Senin, 14 September 2026Indonesia
Kompasia
Trending

Trump Ancam Lima Negara, Amerika Ingin Ubah Dunia dengan Kekuatan Militer

Oleh Pimpinan Redaksi · Januari 11, 2026 · 3 menit baca Penulis Terverifikasi
✓ Penulis Verified

Trump Melanjutkan Langkah Agresif, Ancaman Kekuasaan Global Meningkat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus memperluas pengaruhnya di berbagai belahan dunia dengan berbagai ancaman dan tindakan yang menimbulkan kekhawatiran. Setelah operasi militer Absolute Resolve berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Trump tampaknya tidak berhenti pada tindakan tersebut. Ia terus mengambil langkah-langkah agresif yang menunjukkan ambisi kekuasaan global.

Wilayah yang Diincar oleh Trump

Beberapa wilayah kunci menjadi target utama dari kebijakan Trump. Salah satunya adalah Greenland, yang merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. AS kembali mempertimbangkan opsi militer untuk menguasai pulau ini, terutama karena posisinya strategis di kawasan Arktik. Selain itu, Greenland juga dikenal kaya akan mineral tanah jarang dan cadangan energi fosil. Dalam laporan terbaru, Trump disebut telah memerintahkan para panglima operasi khusus AS untuk menyiapkan rencana invasi ke Greenland. Hal ini memicu kegelisahan di Eropa, terutama dari Denmark dan negara-negara sekutu NATO lainnya.

Ancaman Terhadap Iran

Di kawasan Timur Tengah, Trump mengancam akan bertindak keras jika aparat Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran anti-pemerintah. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menolak mundur dan menuding demonstran sebagai perpanjangan tangan Trump. Krisis ekonomi dan ketidakpuasan politik di Iran membuat situasi semakin memanas, sementara Trump tetap bersikeras pada pendiriannya.

Tindakan Militer di Meksiko dan Nigeria

Trump juga menyatakan kemungkinan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko, menuding bahwa narkoba mengalir deras dari negara tersebut. Di Nigeria, ia mengancam akan mengizinkan serangan tambahan terhadap militan ISIS jika serangan terhadap umat Kristen terus berlanjut. Namun, motif kekerasan di Nigeria masih diperdebatkan, dengan konflik lahan, air, dan kriminalitas umum juga menjadi faktor penting.

Hubungan dengan Kolombia dan Venezuela

Hubungan AS–Kolombia sempat mereda setelah Trump menerima telepon dari Presiden Gustavo Petro. Trump menyebut percakapan itu “bernada baik” dan mengundang Petro ke Gedung Putih. Namun, sebelumnya, Trump sempat menyebut invasi ke Kolombia “terdengar bagus” dan melabeli Petro sebagai “orang sakit”. Petro menegaskan akan “mengangkat senjata” jika AS menyerang negaranya.

Sementara itu, Trump mengumumkan pembatalan gelombang serangan kedua ke Venezuela, dengan alasan adanya kerja sama dalam pembangunan kembali infrastruktur minyak dan gas. Ia menyebut Venezuela “sangat cerdas” dalam menghadapi AS setelah Maduro digulingkan.

Kekhawatiran Internasional

Analis geopolitik memperingatkan bahwa tindakan Trump dapat menciptakan kekosongan kepemimpinan yang akan segera diisi oleh kekuatan rival seperti China dan Rusia. Ketegangan di Arktik dan Amerika Latin yang dipicu oleh retorika Trump pada tahun 2025-2026 ini memaksa banyak negara untuk melakukan militerisasi mandiri dan mencari kemitraan baru di luar kendali Washington.

Dampak Jangka Panjang

Dampak jangka panjang dari kebijakan ini adalah terciptanya tatanan dunia yang lebih terfragmentasi dan militeristik, di mana hukum rimba kembali mendominasi panggung global. Krisis Greenland secara khusus menjadi simbol transisi tatanan dunia di mana kekuatan fisik dan kendali atas aset strategis (seperti mineral langka dan jalur pelayaran) dianggap lebih bernilai daripada kesetiaan diplomatik puluhan tahun, yang pada akhirnya menempatkan dunia dalam situasi ketidakpastian keamanan yang sangat tinggi.

Penolakan Internal Militer dan Reaksi Eropa

Di dalam militer AS, ada perbedaan sikap terkait rencana invasi ke Greenland. Sejumlah perwira senior dikabarkan menolak gagasan tersebut, namun penolakan itu disebut berhadapan langsung dengan dukungan dari lingkaran dekat Trump. Sementara itu, reaksi dari Eropa sangat keras. Denmark mengecam tindakan Trump dan meminta klarifikasi dari Duta Besar AS di Kopenhagen. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen secara tegas memperingatkan Washington agar tidak mencoba merebut pulau tersebut, seraya menekankan pentingnya penghormatan terhadap integritas teritorial.

Kata Kunci Terkait

Disclaimer & Kebijakan Redaksi

Kompasia.com (KPA News) berkomitmen menjalankan kegiatan jurnalistik dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber, dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi redaksi.

Independensi: Kompasia.com dan PT Komunikasi Publik Asia merupakan entitas independen dan tidak berafiliasi dengan Kompas, Kompasiana, KG Media, maupun Kompas Gramedia Group. Nama “Kompasia” digunakan sebagai identitas yang berasal dari Komunikasi Publik Asia.

Transparansi Konten: Konten pihak ketiga atau komersial dibedakan dari produk jurnalistik redaksi melalui label seperti Press Release, Advertorial, Sponsored, Opini, atau Kontributor.

Hak Jawab & Koreksi: Permohonan koreksi atau Hak Jawab dapat disampaikan ke redaksi@kompasia.com dengan menyertakan tautan artikel dan data pendukung.

Tautan eksternal dapat mengarah ke situs pihak ketiga. Kompasia.com tidak bertanggung jawab atas konten atau kebijakan situs eksternal tersebut.

💬 Komentar

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

DUKUNG PENULIS VERIFIED

☕ Traktir Kopi

Pimpinan Redaksi telah mempublikasikan 1,480 artikel. Berikan Kopi sebagai apresiasi.

Tentang Penulis

Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Lihat profil & artikel penulis
Kompasia Dikelola oleh Komunikasi Publik Asia