11 Pengalaman Kecil yang Membentuk Perfeksionisme dan Stres Saat Dewasa

KOMPASIA.COM– Studi psikologi tentang trauma masa kecil menunjukkan bahwa pengalaman menyakitkan saat kecil secara langsung memengaruhi perkembangan sifat perfeksionis pada…
1 Min Read 0 1

KOMPASIA.COM– Studi psikologi tentang trauma masa kecil menunjukkan bahwa pengalaman menyakitkan saat kecil secara langsung memengaruhi perkembangan sifat perfeksionis pada masa dewasa serta pola stres yang sulit diatasi.

Banyak orang dewasa yang mengalami tekanan berat sering kali tidak menyadari bahwa sumber perfeksionisme mereka berasal dari luka psikologis akibat pengalaman traumatis saat kecil yang belum pulih.

Pengalaman masa kecil yang penuh dengan harapan yang tidak masuk akal atau kurangnya dukungan emosional menyebabkan stres kronis yang terus berlanjut hingga masa dewasa seseorang.

Dilansir dari laman YourTangopada hari Senin (22/6), berikut sebelaspengalaman masa kecil yang bersifat psikologis trauma menghasilkan sifat perfeksionis pada masa dewasa serta stres kronis yang menghabiskan energi hidup orang dewasa setiap hari.

1. Tidak pernah merasa cukup baik menurut pandangan orang tua

Anak-anak yang terus-menerus dihukum meskipun telah berusaha sekuat tenaga berkembang dengan keyakinan bahwa harga diri mereka hanya ditentukan oleh hasil dan keberhasilan saja.

Sebagai orang dewasa, mereka cenderung tidak merayakan pencapaian sendiri dan hanya merasa lega sesaat ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, bukan rasa bangga yang tulus.

2. Mengalami penelantaran emosional pada masa kecil

Pengabaian pada masa kecil dapat membuat seseorang berkembang menjadi orang dewasa yang terlalu mandiri dan enggan meminta bantuan meskipun sangat membutuhkannya.

Keadaan ini menyebabkan mereka mengalami tekanan yang terlalu berat secara mandiri karena keyakinan mereka mengenai dunia dan orang-orang sekitar telah mengalami penyimpangan sejak awal.

3. Dibesarkan oleh orang tua yang bersifat hubungan timbal balik

Penelitian tahun 2016 menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua transaksional dan selalu menghitung jasa cenderung memperoleh masalah dengan cara yang tidak sehat.

Mereka berkembang dengan keyakinan bahwa cinta dan penghargaan hanya bisa diraih melalui tindakan serta pencapaian, bukan hanya karena kehadiran mereka sebagai diri sendiri.

4. Harus menjadi orang tua ketiga di dalam rumah

Anak-anak yang diberikan tanggung jawab berlebihan sejak awal, baik sebagai anak tertua maupun akibat dari parentifikasi, berkembang dengan sistem saraf yang terbiasa untuk selalu bersikap setia dan tekun.

Mereka kehilangan masa kanak-kanak yang sebenarnya dan kini cenderung terjebak dalam pola kemandirian berlebihan atau kecenderungan untuk memuaskan orang lain, yang berakhir pada kelelahan kronis yang terus-menerus.

5. Menghadapi ketidakstabilan dalam kehidupan rumah tangga secara terus-menerus

Anak-anak yang tinggal di tengah perceraian orang tua atau lingkungan yang tidak stabil cenderung mengalami rasa cemas dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan teman sebaya mereka.

Beberapa dari mereka berkembang menjadi orang dewasa yang sangat memprioritaskan kontrol dan ketenangan karena itulah satu-satunya cara mereka merasa aman dalam kehidupan.

6. Diberi pujian karena menjadi anak yang “sangat baik” dan tidak menyulitkan orang lain

Anak-anak yang diberi pujian karena bersifat mandiri dan tidak memerlukan banyak hal cenderung belajar bahwa kesempurnaan dan kemandirian merupakan syarat agar mereka dicintai oleh orang lain.

Pujian yang terasa menyenangkan pada masa kecil ini meninggalkan dampak negatif di masa dewasa berupa kesulitan untuk mempercayai orang lain tanpa merasa bersalah atau lemah.

7. Selalu dibandingkan dengan orang lain

Penelitian yang diterbitkan oleh Frontiers in Psychology mengungkapkan bahwa perbandingan yang terus-menerus membuat anak merasa kurang memadai dan merusak rasa percaya diri mereka secara mendalam.

Sebagai orang dewasa, mereka terus-menerus membandingkan diri dengan standar yang ditetapkan oleh orang lain dan media sosial, sehingga terjebak dalam sikap perfeksionis dan stres berkelanjutan yang tidak pernah berakhir.

8. Dihakimi berdasarkan penampilan tubuh sejak kecil

Penilaian terhadap penampilan anak, baik dari pemilihan pakaian maupun ekspresi diri, secara perlahan mengurangi rasa percaya diri yang seharusnya berkembang secara alami.

Tanpa proses pemulihan harga diri yang sungguh-sungguh, rasa tidak aman yang sudah terbentuk sejak kecil semakin dalam dan berdampak lebih besar terhadap kehidupan mereka saat dewasa.

9. Mengalami konflik yang terus-menerus dalam lingkungan rumah tangga

Anak-anak yang besar dalam lingkungan konflik yang tidak pernah terselesaikan memiliki sistem saraf yang selalu siaga dan waspada terhadap ancaman di setiap situasi.

Mereka membawa pola pikir ini ke masa dewasa berupa sikap perfeksionis dan tekanan mental yang terus-menerus karena otak mereka telah terbiasa siap menghadapi perselisihan.

10. Tidak memiliki tempat yang nyaman untuk mengekspresikan perasaan

Anak-anak yang diajarkan bahwa perasaan mereka salah atau tidak boleh dirasakan tidak akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan emosional yang baik dan bermanfaat.

Mereka berkembang menjadi orang dewasa yang tertutup, ragu dalam bersikap setia, dan mengalami kesulitan bekerja sama karena tidak pernah mempelajari cara mengelola emosi dengan baik.

11. Ditekan untuk terus membuat orang lain bahagia

Anak-anak yang merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua atau keluarga berkembang dengan keyakinan bahwa harga diri mereka ditentukan oleh sejauh mana orang lain merasa nyaman.

Pada masa dewasa, mereka mengorbankan diri sendiri agar terlihat sempurna di mata orang lain dan menyalahkan diri ketika tidak mampu memenuhi standar hubungan yang sejak awal tidak seimbang.

372SHARES3.4kVIEWS

Artikel ini bermanfaat?

Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.

Donasi Sekarang

Kata Kunci Terkait

Redaksi Kompasia