Syekh Yusuf dan Politik Tanpa Kekuasaan Keluarga

Momentum 400 Tahun Syekh Yusuf sebagai Pembelajaran Kepemimpinan Tahun 2026 menjadi momen penting yang tidak hanya berdampak pada Sulawesi Selatan,…
1 Min Read 0 5

Momentum 400 Tahun Syekh Yusuf sebagai Pembelajaran Kepemimpinan

Tahun 2026 menjadi momen penting yang tidak hanya berdampak pada Sulawesi Selatan, tetapi juga bagi Indonesia dan dunia. Tahun ini diperingati sebagai 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari, seorang tokoh besar yang pengaruhnya melampaui batas-batas bangsa dan zaman. Peringatan ini diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan sejarah dunia yang layak dikenang dan dipelajari bersama.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa Syekh Yusuf bukan hanya milik Makassar atau Gowa, tetapi merupakan tokoh global yang jejak pemikiran, perjuangan, dan spiritualitasnya masih hidup hingga hari ini. Namun, peringatan ini tidak boleh hanya terbatas pada seremoni atau penghormatan simbolis. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk menggali kembali nilai-nilai yang diwariskannya bagi generasi masa kini.

Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang berintegritas dan semakin menguatnya kecenderungan politik berbasis kekerabatan dan dinasti, Syekh Yusuf hadir sebagai teladan yang sangat relevan. Ia mengajarkan bagaimana orang muda seharusnya mempersiapkan diri dan bagaimana sebuah masyarakat membangun sistem politik yang sehat.

Syekh Yusuf adalah bukti bahwa perubahan besar sering kali lahir dari keberanian orang muda untuk keluar dari zona nyaman. Ia lahir pada tahun 1626 di Makassar, sebuah kota yang pada masanya merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia. Makassar ketika itu adalah kota kosmopolitan yang mempertemukan berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan pemikiran dari seluruh dunia.

Kapal-kapal dagang dari Nusantara, Arab, India, Tiongkok, hingga Eropa bertemu di pelabuhan Makassar. Di lingkungan yang terbuka dan maju itulah Syekh Yusuf tumbuh. Meski lahir dalam lingkungan bangsawan Kerajaan Gowa, ia tidak memilih jalan hidup yang nyaman. Ia tidak menjadikan status sosial dan kedekatannya dengan kekuasaan sebagai sandaran utama.

Pada usia muda, ia memilih meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu. Perjalanannya membawanya menjelajahi berbagai wilayah Nusantara hingga pusat-pusat peradaban Islam dunia seperti Yaman, Makkah, Madinah, Damaskus, dan wilayah Timur Tengah lainnya. Pilihan itu menunjukkan karakter yang luar biasa. Syekh Yusuf memahami bahwa kualitas kepemimpinan tidak dibangun melalui garis keturunan, melainkan melalui proses pembelajaran, pengorbanan, pengalaman, dan pengabdian.

Ia tidak sekadar mewarisi status, tetapi membangun kapasitas dirinya melalui kerja keras dan pencarian ilmu yang panjang. Di sinilah letak pelajaran penting bagi generasi muda hari ini. Syekh Yusuf mengajarkan bahwa kehormatan tidak lahir dari nama besar keluarga, melainkan dari kualitas diri. Kepemimpinan tidak diberikan karena kedekatan dengan kekuasaan, melainkan diraih melalui kompetensi dan integritas.

Dalam bahasa modern, Syekh Yusuf sesungguhnya sedang mengajarkan prinsip meritokrasi: siapa yang terbaik, paling kompeten, dan paling siap mengabdi, dialah yang layak memimpin. Lebih dari itu, Syekh Yusuf tidak berhenti menjadi seorang alim yang hanya mengajar di ruang-ruang keagamaan. Ia adalah ulama yang sekaligus aktivis perjuangan.

Keimanan yang mendalam tidak membuatnya menjauh dari persoalan masyarakat. Sebaliknya, ilmu yang dimilikinya justru mendorongnya untuk terlibat langsung dalam perjuangan menegakkan keadilan. Ketika Kesultanan Banten menghadapi tekanan kolonialisme Belanda, Syekh Yusuf berdiri di garis depan bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia tidak hanya memberikan nasihat spiritual, tetapi ikut terlibat dalam perjuangan politik dan perlawanan terhadap penjajahan. Bahkan ketika keadaan menuntut, ia ikut mengangkat senjata melawan kolonialisme.

