Paus Leo Hormati Martabat Migran

paus leo memberi hormat di hadapan martabat para migran 1781245702258.jpeg

Paus Leo Hormati Martabat Migran

Kunjungan Paus Leo XIV ke Pelabuhan Arguineguin

Paus Leo XIV melanjutkan rangkaian kunjungannya di Spanyol pada hari Kamis (11/06) dengan mengunjungi Pelabuhan Arguineguin di Kepulauan Kanaria. Lokasi ini telah menjadi pusat krisis migrasi besar dalam beberapa tahun terakhir, yang menarik perhatian dunia internasional.

Ringkasan Cepat
  • kunjungan paus leo xiv ke pelabuhan arguineguin paus leo xiv melanjutkan rangkaian kunjungannya di spanyol pada hari kamis (11/06) dengan mengunjungi pelabuhan arguineguin di kepulauan kanaria.
  • lokasi ini telah menjadi pusat krisis migrasi besar dalam beberapa tahun terakhir, yang menarik perhatian dunia internasional.
  • di lokasi tersebut, paus menyapa para migran dan mengecam komunitas internasional serta para pemimpin dunia, khususnya di eropa, atas cara mereka memperlakukan para migran.
  • kunjungan ini sejalan dengan tema utama lawatan paus di spanyol, yang juga mencerminkan harapan yang belum terwujud dari pendahulunya, paus fransiskus, yang selama masa pemerintahannya juga menjadikan perlindungan hak-ha…
Daftar Isi
  1. Kunjungan Paus Leo XIV ke Pelabuhan Arguineguin
  2. Pesan Paus Leo XIV
  3. Mengapa Arguineguin Disebut “Dermaga Rasa Malu”?
  4. 🔥 Postingan Populer
  5. AutoIndex: Portal Berita & Media Online

Di lokasi tersebut, Paus menyapa para migran dan mengecam komunitas internasional serta para pemimpin dunia, khususnya di Eropa, atas cara mereka memperlakukan para migran. Kunjungan ini sejalan dengan tema utama lawatan Paus di Spanyol, yang juga mencerminkan harapan yang belum terwujud dari pendahulunya, Paus Fransiskus, yang selama masa pemerintahannya juga menjadikan perlindungan hak-hak migran sebagai fokus utamanya.

Pesan Paus Leo XIV

Paus melemparkan karangan bunga ke laut untuk mengenang ribuan orang yang meninggal saat berusaha menyeberang menuju Eropa. Tindakan ini mirip dengan yang dilakukan oleh Paus Fransiskus ketika mengunjungi Lampedusa, Sisilia, pada 2013, yang merupakan wilayah lain yang juga menjadi titik krisis migrasi.

“Jangan sampai sejarah mencatat bahwa kita menganggap penderitaan mereka adalah hal yang biasa di pesisir kita,” ujarnya. “Hari ini, di tepi laut ini, setiap orang yang datang bertanya kepada kita: apa yang masih tersisa dari kemanusiaan kita?”

Ia mendesak pemerintah negara-negara asal para migran untuk memperbaiki kondisi keamanan dan ekonomi. Selain itu, ia juga meminta negara-negara transit melindungi para migran dari penyelundup dan pelaku perdagangan manusia. Namun, kritik paling tajam ditujukan kepada politisi Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir justru memperketat kebijakan migrasi di tengah tekanan dari kelompok sayap kanan.

Paus menyerukan agar Eropa mendengarkan “suara hati” mereka. Menurutnya, mereka tidak dapat mengeklaim telah menjunjung martabat manusia jika tidak peduli ketika Laut Mediterania dan Samudra Atlantik telah berubah menjadi “kuburan tanpa nisan.”

“Martabat manusia tidak mengenal paspor, dan tidak kehilangan nilainya hanya karena melintasi perbatasan,” kata Paus. Ia juga berbicara langsung kepada para migran yang berkumpul di sekitarnya. Di lokasi itu terdapat sebuah salib yang dibuat dari kayu kapal-kapal yang karam.

“Saudara-saudari migran, sebelum mengatakan hal lain kepada kalian, saya ingin menundukkan diri di hadapan martabat kalian,” kata Paus. “Kalian bukan sekadar angka atau berkas administrasi. Kalian adalah manusia yang telah meninggalkan keluarga dan rumah. Kalian memiliki impian yang tidak seorang pun berhak merendahkannya.”

Mengapa Arguineguin Disebut “Dermaga Rasa Malu”?

Terletak lebih dari 1.000 kilometer dari daratan utama Spanyol, Kepulauan Kanaria secara geografis lebih dekat ke Afrika daripada ke Eropa. Oleh karena itu, wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi titik kedatangan utama bagi para migran yang mencoba memasuki Eropa dari Afrika.

Pelabuhan Arguineguin dijuluki “dermaga rasa malu” pada 2020 setelah ribuan migran terpaksa tidur di ruang terbuka atau di bawah tenda-tenda darurat, hidup dalam kondisi yang memprihatinkan akibat lonjakan kedatangan selama pandemi. Pada 2024, lebih dari 46.000 orang tiba di kepulauan tersebut, dan menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat. Namun, setelah tercapainya sejumlah kesepakatan antara Uni Eropa, Spanyol, dan beberapa pemerintah Afrika Barat, jumlah kedatangan menurun drastis. Selama lima bulan pertama di tahun 2026, tercatat hanya lebih dari 3.000 orang yang tiba di sana.

Data proyek “Missing Migrants” atau Migran yang Hilang milik Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan sekitar 6.600 orang meninggal di jalur Atlantik dari Afrika Barat sejak pencatatan dimulai pada tahun 2014. Jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar karena minimnya informasi dan adanya fenomena “kapal karam yang tak terlihat.” Kelompok pembela hak-hak migran Spanyol, Walking Borders (Caminando Fronteras), memperkirakan lebih dari 25.000 orang meninggal atau hilang saat berusaha mencapai Kepulauan Kanaria sejak 2020.

Pada Kamis (11/06), sebuah papan nama dipasang untuk mengubah sebutan Pelabuhan Arguineguin dari “dermaga rasa malu” menjadi “dermaga harapan.”

482SHARES9.7kVIEWS
Rating Artikel: ★★★★★ (5/5 dari 1,657 ulasan)

Share this content:

8af7c997b935b7c4511af7a8f293314c8b23370a9faab25876ea06c6dd15b252?s=96&d=mm&r=g Paus Leo Hormati Martabat Migran
Author: Pimpinan Redaksi

Menulis membaca dan membagikan

Kata Kunci Terkait