari 15 mahasiswa yang sempat berjumpa dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam aksi demonstrasi, Senin (15/6/2026) lalu di Istana Wapres Jakarta.
Abdi diterima oleh Gibran bersama rekan mahasiswa dari UBK, Universitas MH Thamrin, dan Universitas Terbuka.
Siapa Aan?
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengharapkan pihak yang menyampaikan tuduhan tersebut untuk menjelaskan identitas anggota polisi yang dimaksud.
“Polisi yang dimaksud ditempatkan di bagian mana dan spesifiknya di mana?” tanya Budi saat diwawancarai oleh wartawan, Rabu (24/6/2026).
“Pastikan terlebih dahulu agar tidak bingung. Bisa saja itu benar-benar polisi atau seseorang yang mengaku atau berpura-pura sebagai polisi, bukan?” katanya.
Budi menekankan bahwa penyebutan lembaga kepolisian tidak boleh dilakukan secara umum tanpa adanya identitas yang jelas.
“Polisi yang mana? Polisi memiliki 400 ribu personel, 36 Polda dan 480 Polres,” katanya.
Uang Dibagi-bagikan
Pihak Universitas UBK telah memanggil Abdimaludin.
Wakil Rektor III UBK Daniel Panda menyebutkan bahwa Abdimaludin mengakui uang tersebut diberikan pada Senin (15/6/2026) pagi sebelum pelaksanaan aksi mahasiswa yang diinisiasi oleh beberapa BEM Fakultas UBK.
“Mereka dianjurkan oleh pihak alumni tersebut untuk melakukan aksi di DPR RI. Namun hal itu ditolak oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, para mahasiswa tetap pergi ke Istana, meskipun mereka menerima uang tersebut,” lanjutnya.
Kemudian, uang tersebut dibagikan oleh Abdimaludin kepada beberapa mahasiswa lainnya yang menjadi viral di media sosial.
UBK akan melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan memanggil saksi-saksi yang diduga terlibat dan menerima uang tersebut.
“Di dalam proses ini, UBK telah membentuk tim penyelidikan. Kami memiliki Komisi Etik yang dipimpin oleh Mas Eko. Dalam proses ini kami akan melakukan pemeriksaan dan mengambil keterangan dari beberapa mahasiswa. Setelah itu kami akan memberikan sanksi,” katanya.
Ada peran senior
Abdimaludin menyampaikan hubungan antara uang sebesar Rp 20 juta yang diterimanya dengan kepentingan kalangan elit politik yang berusaha menghentikan aksi demonstrasi mahasiswa pada 15 Juni 2026.
Ia mengira kepentingan tersebut dijalankan melalui pihak-pihak senior kampusnya yang selama ini terlihat memberikan tekanan.
Namun secara bersamaan terkesan memberikan dukungan kepada gerakan mahasiswa UBK.
“Saya mengira ada aliran dana yang lebih besar dari pihak-pihak tertentu kepada mereka. Sementara sebagian dana yang kemudian diberikan kepadaku digunakan hanya untuk keperluan teknis aksi,” katanya dilaporkan.Kompas.com.
Kebutuhan teknis yang dimaksud dalam aksi tersebut meliputi pembelian minuman, makanan, dan bahan bakar untuk rekan-rekan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Sumber: KPA NEWS -/Kompas.com
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Seafood Bakar Jimbaran: Resep Rahasia Devina Hermawan!
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Fika, Direktur PT MSA, Tersangka Kasus Suap Audit BPK dengan Bupati Muara Enim, Pasok Rp500 Juta
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi Sekarang