Karena itu, Syekh Yusuf adalah contoh nyata bahwa seorang pemimpin harus memiliki keseimbangan antara kedalaman iman, keluasan ilmu, dan keberanian bertindak. Warisan tersebut penting untuk diingat oleh generasi muda Sulawesi Selatan. Terlalu sering kita memisahkan antara intelektualitas dan aktivisme. Ada yang merasa cukup menjadi cerdas tanpa keberpihakan, ada pula yang bersemangat bergerak tanpa bekal ilmu yang memadai.

Syekh Yusuf menunjukkan bahwa keduanya harus berjalan bersama. Ilmu harus melahirkan tindakan. Keimanan harus melahirkan keberanian. Dan kepemimpinan harus menghadirkan kemaslahatan. Keteladanan lain yang sangat relevan adalah sikap Syekh Yusuf ketika menghadapi cobaan. Setelah ditangkap oleh Belanda, ia dibuang jauh dari tanah airnya. Mula-mula ke Sri Lanka, lalu ke Afrika Selatan.

Bagi banyak orang, pengasingan adalah akhir dari perjuangan. Namun bagi Syekh Yusuf, pengasingan justru menjadi ruang baru untuk menghadirkan manfaat. Di Sri Lanka maupun Afrika Selatan, ia membangun komunitas, mengajarkan ilmu, memperkuat moral masyarakat, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Hingga hari ini, namanya tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Afrika Selatan.

Bahkan Nelson Mandela pernah menyebut Syekh Yusuf sebagai salah satu inspirasi perjuangan rakyat Afrika Selatan melawan penindasan. Pelajaran yang dapat dipetik sangat jelas. Di mana pun berada, Syekh Yusuf selalu menghadirkan kemaslahatan. Ketika berada di pusat kekuasaan, ia menghadirkan manfaat. Ketika berada di medan perjuangan, ia menghadirkan manfaat. Bahkan ketika dibuang dan diasingkan, ia tetap menghadirkan manfaat. Ia tidak menghabiskan energi untuk menyalahkan keadaan, melainkan mengubah keadaan menjadi kesempatan untuk berbuat baik.

Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi refleksi bagi kehidupan politik Sulawesi Selatan saat ini. Salah satu tantangan terbesar yang masih kita hadapi adalah belum kokohnya tradisi meritokrasi dalam politik. Dalam banyak kesempatan, faktor kedekatan keluarga, jaringan kekerabatan, dan nama besar sering kali lebih menentukan dibandingkan kapasitas, rekam jejak, dan kompetensi.

Padahal sejarah Syekh Yusuf justru menunjukkan arah yang berbeda. Ia berasal dari lingkungan elite kerajaan, tetapi memilih keluar dari privilese. Ia tidak meminta posisi karena keturunan. Ia tidak membangun pengaruh karena hubungan keluarga. Ia membangun reputasi melalui ilmu, pengabdian, dan perjuangan. Ia membuktikan bahwa kualitas seseorang harus menjadi dasar utama dalam menentukan kepemimpinan.

Karena itu, penghormatan terbaik kepada Syekh Yusuf bukan hanya mengenang jasa-jasanya, melainkan menghidupkan nilai-nilai yang diwariskannya. Sulawesi Selatan, juga Indonesia membutuhkan sistem politik yang semakin terbuka bagi lahirnya pemimpin-pemimpin muda terbaik dari berbagai latar belakang. Politik harus menjadi arena kompetisi gagasan, integritas, kapasitas, dan pengabdian, bukan sekadar arena reproduksi kekuasaan keluarga atau kelompok tertentu.

Orang muda Sulawesi Selatan juga harus berani meneladani keberanian intelektual Syekh Yusuf. Berani belajar jauh, berani memperluas wawasan, berani berkompetisi secara sehat, dan berani mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan. Jangan pula bergantung pada privilese. Sebab sejarah menunjukkan bahwa tokoh terbesar Sulawesi Selatan justru lahir dari tradisi kerja keras, pengembaraan ilmu, dan pengabdian kepada masyarakat.

Empat abad setelah kelahirannya, dan ketika dunia melalui UNESCO turut mengakui warisan besarnya, pesan Syekh Yusuf tetap relevan: jangan bergantung pada nama besar keluarga, tetapi bangunlah kualitas diri. Jangan mewarisi kekuasaan, tetapi raihlah kepercayaan melalui pengabdian. Sebab Sulawesi Selatan tidak akan maju karena dinasti, melainkan karena hadirnya pemimpin-pemimpin terbaik yang lahir dari sistem yang adil, terbuka, dan meritokratis. Itulah warisan terbesar Syekh Yusuf bagi generasi muda dan masa depan politik Sulawesi Selatan, juga Indonesia.

638SHARES2.2kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan