Peran Komunikasi Lingkungan dalam Menghadapi Masalah Sampah
Awal tahun sering kali dianggap sebagai momen untuk merancang berbagai resolusi, seperti hidup lebih rapi, sehat, atau lebih teratur. Namun, di beberapa kota, awal tahun justru ditandai dengan keadaan yang kontras, yaitu tumpukan sampah yang menyebar di berbagai titik, warga merasa khawatir, pemerintah sibuk mengatasi masalah, dan ruang publik dipenuhi keluhan.
Dalam situasi ini, perdebatan sering berfokus pada aspek teknis, seperti jumlah armada pengangkut, TPA yang penuh, atau TPST yang belum siap. Semua hal tersebut memang benar dan penting. Namun, ada satu aspek yang sering kali terlewat, meskipun sangat penting: komunikasi lingkungan. Ini mencakup bagaimana pemerintah, warga, dan pelaku lapangan saling memahami situasi, membangun kepercayaan, serta menjelaskan peran masing-masing.
Sampah tidak hanya menjadi benda yang harus diangkut, tetapi juga bisa menjadi pesan yang disampaikan. Contohnya, aksi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta yang membuang sampah ke kantor Pemkot Tangerang Selatan dapat dianggap sebagai ekspresi kekecewaan publik ketika saluran komunikasi formal dinilai tidak efektif. Sampah menjadi simbol dari masalah yang sering dibicarakan, tetapi tidak pernah mendapatkan solusi nyata.
Persoalan Antardaerah dan Kebutuhan Komunikasi Sosial
Masalah kemudian meluas ke relasi antardaerah. Uji coba pengiriman sampah dari Tangsel ke TPAS Cilowong di Kota Serang dihentikan karena penolakan warga. Kasus ini menunjukkan bahwa kerja sama lintas wilayah tidak cukup dibangun hanya melalui kesepakatan administratif. Diperlukan penerimaan sosial, yang tidak lahir dari pengumuman sepihak, tetapi dari komunikasi yang terstruktur sejak awal, agar warga merasa diajak bicara, bukan hanya diberi beban.
Di Bandung, pemerintah kota secara terbuka menyampaikan potensi penumpukan sampah sekitar 200 ton per hari akibat pengurangan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti. Yang menarik adalah pendekatan pemerintah, yang memberi ruang bagi publik untuk memahami tantangan yang dihadapi dan menyesuaikan perilaku. Dalam komunikasi lingkungan, keterbukaan seperti ini sering kali lebih efektif daripada optimisme yang mudah runtuh saat realitas di lapangan berbicara lain.
Perspektif Ilmu Komunikasi dalam Menghadapi Krisis Sampah
Dari sudut pandang ilmu komunikasi, situasi ini bisa dilihat sebagai krisis koordinasi makna. Teori Coordinated Management of Meaning (CMM) oleh W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk oleh percakapan, aturan, dan makna yang dikelola bersama. Dalam isu sampah, pemerintah berbicara dalam bahasa sistem dan kapasitas, sementara warga berbicara dalam bahasa masyarakat yang berkaitan dengan bau, kesehatan, kenyamanan, dan lingkungan. Ketika dua bahasa ini tidak bertemu, kebijakan sering kali dianggap sepihak, meskipun niatnya baik.
Teori Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari W. Timothy Coombs juga relevan. Menurut teori ini, publik menilai krisis bukan hanya dari apa yang terjadi, tetapi dari bagaimana otoritas mengakui masalah dan meresponsnya. Respons yang terlalu normatif sering kali tidak menyentuh kebutuhan publik yang paling mendesak, seperti kepastian tindakan. Warga ingin tahu hal-hal sederhana, seperti di mana mereka bisa membuang sampah hari ini, kapan sampah akan diangkut, atau alternatif jika TPS penuh. Ketika jawaban tidak konsisten, rasa kendali publik hilang, lalu muncul penolakan, aksi simbolik, dan gesekan antardaerah.
Membangun Komunikasi yang Efektif dan Partisipatif
Jika awal tahun identik dengan resolusi, maka resolusi yang paling mendesak adalah membenahi komunikasi lingkungan. Bukan komunikasi yang menggurui, melainkan komunikasi yang membumi dan bisa dipraktikkan. Beberapa prinsip sederhana bisa dijalankan, seperti menyampaikan situasi secara jujur dan rutin, memastikan satu pintu informasi yang konsisten, serta membuka dialog sebelum resistensi muncul, terutama dalam skema lintas wilayah.
Transparansi kapasitas bukan untuk menunjukkan kelemahan, tetapi untuk membangun kepercayaan bahwa masalah dihadapi bersama, bukan disembunyikan. Pada akhirnya, persoalan sampah memang bermuara pada urusan teknis, dari mulai armada, TPA, TPST, dan regulasi. Namun penerimaan kebijakan dan perubahan perilaku publik tidak pernah dimulai dari sana. Ia berangkat dari komunikasi yang masuk akal, terasa jujur, dan relevan dengan pengalaman sehari-hari warga.
Ketika percakapan publik dibangun secara konsisten dan partisipatif, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek kebijakan, melainkan bagian dari solusi. Refleksi ini sangat penting di awal tahun ini. Resolusi kebersihan tidak cukup ditulis di spanduk atau dirumuskan di ruang rapat. Refleksi itu harus hadir dalam percakapan yang manusiawi, yang mau mendengar sebelum menjelaskan, dan mau terbuka sebelum meyakinkan. Sebab kota yang bersih pada akhirnya bukan hanya soal berapa truk yang keluar masuk TPA, tetapi seberapa kuat kepercayaan dijaga agar warga dan pemerintah dapat berjalan pada arah yang sama.
🔥 Postingan Populer
- 7 Fakta Gempa Bumi di Rusia: Dari Kamchatka hingga Ancaman Tsunami
- Indonesia Luncurkan Kampanye Pariwisata Regeneratif: Dorong Lingkungan Pulih, Komunitas Bangkit
- Edukasi Sistem Parkir Wisata Non-Tunai bersama KelolaWisata.com : Solusi Digital untuk Pengelolaan Wisata Modern
- MSM Parking: Solusi Terbaik untuk Manajemen Parkir di Indonesia
- Manless Ticket Dispenser Standar Internasional: Spesifikasi Lengkap
Share this content:
