2025, Tempo Diteror Babi, Kini Floresa Dikirim Ayam Busuk, Terkait Film Pesta Babi?
Teror terhadap Jurnalis di Nusa Tenggara Timur
Setelah insiden serupa yang menimpa jurnalis Tempo dengan kepala babi pada Maret 2025, kini kantor redaksi media Floresa.co di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur kembali menjadi korban teror. Pada Jumat (5/6/2026), sejumlah jurnalis menemukan kresek berisi tiga kepala ayam busuk di depan pintu kantor. Di kafe yang berdekatan, ditemukan pula lima butir telur ayam kampung yang pecah dan berserakan di lantai.
- teror terhadap jurnalis di nusa tenggara timur setelah insiden serupa yang menimpa jurnalis tempo dengan kepala babi pada maret 2025, kini kantor redaksi media floresa.co di manggarai barat, nusa tenggara timur kembali m…
- pada jumat (5/6/2026), sejumlah jurnalis menemukan kresek berisi tiga kepala ayam busuk di depan pintu kantor.
- di kafe yang berdekatan, ditemukan pula lima butir telur ayam kampung yang pecah dan berserakan di lantai.
- peristiwa ini terjadi setelah sepekan lamanya, namun hingga saat ini belum diketahui siapa pelakunya.
Daftar Isi
Peristiwa ini terjadi setelah sepekan lamanya, namun hingga saat ini belum diketahui siapa pelakunya. Redaksi Floresa mengatakan bahwa mereka masih mencari informasi lebih lanjut tentang asal usul teror tersebut. Meski begitu, mereka tetap waspada karena insiden ini tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa.
Terkait Film “Pesta Babi”
Sebelumnya, pada 13 Mei 2026, salah satu editor Floresa menerima pesan bernada ancaman dari seseorang yang mengaku berasal dari institusi kepolisian. Orang tersebut mengirimkan data pribadi sang editor dan meminta penghapusan tiga konten media sosial yang berkaitan dengan film dokumenter Pesta Babi.
Dalam pesannya, ia menyampaikan ancaman: “Apabila dalam jangka waktu dekat konten yang dimaksud belum terhapus, maka proses akan ditingkatkan ke tahap selanjutnya.” Redaksi Floresa memilih untuk mengabaikan pesan tersebut karena ketiga konten yang dimaksud merupakan produk jurnalistik yang sah.
“Jika ada masalah, harus melalui jalur resmi,” ujar pihak redaksi. Mereka juga tidak yakin apakah kepala ayam dan telur itu benar-benar bagian dari teror. “Kami tidak memiliki CCTV, jadi sulit memastikan siapa yang membawanya,” kata mereka.
Pernyataan Redaksi Floresa
Floresa adalah media independen yang berkomitmen untuk meliput hal-hal penting, termasuk isu-isu yang mungkin membuat sebagian pihak merasa tidak nyaman. “Kami tidak akan berhenti bekerja. Kami akan terus menjalankan tugas jurnalistik karena sejak berdiri pada 2014, kami percaya bahwa mandat jurnalisme adalah melayani kepentingan publik,” demikian pernyataan resmi dari redaksi.
Kecaman dari Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI)
Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengecam keras dugaan aksi teror yang menimpa Floresa.co. Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa tindakan seperti ini tidak dapat dibenarkan dalam negara demokrasi yang menjunjung kebebasan pers.
“AMSI mengecam segala bentuk teror, intimidasi, maupun ancaman terhadap media dan jurnalis. Tindakan semacam ini adalah upaya menekan kebebasan pers dan menciptakan ketakutan agar media tidak menjalankan fungsi jurnalistik secara kritis dan independen,” ujarnya.
Menurut Wahyu, simbol-simbol seperti kepala ayam dan telur mengandung pesan intimidatif yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis terhadap jurnalis. “Teror semacam ini adalah bentuk ancaman dan pembungkaman terhadap pers. Tujuannya jelas, yakni menekan secara psikologis agar media dan jurnalis mengurangi sikap kritisnya terhadap isu-isu yang menyangkut kepentingan publik.”
Polisi Diminta Usut Tuntas
AMSI menegaskan bahwa Floresa.co adalah perusahaan pers yang sah dan anggota AMSI. Dalam menjalankan aktivitas jurnalistiknya, Floresa tunduk pada Undang-Undang Pers serta Kode Etik Jurnalistik. Oleh karena itu, setiap pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan memiliki jalur resmi, seperti hak jawab atau hak koreksi.
“Kami meminta aparat kepolisian untuk segera melakukan penyelidikan secara profesional, transparan, dan menyeluruh guna mengungkap pelaku maupun motif di balik dugaan teror tersebut,” ujar Wahyu.
AMSI juga menyoroti adanya rangkaian peristiwa yang patut menjadi perhatian. Pada 13 Mei 2026, seorang editor Floresa menerima permintaan dari seseorang yang mengaku sebagai anggota siber Polri. Orang tersebut meminta agar video terkait film Pesta Babi yang diunggah melalui media sosial Floresa diturunkan.
“Fakta bahwa sebelumnya ada permintaan penurunan konten, lalu disusul dengan dugaan teror ke kantor redaksi Floresa.co, tentu perlu menjadi perhatian serius. Aparat penegak hukum perlu mengusut tuntas peristiwa ini agar tidak menimbulkan spekulasi dan memberikan rasa aman bagi jurnalis dalam menjalankan tugasnya,” tambah Wahyu.
Kronologi Singkat Teror Kepala Babi
Pada 19 Maret 2025, sebuah paket dikirim ke kantor Tempo dan ditujukan kepada jurnalis sekaligus host siniar Bocor Alus Politik, Francisca Christy Rosana. Paket diterima oleh petugas keamanan kantor. Pada 20 Maret 2025, ketika paket dibuka, isinya ternyata kepala babi dengan kedua telinga terpotong dan mengeluarkan bau menyengat. Peristiwa ini dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap jurnalis dan kerja jurnalistik.
Beberapa hari kemudian, kantor Tempo kembali menerima teror berupa enam bangkai tikus yang telah dipenggal. Peristiwa kedua ini memperkuat dugaan adanya rangkaian intimidasi yang terarah.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Renungan Harian Katolik 14 Juni 2026 Lengkap
- Weton Ini Dikabarkan Bakal Dapat Keberuntungan Finansial Luar Biasa!
- 7 Kebiasaan Generasi Baby Boomer yang Membuat Mereka Disukai Anak Muda Menurut Psikologi
Artikel ini bermanfaat?
Dukung tim penulis dan program penggalangan dana Opini Kompasia.
Donasi SekarangShare this content:













